Princess Pratama

Princess Pratama
Isi surat wasiat yang asli


__ADS_3

Uwak Lana yang sudah gatal ingin menyahuti ucapan Kendra pun, segera angkat suara. "Apa maksudmu dengan tidak pantas, Ken? Bukankah saat ini semua warisan itu sudah menjadi milikmu dan Tania? Lantas, kenapa kamu mengatakan tidak pantas? Di mananya tidak pantas, Ken! Coba jelaskan!" ucap Uwak Lana yang membuat Paman Kevan menatap lekat padanya.


Sementara Kendra masih saja menunduk. Menahan rasa sesak di dada dan juga buliran bening yang siap tumpah. Begitu sesak dadanya saat mendengar ucapan Uwak Lana padanya.


Haruskah Kendra menjawabnya? Sementara jawaban itu akan othor Melisa tuliskan di dalam kisah Pernikahan Rahasia Ziana?


Haruskan semua itu terbongkar sekarang? Kendra tidak bisa menjawabnya dengan lugas. Ia akan menjawab dengan ucapan yang akan membuat bingung semua keluarga istrinya.


Kendra menarik napas sesak itu dengan perlahan. Ia menoleh dan menatap pada Uwak Lana yang kini menunggu jawaban darinya.


Kendra tersenyum sendu. Ummi Mutia memegang ujung gamisnya dengan sangat erat.


"Aku merasa rendah diri, Wak. Semua harta itu bukanlah milikku. Ada hak orang lain di dalamnya. Aku sudah mengikhlaskan semua harta itu untuk Paman Kevan. Karena ku tahu, Paman Kevan lebih membutuhkannya. Tetapi karena aku tidak mengatakan apa tujuanku pada istriku, maka inilah yang terjadi." Jawab Kendra yang semakin membuat Uwak Lana bingung mendengarnya.


"Maksudnya gimana, sih? Bukankah isi surat wasiat itu mengatakan jika kamu dan Tania pemiliknya? Apakah ada pihak kedua Ken?" tanya Uwak Lana memastikan apa yang ada dipikirannya saat ini.


Jika itu benar, maka benar dugaannya. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Ziana.


Kendra tersenyum getir. Ia menoleh pada Tania dan memegang erat tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Hunny, maukah kamu menyerahkan sebagian harta warisan itu kepada yang berhak? Abang tidak bisa memilikinya. Abang akan salah jika memiliki semuanya. Ada hak orang lain disana. Jika kamu bersedia, kita bisa menjualnya kembali dan membagi sama dengan yang hak. Abang tidak mau makan hak orang lain. Hak Abang yang di wasiatkan oleh Kakek, hanya separuh saja. Bukan seluruhnya," lirih Kendra membuat Tania juga ikut bingung.


"Aku belum paham dengan ucapan Abang. Bisa aku lihat surat wasiat yang asli? Aku ingin baca dan memahami apa maksud dari surat itu. Kenapa Abang sampai mengatakan tidak pantas? Padahal semua harta itu milikmu?" tanya Tania pada Kendra yang kini menggeleng menyanggah ucapan Tania.


"Enggak Hunny. Separuh harta itu bukan hak kita. Tapi hak orang lain. Hak keturunan Paman Kevan yang kini juga sudah menikah. Di dalam surat itu dijelaskan bahwa jika keturunan Paman Kevan dan abi Kevin kelak sudah berumah tangga, maka semua harta itu menjadi milik kami. Akan tetapi, harta itu akan gugur jikalau salah satu dari saudara kembar itu membuat ulah, maka hak itu akan dialihkan ke pihak Dinas sosial. Seperti yang kamu lakukan kemarin. Maafkan abang, Hunny. Abang terlambat mengatakannya padamu.


Sebenarnya, Abang sengaja ke Singapura untuk mengambil surat wasiat yang asli itu. Dan ini dia sratnya," ucap Kendra sembari menunjukkan surat wasiat itu pada Tani yang kini ada di tangannya.


"Abang mengkopinya? Bukan mencetaknya?" tanya Tania yang diangguki oleh Kendra.


"Ya, Abang mengkopnya saja bukan mencetaknya. Dan hanya Abang yang bisa membuka brangkas itu. Dan inilah dia surat wasiatnya. Seharusnya, abang jujur padamu, Hunny. Tetapi sekarang ini sudah terlambat Makanya, Abang katakan sekali lagi padamu. Relakah kamu membagi sebagian harta itu kepada yang hak? Bukan milik kita separuh dari warisan itu, Hunny. Ada hak orang lain. Abang tidak mau dituntut saat di akhirat nanti hanya karena harta warisan. Lebih baik mengalah tetapi bahagia. Buat apa bertahan kalauu ujungnya kita terluka dan tercerai berai karena harta?"


