
Ekhem, sedikit 21+ ye?
* * *
Tania meringis merasakan sakit diperutnya. Ia menghela napas berulang kali saat mengingat jika dirinya saat ini sedang berbadan dua. Berharap helaan napas tenang itu mengurangi rasa kram di perutnya.
"Huffftt... Allah.. Aku kuat. Suamiku sedang butuh aku! Sssttt.. Jangan jatuh ya, Nak. Jangan buat mami merasa bersalah pada abi kalian!" katanya bergumam sembari mengusap perut iu dengan lembut.
Tania menghela bapas lagi saat Aggam menuntunnya untuk berdiri. Ia memepah tania untuk menuju ke kamarnya.
Baru dua undakan tangga yang mereka naiki untuk mencapai ke atas, sudah terdengar raungan pilu suara Kendra.
Tania menahan sesak dada itu. Ia mengusap air mata yang terus membanjiri wajahnya. Tiba di depan pintu, ia berbicara pada Aggam.
"Kakak nggak pa-pa. Bilang pada semua, Abang iparmu sedang tertekan sedikit. Butuh waktu untuk menenangkannya. Jadi, untuk sore hingga malam hari nanti, jangan ganggu kakak. Bantu mengurus si kembar ya, Dek?" kata Tania pada Aggam yang diangguki oleh adiknya itu.
"Baik, kak. Bujuk Abang biar nggak ngamuk lagi kayak begitu kasihan dia," jawab aggam semabri melepas tangannya dari lengan tania.
Tania mengangguk lirih. Ia membuka kunci pintu kamarnya dan masuk kedalam. Meninggalkan Aggam dengan wajah datar tapi, tersirat begitu khawatir pada kedua saudaranya itu.
Ia pun berlalu untuk turun ke bawah. Dimana saat ini semua keluarga menunggu dengan cemas apa yang terjadi dengan Tania baru saja. Si kembar sudah terdiam dipelukan Uwak Ira yang kini menimangnya. Walau masih terisak sesekali, putra sulung Tania itu sudah tidak tersedu lagi.
Aggam menghela napasnya saat melihat wajah panik dan gusar dari keluarganya itu tentang kedua saudaranya yang saat ini sedang didalam kamar mereka berdua.
Sementara itu, di dalam kamar Tania.
Tania berusaha mendekati Kendra yang saat ini sedang meraung dan memukuli tubuhnya sendiri. Perut tania amsihah belum nyaman saat ini. Tetapi ia harus melakukan sesuatu untuk ayah dari kedua anak kembar serta janin yang ia kandung saat ini.
Tania menggapai tubuh Kendra bagian belakang dna memeluknya.
Deg, deg, deg, deg..
__ADS_1
Jantung keduanya berpacu dengan cepat. Kendra yang tadinya meronta, kini terpaku ditempatnya berdiri.
Tania mengelus lembut dada Kendra yang kini masih memburu. Tetapi, sudah sedikit tenang sejak sentuhan darinya. Dekapan tubuh Tania membuat tubuh Kendra tenang seketika.
Kendra berbalik dan menghadap pada Tania.
"Hunny?" panggilnya dengan mata yang sembab dan sayu.
Tania tersenyum dan mengangguk. "Ya, ini aku. Taniamu. Istrimu dan ... Obatmu, cup!" Tania mengecup putik ranum milik Kendra yang kini tersenyum padanya.
Kendra mengangkat tangannya untuk memegang pinggang ramping Tania yang lumayan padat berisi. Tania terus dan terus mengecup serta memaguut putik ranum milik suaminya itu.
Ia tidak mau berhenti. Karena Tania tahu, jika ialah obat yang Kendra butuhkan. Disaat deru napas keduanya sudah hampir habis, Tania melepaskan pagutannya dan menyatukan kedua kening mereka berdua.
Tania memegang pipi Kendra yang kini menatap padanya walau dengan dahi bersatu. Kendra mengangkat satu tangannya dan mengusap perut Tania.
