Princess Pratama

Princess Pratama
Di ikuti


__ADS_3

Sementara Kendra dan Tania saat ini sedang galau dengan keadaan mereka, para pemburu yang ingin membunuh Tania.


Tepatnya orang suruhan paman Kevan kini sedang bergerak menuju Singapura untuk mencari titik dari lokasi terakhir tentang seseorang yang sudah membuat perusahaan Wiryawan bangkrut total.


Sebelum laptop miliknya mati tadi, ia sempat menghubungi anggotanya untuk memburu perusak yang telah berani menghancurkan perusahaan ayah nya. Almarhum Kakek Wiryawan.


Paman Kevan sengaja menghubungi pesuruh sekaligus orang kepercayaannya itu untuk memburu Tania. Karena titik terakhir dari perusak itu berada di perusahaan EAP Group di Singapura.


Saat ini para anggotanya yang berjumlah tiga puluh orang dengan wajah sangar, otot besar dna juga postur tubuh seperti algojo itu sednag bernagkat ke Singapura.


Mereka mendapat tugas untuk membawa Tania ataupun siapa pun yang terlibat di dalamnya ke markas mereka yang berada di Kalimantan untuk di habisi.


Mereka bergerak cepat kesana. Dan saat ini, mereka semua sudah berada di Singapura. Titik terakhir yang bos mereka kirimkan kini sudah tidak terlihat lagi.


"Bagaimana ini Bos? Titiknya sudah hilang. Mungkin saat kita dalam perjalanan tadi." Ucap salah satu anggotanya yang bertugas mencari titik merah yang Paman Kevan kirimkan.


Bos nya itu mendengkus. "Bodoh! Kamu pakai cara lain dong! Percuma saja lulusan IT! Kalau otak kamu itu tidak bisa digunakan!" ketusnya dengan suara menggelegar.


Sang IT itu terjingkat kaget mendengarnya. "Tapi titik yang Bos Kevan berikan sudah tidak ada tuan! Saya sudah berusaha mencarinya dengan cara lain, tetap saja. Titik terakhirnya memang disini. Di depan gedung yang saat ini kita tempati. Dan setelah saya cari lagi, ternyata bukan orang perusahaan EAP Gruop tuan!" Jelasnya lagi yang membuat snag tuan sedikit murka padanya.


"Bodoh! Awas kau!" sentaknya pada sang IT dan mulai mengutak atik tombol keybord di layar laptop miliknya itu.


Ia terus berusaha mencari. Titik, sudut dan seluruh kota Singapura ini. Tetap saja sama. Seperti yang orang suruhannya katakan tadi.


Ia mendengkus lagi. "Sial! Berarti mereka memang sengaja memalsukan titik merah itu. Atau mereka memanglah orang perusahaan EAP Group! Saya yakin! Salah satu dari mereka pasti bisa melakukan hal ini. Lebih baik untuk saat ini, kita cari saja dulu jalan lain. Kita harus mengikuti setiap pergerakan mereka. Baik itu dengan cara kita sadap semua ponsel mereka dan juga mobilnya, dan cara yang terakhir. Kita harus mengikuti kemana pun CEO nya itu bergerak.

__ADS_1


Saya percaya. Pasti semua itu suruhan CEO nya itu. Princess Pratama! Bukankah orang ini yang selalu di takuti oleh tuan besar kita?"


"Bos benar! Sebaiknya kita mulai saja dari lokasi terakhir ini. Besok, kita mulai bergerak untuk mengikuti Direktur di perusahaan mereka itu! Lihatlah! Tiga orang berbeda usia saat ini sedang menaiki sebuah mobil yang ternyata milik mereka!" tunjuknya pada teropong miliknya yang menunjukkan dimana papi Ali, mami Kinara, dan juga Gading baru saja keluar dari kantor EAP Group.


Di belakang mereka di susul oleh papi Tama dan mami Annisa. Sang Singa betina ini sangat peka dengan keadaan. Ia merasa jika saat ini mereka ada yang mengawasi.


Ia lantas mendongak ke gedung di depannya langsung menuju ke lantai lima gedung itu.


Deg!


Deg!


Salah satu orang suruhan paman Kevan itu terkejut. "B-bos.." ucapnya yang diangguki oleh Bos berbadan tegap dan berwajah sangar itu.


"Pasti itu yang sering disebut dengan PRincess Pratama. Ikuti mereka! Dan sadap mobil miliknya!" titahnya yang diangguki oleh bawahannya itu.


Demi bisa mengikuti kemana pun mobil itu pergi. Sedangkan mami Annisa, matanya tetap fokus pada lantai lima di seberang jalan sana.


"Sayang? Kenapa? Ada sesuatu?" tanya papi Tama padanya


Mami Annisa mengangguk. "Iya bang. Kayaknya kita sedang di ikuti deh! Lihat lantai lima di seberang jalan sana!" tunjuknya pada gedung bertingkat lima belas lantai itu.


"Apa kamu yakin, Sayang?"


Mami Annisa mengangguk, "Ini pasti orang suruhan dari orang tua Kendra. Mungkin mereka berhasil mendapatkan titik perusak perusahaan mereka itu."

__ADS_1


Papi Tama menghela napasnya. "Sudah, jangan terus diperhatikan! Lebih baik kamu masuk dan kita pulang. Abang tidak meragukan firasatmu. Tetapi kali ini, turuti kata Abang." Tuturnya lembut pada mami Annisa yang diangguki pasrah olehnya.


Ia menghela napas panjang. "Huffttt.. Baiklah Suamiku. Apapun untukmu," balasnya sambil tersenyum genit pada papi Tama yang membuat pria paruh baya itu tertawa dibuatnya.


"Masih nakal ya ternyata?"


"Hehehe.. Siapa dulu yang ngajarin adik kecil kamu ini jadi nakal dan genit kalau bukan pria tua yang ada disampingku ini??" balasnya lagi yang terus saja membuat papi Tama tertawa.


"Habisnya, kamu itu selalu bikin nagih Sayang! Tau sendiri, kalau Suami tua kamu ini memang sama kamu aja kan tempat berbagi kasih sayangnya?"


"Ck. Iyalah aku tahu. Kamu lelaki setia bang Tama! Tetapi tidak dengan menantu kamu itu!" ketusnya mendadak kesal memikirkan tentang suami Tania yang saat ini sedang terluka parah beserta Abang dan keponakannya.


Papi Tama hanya bisa menghela napas panjang. "Sebaiknya kita pulang Sayang. Lihat Lana dan juga Maura. Biarkan Ali dna Kinara disini yang menunggu Tania. Ia akan aman kok. Abang udah siapakan perlindungan untuk mereka semua setelah kita pulang hari ini."


"Hem, baiklah. Kerasnya batu bisa di lunakkan dengan air. Tetapi kenapa abang ku yang satu itu begitu keras kepala?" kesalnya bersungut-sungut dan segera masuk ke dalam mobil miliknya yang di ikuti oleh papi Tama yang memegangi bahunya.


Mereka di antar oleh supir untuk menuju kediaman mewah mereka. Yang tanpa mereka duga, kalau mobil mereka saat ini sedang di ikuti oleh sebuah drone kecil yang menempel di kap mobilnya bagian bawah.


Para pemburu mereka kini tersenyum menyeringai.


...****************...


Yang terakhir, mampir yuk!


__ADS_1


Jangan lupa vote Tania nya ye?


__ADS_2