
Pukul sembilan pagi Pesawat menuju ke Aceh sudah lepas landas. Uwak Lana melambiakn tangannya pada pesawat yang membawa kedua anak dan juga suami keponaknanya itu.
Ia berbalik dna menghubungi orang-orangnya yang ad adi Aceh sana. "Awasi dimana dan kemana Kendra Pergi. Jika dia dalam masalah, maka bantu dia! Singkirkan Cctv berjalan itu!" katanya pada seseorang di seberang jalan sana.
Papai Lana meninggalkan bandara sambil menghubungi papi Tama. "Anggota ikut kendra Bang. Jemput mereka di bandara. Ya, hem. Oke! Wa'alaikum salam.."
Beliau segera menuju keparkiran untuk mengambil mobilnya dan segera berlalu kembali kerumahnya.
Sedangkan Tania pagi-pagi sekali sudah bersiap. Ia berniat ingin ke pantai seorang diri menggunakan motor almarhum kakek buyutnya yang masih bagus.
Motor itu baru diantarakan oleh Kakek Hilman tadi malam. Biasanya dirinya yang memakai motor itu. Pernah dulu Kakek Yoga berpesan jika motor itu tidak boleh dijual.
Motor itu kenang-kenangan dari alamarhum Opa Gilang untuknya. Motor yang menyambung hubungan keduanya saat dulu berselisih paham karena dikira beliau almarhum ayah Emil.
"Sudah siap?" tanyaMami Annisa.
"Udah Mi. Makasih ya bekalnya. Kakak tinggal dulu." Jawabnya sambil melihat kesana kemari mencari keberadaan cinta pertamanya itu.
"Papi mana?" tanya nya lagi.
Mami Annisa tersenyum, "Ada. Papi kamu udah keluar bersama kakek Hilman tadi. Katanya ada perlu." Jawabnya sambil membereskan bekal untuk Tania makan.
"Hem.. Ya udah deh. Bilangain ke papi. Kakak mau ke batu putih bentaran ya? Sore udah pulang kok."
"Hati-hati bawa motornya!"
"Iya, Mi!" jawabnya sambil terus berlalu meninggalakan mami Annisa yang terkekeh mengingat jika papi Tama merajuk padanya pagi ini.
Tania mengendarai motor milik kakek buyutnya itu menuju ke pantai batu putih. Butuh waktu setengah jam untuk tiba ke pantai itu.
Sementara itu, Kendra yang baru saja tiba di bandara langsung saja menuju ke tempat dimana Tania berada saat ini.
Denga dibantu orang suruhan Uwak Lana, Kendra menghilang di bandara hingga membuat kedua anak itu panik.
Tetapi itu hanya sesaat. Saat melihat papi Tama ada di bandara bersama sang kakek, kedua anak itu baru bisa bernafas lega.
__ADS_1
Papi Tama sempat kebingungan mencari Kendra. Kedua anak itu pun demikian. Mereka sibuk mencari Kendra di seluruh badara tetapi yang dicari tidak terlihat sama sekali.
Lelah mencari, akhirnya papi Tama segera membawa pulang kedua bocah kembar yang sudah menangis karena kehilangan Kendra.
Uwak Lana terkekeh saat papi Tama menghubunginya dan mengatakan jika Kendra menghilang. Iamalah ikut-ikutan panik yang di tepuk kuat oleh mami Maura karena kelakuan anehnya itu.
Ia hanya bisa mengikuti alur yang sednag ia buat dna Kendra perankan saat ini. Setelah Ia menadapatkan pesan dari Kendra, baru ia bisa mengatakannya.
Ataupun Kendra sendiri yang mengatakannya.
*
*
*
Satu kjam kemudian, waktu dhuhur pun tiba. Tania yang sudah bergegas ingin pulang pun segera bersiap. Tetapi belum lagi ia memegang stang kemudi motornya, ia sudah pingsan terlebih dahulu karena di bekap dari belakang di mulutnya.
Tania jatuh pingsan di pelukan seseorang. Semenara orang itu segera membawanya ke hotel terdekat yang dekat dengan kawasan pantai.
"Baik tuan," jawabnya dengan segera berlalu dan meninggalkan tepian pantai yang sunyi itu.
Orang itu stersenyum smirk melihat Tania yang kini sudah berhasil ia bawa.
"Misi selesai!"
"Hahahaha.. Bagus! Selamat bersenang-senang!"
"Tentu!"
"Hahahhaha.. Berhasil juga ternyata!" ucap orang itu yang disambut gelak tawa oleh sang istri disampingnya karena ide gila dari sang suami.
*
*
__ADS_1
Sore harinya.
Mami Annisa berjalan mondar mandir karena papi Tama belum juga pulang dari pantai batu putih untuk menyusul Tania.
Tania dikabarkan hilang oleh orang pantai yang tadi siang bertemu dengannya. Orang itu pergi untuk pulang sebentar ingin sholat.
Tetapi ketika ia kembai, ia jadi panik sendiri karena melihat Tania yang sudah tidak berada disana.
Mami Annisa panik bukan main. Ia sempat Histeris mendapatkan kabar dari penjaga pantai yang merupakan kenalan nya juga itu. Papi tama bergegas menuju kesana untuk mencari Tania yang menghilang bagai di telan bumi.
Mami Annisa masih panik dna sangat cemas. Si kembar Malik dan Ziana sudah menangis mengingat kedua orang itu hilang bersamaan.
"Kemana kamu, Nak? Apakah terjadi sesuatu?? Angkat Pi, telponnya!" serunya panik masih dengan memegang ponsel mendial berulang kali nomor Papi Tama yang tidak kunjung dijawab.
Ia berjalan kesana kemari untuk menghilangkan rasa khawatir itu. Tetap saja. Ia masih khawatir dan bertambah cemas kala ponsel papi Tamaa kini sudah tidak aktif lagi.
Ia mengais tersedu di depan pintu rumahnya mengingat Tania dan Suaminya.
Sementara di tepi pantai batu putih sana, papi Tama sedang menyisir keseluruhan tepi pantai itu ditemani sepupu Mami Annisa. Anaknya pakde Hilman dan juga yang lainnya.
Mereka terus mencari dan bertanya. Tetap saja tidak ada yang bisa mereka tanyai disana.
Karena tempat yang Tania datangi memanglah sepi. Walau ada penjaga pondoknya, pantai itu tetap sepi.
Papi Tama curiga, jika Tania saat ini di culik.
"Di culik Bang?" tanya sepupu mami Annisa yang bernama Adi itu.
"Bisa jadi. Lihatlah sekitar pantai ini. Begitu sunyi dan sepi. Tak ada seorang pun disini saat ini. Ingin bertanya, tak ada orangnya. Kita harus tanya siapa? Lihat itu!"
"Jejak ban mobil?"
"Ya! Itu tandanya kalau Tania saat ini menghialng karean di culik!" yakin Papi Tama saatmelihat jejak ban mobil di sana.
"Diculik? Siapa yang ingin culik Tania Bang?"
__ADS_1
"Itulah yang aku tidak tahu. Yang jelas, Tania menghialng karena di culik tadi siang!"