"Apakah disini sudah ada bayi kita, Hunny?"
Deg!
"Jika belum? Apa yang akan abang lakukan? Dan jika sudah, apa yang akan Abangl akuakn pada buah cinta kita?" Bukannya menjawab, malah Tania balik bertanya pada Kendra.
Sementara Kendra terus mengelus perut Tania hingga membuat perutnya yang tadi kram, kini berangsur membaik. Ajaib sekali tangan hangat Kendra. Seakan janin itu tahu siapa ayahnya.
Kendra menatap lekat mata Tania. "Jika belum, akan kita cetak sampai ia ada didalam sini. Dan jika sudah, abang melarangmu untuk pergi ke Belanda besok pagi untuk menyusul adik madumu!"
Deg, deg, deg..
Tania menelan ludahnya getir. Jika belum akan dibuat lagi, jika sudah tak boleh pergi? Lantas siapa yang akna menyusul Ziana? Pikir Tania.
"Abang yang akan menyusulnya kesana bersama keluarga kita!"
__ADS_1
Deg!
Tania terkesiap saat mendengar jawaban Kendra.
Loh? Kok Abang tahu? Padahala aku 'kan cuma ngebatin? Apa batinku terdengar olehnya? Batin Tania menatap Kendra dengan tatapan menelisiknya.
"Abang tidak tahu apa isi batinmu. Tetapi abang tahu apa yang menjadi pikiranmu saat ini, Hunny!"
Lagi, Tania terkesiap saat Kendra berkata demikian. Tania menunduk untuk mengurangi gugupnya karena ketahuan oleh Kendra.
"Hunny.. Kita ini suami istri. Kenapa kamu tega nggak mau ngomong masalah keberangkatan kamu ke Belanda? Apakah suami gilamu ini tidak pantas untuk mendengar rencanamu? Kamu takut jika Abang akan berulah??" tanya Kendra yang membuat Tania secepat kilat menggeleng dan juga tangan Tania yang melambai ke kiri dan ke kanan pertanda bukan.
"Nggak, bukan itu maksudku Bang. Maksud hati ingin ngomong sama Abang nanti malam. Aku nggak pergi sendiri. Abang pun, ikut. Tapi, Abang tidak bisa ikut serta ke pulau bersamaku. Cukup aku dan Bang Aldo saja yang berangkat kesana. Abang bersama papi dan Uwak Lana akan tetap ditempat yang sudah kami pesan," lirih Tania merasa tidak enak pada Kendra.
Kendra menghela napasnya. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya. "Jangan buat Abang merasa tersisihkan, Hunny. Aku suamimu. Sudah seharusnya aku tahu tentang rencanamu agar aku tidak menjadi patung dihadapan semua keluargamu," lirih Kendra di telinga Tania yang membuat Tania kembali terisak.
"Maaf," cicit Tania yang diangguki oleh Kendra.
"Abang memaafkanmu. Lain kali jangan diulang, ya?" Tania mengangguk dalam pelukannya.
Kendra mengelus lembut kepala istrinya itu. Ia mengurai pelukannya dan mencapit dagu Tania. Mata keduanya saling bertemu. Entah siapa yang memulai, kedua putik ranum itu kembali menyatu.
Keduanya hanyut dengan gelora yang ada. Kendra yang sangat ingin menyentuh Tania sebelum pergi besok pagi, terwujud.
Keduanya sibuk mengobati luka hati karena merasa tersisihkan. Jika Kendra sakit, maka Tanialah obatnya. Seperti saat ini. Keduanya sudah menyatu mereguk manisnya madu pernikahan yang baru saja bersatu selama satu bulan lebih ini.
Besok, mereka akan berangkat ke Belanda, untuk menjemput Ziana di sebuah pulau antah berantah jauh dari kota Amsterdam sendiri.
......................
Tiga aja ye? Tapi panjang-panjang babnya. 😁🙏
__ADS_1