
Ehem, kita sambung lagi 21+ nya ye?
**
Kendra tersenyum saat merasakan lahar hangat itu mengalir di depannya dengan dirinya masih terpejam.
Ia bangkit dan membuka matanya melihat sang istri kini menghirup nafas dengan banyak dan terburu-buru.
Tania membuka kedua matanya. Untuk pertama kalinya tubuhnya merasakan reaksi berbeda. Untuk pertama kalinya Kendra menyentuhnya begitu dalam hingga dirinya meledak begitu saja.
Ia melihat ke langit-langit hotel yang kini pun di hias dengan tirai berwarna putih dan merah. Tania tersenyum dengan pipi memerah.
Sedang Kendra ia sibuk melepaskan bajunya satu persatu hingga terlepas semuanya. Tania membulatkan matnya saat melihat belalai gajah yang kini mengacung itu.
"I-itu bu-bu.."
Kendra terkekeh. Ia segera menarik selimuat dna menutup kedua tubuh mereka. Ia menatap Tania dengan lekat. Bibir itu menyunggingkan senyum manis padanya.
Tania mengerjab dengan mulut menganga. "Bu bu apa? Hem? Cup. Cup. Cup.." tanya Kendra sembari mengecup lagi putik ranum Tania yang sudah menjadi candu untuknya.
"Bu-bu.. Egghh.." lenguh Tania saat Kendra mulai beraksi lagi yang membuat tubuhnya kembali beraksi dengan cepat.
Kendra tersenyum di sela-sela aktivitasnya. Keduanya kembali terbakar gai rah hingga sudah tidak tertahankan.
Kendra memposisikan tepat dirinya di hadapan palung Surga Tania yang kini sudah siap tempur untuk menerima bibit unggul darinya sesuai dengan permintaan sang Uwak.
Mengingat itu, Kendra terkekeh dalam hati. Ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan saat menaklukkan Tania.
Tania istrinya. Ia sudha tahu dimana letak titik kelemahannya yang bisa ia gunakan di saat kondisi mereka terdesak saat ini.
Kedua nya larut dalam cumbuan hangat dan bergelora. Kendra memasuki tania dengan pelan yang membuat Tania meringis menahan sakit.
__ADS_1
Kendra berhenti. Ia menatap Tania yang kini terpejam saat merasakan benda lunak tak bertulang miliknya sedang menerobos palung surga nya.
Tania yang seorang dokter tahu akan hal itu. Tetapi tak pernah terpikirkan olehnya sangat sakit hingga rasanya seluruh tubuhnya rontok saat itu juga.
Kendra berulang kali memaksa masuk hingga ia mnggeram dan melenguh berulang kali saat merasakan pijatan lembut disana.
Tania menangis. Buliran bening itu keluar dari sudut matanya.
"Hiks.. Perih.." bisiknya di telinga Kendra yang kini memeluk tubuhnya.
Kendra hanya bisa mengangguk dan meminta maaf. "Maaf Hunny.. Untuk pertama memanglah sangat sakit. Tetapi jika sudah sering, tidak akan lagi. Egghh.." lenguh Kendra saat lagi dan lagi memkasa masuk ke dalam sana yang masih terkunci rapat itu.
"Da-darimana Abang tahu? Bu-bukannya Abang masih perjaka ya? Atau ja-jangan-jangan.. Auuwhh.. Ssstt.."
"Enggak.. Eughh.. Uwak Lana yang beritahu. Dan dia juga yang mengatakan smeua itu! Ahh.." de sah Kendra saat sesutu itu berhasil menerobos palung milik snag istri yang kini sedikit memekik tertahan.
Kendra menghela nafas berulang kali. Nafasnya memburu. Begitu pun dengan Tania. Ia terisak menahan rasa sakit di pusat tubuhnya.
"Maaf.. Abang akan pelan.. Cup." Kata Kendra lagi yang mulai menggerakkan tubuhnya.
Untuk sesaat tania melupakan jika keduanya ini sedang tidak baik. Ia ingin menghabiskan waktu ini bersama suaminya saja sebelum pernikahan keduanya terjadi.
Tania ingin egois memiliki Kendra sendiri dan seutuhnya menjadi miliknya. Tetapi itu tidak mungkin.
Lantaran Kendra yang juga akan menikah dengan sepupunya satu minggu lagi. Dan itu tidak akan di undur lagi.
Memikirkan itu membuat Tania memeluk tubuh Kendra dengan erat yang membuat Kendra semakin menggila karena tubuh keduanya saling bersentuhan.
Keduanya larut dalam gelora rindu dan asmara untuk yang pertama kalinya setelah tiga minggu pernikahan mereka.
*
__ADS_1
*
*
Dua jam kemudian kegiatan itu selesai dengan Tania yang sudah terkapar dengan mata terpejam. Kendra terkekeh melihatnya.
Ia sangat bersemangat bercocok tanam di ladang miliknya. Ia mengecupi wajah Tania dan segera merebahkan dirinya disamping Tania dengan memeluk tubuh yang masih polos itu.
Kendra mengelus-ngelus lembut perut Tania. Berharap bibit unggul miliknya secepatnya ada disana.
Papi akan membuat kalian ada disana. Papi akan berusaha terus sampai kalian hadir dna tumbuh di rahim mami. Karena kehadiran kalian berdua merupakan suatu anugerah bagi hubungan papi dan mami.
Cepat hadir Nak..
Ya Allah.. Berikanlah anugerah mu di dalam rahim istriku. Karena hanya dengan kehadiran mereka, kami bisa bersatu kembali..
Batin Kendra dengan mata yang sudah terpejam. Keduanya pun larut dalam mimpi.
Pukul dua pagi, Kendra dan Tania kompak terbangun karena bunyi alaram di ponsel keduanya.
Tania melenguh merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Sedang Kendra segera mengambil ponsel keduanya dan mematikan alaram itu.
Kendra melirik Tania yang kini juga melihatnya. "Kenapa lihatin abang segitunya?"
Tania tersenyum, "Boleh nggak aku sejenak egois ingin memilikimu seorang diri tanpa berbagi dengan yang lain??"
Deg!
Deg!
"Hunny.."
__ADS_1
"Aku ingin memiliki mu seutuhnya Bang.. Bolehkan aku egois?? Aku menginginkan mu tidak hanya sekarang. Tetapi juga untuk selamanya. Tidak bisakah kita bertahan dan berjuang bersama? Aku tidak ingin kehilangan mu.." lirih Tania dengan sendu.
Kendra segera memeluknya. "Kamu selamanya akan menjadi milikku Hunny.. Kamu istriku satu untuk selamanya. Tak ada yang lain.. Percayalah. Apapun yang aku lakukan sekarang, demi kebahagiaan kita dimasa depan. Aku tidak bisa mengatakan apa. Tetapi ingatlah ini. Kamu istriku! Sekarang atau pun nanti. Kamu milikku, Tania. Kamu Milikku!" kata Kendra yang membuat Tania menangis dan memeluk tubuh yang kini sudah menyatu dengannya setelah sekian lama.