Princess Pratama

Princess Pratama
Gara-gara es kelapa


__ADS_3

Mendengar ucapan Tania, Kendra tersadar. Ia melirik sekitar. Benar, mereka sedang di taman. Tetapi ia tidak bisa menahan lagi keinginannya.


Dengan mata terus melihat sekitar, sementara tangannya menutupi baju Tania dan mengancingnya kembali.


Kendra tersenyum saat melihat sebuah rumah seperti rumah khusus disana. Ia pun segera menarik Tania kesana dengan terburu-buru.


Tiba disana, ia meminta karcis untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Ada surat nikahnya bang? Kak? Fotokopi pun boleh. Sebagai bukti kalian berdua suami istri." Ucap salah satu penjaga dirumah susun itu.


"Ada, saya bawa!" Jawab Kendra dengan segera menunjukkan buku nikah asli keduanya pada penjaga itu.


"Baik, silahkan masuk Kak. Bang. Ini Kuncinya."


"Terimaksih," jawab Kendra dengan segera menarik Tania amsuk ke kamar susun itu dan sangat bersih itu.


Tempat yang sediakan khusus untuk pengunjung yang ingin beristirahat dengan syarat jika mereka sepasang suami istri harus menunjukkan buktinya, buku nikah.


Dan buku nikah itu harus ditinggal disana. Sebagai jaminan nya.


Jika tidak punya, maka tidak di izinkan masuk. Kawasan itu kawasan wajib berbusana muslim dan juga khusus untuk yang mahram saja.


Kendra segera menuntun Tania menuju kamar mereka. Tiba di depan pintu kamar itu, keduanya langsung masuk setelah membuka kunci.


Kendra menutup pintu dna menguncinya. Ia kembali melanjutkan kegiatan nya yang tertunda disana tadi.


Tania tidak bisa berbicara saat di taman tadi, karena seluruh sendi nya lemas seketika ketika pertahanan dirinya runtuh akibat sentuhan sang suami di tubuhnya.


Begitu pun dengan saat ini. Ia sibuk melepas baju Tania dan mulai membuat wanitanya itu lemas bagai tak bertulang. Padahal masih di depan pintu kamar hotel itu.


Lagi, keduanya mereguk manisnya madu yang baru tadi malam mereka rasakan tapi siang ini, kembali ia rasakan lagi.


*


*


*


Pukul lima tiga puluh, baru keduanya keluar dari kamar itu. Kendra menuju resepsionis untuk mengambil buku nikah yang ia tinggal disana tadi dan juga mengembalikan kunci kamarnya.


Keduanya kembali ke tempat tadi, mereka ingin jalan-jalan di pantai sambil menikmati sunset dan juga es kelapa muda yang tersedia disana.

__ADS_1


Kendra yang kebelet ingin ke toilet menyuruh Tania lebih dulu. "Aduh! Perut Abang mulas, Hunny. Kamu duluan aja. Nanti Abang nyusul. Ya? Tak apa kan?"


Tania tersenyum, wajah itu masih terlihat pucat setelah keduanya mandi tadi. Tania yang lupa membawa bedaknya hingga sangat terlihat jelas wajahnya itu pucat sekali.


Maklum saja. Sedari tadi malam, hingga saat ini ia kurang tidur akibat ulah Kendra yang terus menggempurnya tiada henti.


Dan juga baru saja ia melakukannya lagi.


"Tak apa. Pergilah."


Kendra tersenyum dan segera menuju ke toilet. Sementara Tania melangkah kan kakinya menuju pondok es kelapa.


Tania masuk ke pondok itu dan memesannya. Untuknya dan Kendra. Seseorang melihat Tania dengan wajah terkejutnya.


Ia bangkit dari kursinya dan mendekati Tania.


"Nia?? Beneran ini Nia??" tanya nya membuat Tania berbalik dan melotot sekaligus terkejut melihatnya.


"Bang Aldo!! Ini beneran bang Aldo???" tanya Tania pula yang juga begitu terkejut saat melihat lelaki yang kini tertawa melihat reaksi Tania padanya.


"Iya, ini Abang. Kamu sedang ngapain disini?" tanya nya begitu senang saat melihat Tania.


Gadis kecil yang begitu tangguh yang pernah menyelamatkannya dari begal jalanan.


"Suami?? Kamu sudah menikah? Kok Abang nggak tahu?" jawabnya begitu terkejut.


Tania meringis melihat wajah terkejut Abang tingkatnya itu saat di sekolah di pesantrean dulu.


"Kami udah nikah, tetapi acara resepsinya belum. Masih banyak hal yang harus kamu bereskan sebelum kami mengadakan acara resepsi secara besar-besaran." Jelas Tania yang diangguki hambar oleh Aldo.


"Terus? Suami kamu mana?"


"Ada, ia sedang ke toilet. Kebelet saat jalan kesini tadi."


"Hem.. Abang nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi disini. Terakhir kali kita bertemu saat perpisahan sekolah dulu kan ya?"


Tania tertawa, "Abang benar!"


Keduanya pun larut dalam obrolan tentang jaman sekolah dulu. Hingga dari kejauhan datanglah seorang gadis dan buru-buru masuk ke pondok itu.


Ia mengambil es kelapa di tangan pramusaji itu dan membawanya ke Tania dan Aldo.

__ADS_1


"Eh kak! Itu punya pelanggan saya! Kalau kamu mau, pesan lagi!" serunya pada gadis yang kini mengetatkan rahangnya melihat Aldo sedang tertawa bersama Tania.


Byurr..


"Astaghfirullah!" pekik Tania saat merasakan es kelapa membasahi wajah serta hijabnya.


"Tania!!" seru Aldo saat melihat wajah Tania basah dengan es kelapa.


Tania menoleh pada gadis itu. Aldo pun demikian. Ia terkejut melihatnya. "Siska!! Apa yang kamu lakukan? Huh?" sentak Aldo pada gadis yang tengah marah itu.


"Dasar gadis ja laang!! Tadi masuk motel bersama pria lain! Dan sekarang duduk di pondok ini bersama pria lain! dasar mu rahan kamu!!"


Ddduuaaarr!!


"Siska!!" seru Aldo begitu marah padanya.


"Apa!! Benar kan yang aku bilang? Jika wanita tertutup hijab ini seorang ja laang? Huh?"


Aldo mengetatkan rahangnya. Begitu pun dengan Kendra yang baru masuk ke dalam pondok itu.


Ia sangat terkejut saat melihat Tania di siram es kelapa pesanan mereka hingga istrinya itu basah kuyup.


"Diam kamu!! Tania itu wanita baik-baik!"


"Heh? Baik apanya? Tadi aja masuk ke motel bersama pemuda lain dan keluar ketika sudah sore! Dan sekarang? Dia malah duduk bersama pemuda lain di pondok ini! Cih! Baju saja yang kebesaran dan tertutup! Tetapi kelakuannya tak lebih dari seorang ja laang! Aku yakin, jika mama nya pun seorang ja laang makanya menurun pada nya!"


Duuuaaarr!!


Aldo dan Kendra bertambah terkejut mendengar ucapan wanita yang entah siapa itu menurut Kendra.


Ia mendekati Tania untuk menghajar wanita bermulut kotor itu. Tetapi belum lagi ia sampai di belakang Tania, Tania sudah berdiri.


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


Deg!

__ADS_1


"Hunny!" seru Kendra segera mendekati Tania dan memeluknya dari belakang saat melihat kemarahan di wajah Tania saat ini.


Hadiahnya wey!! 🤨🤨


__ADS_2