Deg!


Deg!


Tania menatap Paman Kevan dan Kendra bergantian. "Tapi aku masih belum paham dengan yang Abang bilang. Bisakah Abang beritahu siapa pemilik yang sah selain kita berdua? Jika Abang bisa mengatakannya, mungkin aku bisa mempertimbangkannya?" ucap Tania pada Kendra yang kini tersenyum padanya.


"Tentu, hanya kamu saja yang tahu. Yang lainnya biar mereka tahu dilanjutan cerita Pernikahan rahasia Ziana yang akan dirilis othor Melisa bulan depan!" ucap Kendra yang membuat Tania dan Uwak Lana memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Ye.. Itu masih lama Abang! Kalau kamu nggak mau mengatakannya di depan mereka semua, maka bisikkan saja! Gimana?" tanya Tania yang diangguki antusias oleh Kendra.


Kendra segera berbisik di telinga Tania yang membuat tubuh pujaan hatinya itu mematung seketika. Napasnya tercekat dan sangat sesak. Sangat sukar untuk dilepaskan begitu saja.


Tania menatap lekat pada Paman Kevan yang kini menatap lekat pada Tania juga.


"Ja-jadi.. Me-mereka-,"


"Ya, merekalah orangnya. Bisa kan, ya, kamu berbagi?" potong Kendra semabti bertanya lagi Kendra pada Tania yang diangguki Tania dengan cepat dan tersenyum dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.


"Tentu, Bang. Aku akan mengurus semua ini nanti. Untuk saat ini, mari kita selesaikan masalah ini dengan Pamanmu!" ucap Tania pada Kendra sengaja menyindir paman suaminya itu.


"Baik. Seperti yang Paman tahu kalau surat wasiat itu sudah tidak berlaku saat ini. Karena kesalahan yang Paman lakukan pada istriku, membuat harta warisan itu gugur dan Paman tidak berhak untuk mendapatkanya. Akan tetapi, jikalau Paman mau bertanggung jawab tentang kasus pembunuhan berencana yang pernah Paman coba lakukan pada istriku tiga tahun yang lalu, maka aku dan istriku akan memikirkannya. Aku akan menyerahkan sebagian harta warisan ini langsung pada keturunan Paman. Bagaimana Paman? Apakah Paman bersedia?


Jikalau Paman menolak, itu terserah Paman. Tapi kita akan membuat perjanjian tertulis yang akan ditanda tangani oleh lima komandan polisi serta dua orang jenderal. Untuk apa? Untuk keselamatn istri dan keluargaku. Jika Paman kembali berulah, maka mereka bertujuh yang akan memenjarakan Paman. Bagaimana? Pilihannya ada dua? Pilih yang mana?


Bukan maksudku mendesak Paman. Aku hanya sedang memberikan jalan tengah dari masalah yang kita hadapi. Tidak baik Paman berseteru denganku dan abi hanya karena masalah wasiat. Jika Paman ingin menuntut hak, maka aku berikan. Tetapi dengan catatan, pilih salah satu dari pilihan yang aku ajukan!" tegas Kendra sengaja mendesak Pamannya itu yang kini sudah kalah sebelum berperang.


Paman Kevan tidak bisa berkutik saat Kendra menanyakan apa sebabnya mereka bermusuhan. Pertanyaan yang Kendra sendiri sudah tahu jawabannya apa. Begitupun dengan kedua orangtua Kendra.

__ADS_1


Paman Kevan menatap lekat pada Ummi Mutia dnan abi Kevin. Abi Kevin tersenyum padanya. "Ambil keputusan yang membuatmu untung dan bahagia. Jika kamu keberatan, kamu bisa menolaknya. Ingat, Van! Kita bersaudara. Kamu adikku. Kamu satu-satunya saudaraku. Jangan hanya karena dendam masa lalu, kamu sampai seperti ini padaku. Bisakah kita memulainya dari awal? Bisakah kita bersama lagi? Tetapi, sebelum itu, kamu tentukan pilihanmu. Putra kita sedang memberikan pilihan yang keduanya menguntungkan dirimu," ujar Abi Kevin menasehati saudara kembarnya itu.


__ADS_2