
Sepeninggalnya dokter dan juga petugas Hotel, Ummi Alzana mendekati Zayn dan Zayden. Beliau juga seorang dokter. Ummi Alzana memeriksa burung puyuh milik menantunya itu satu persatu.
Beliau menghela napas panjang. Abi Prince mendekatinya, "Kenapa? Apa sangat parah?" tanya Abi Prince yang diangguki oleh Ummi Alzana.
"Ya, bahkan lebih buruk!" jawabnya yang membuat Riya dan Jia menangis tersedu di leher keduanya.
"Lantas, bagaimana keadaan keduanya saat ini? Apakah harus kita bawa ke rumah sakit malam ini juga? Butuh waktu, loh, untuk kita tiba di kota. Mana udah malam lagi." Ucap Abi Prince yang kini menjatuhkan dirinya di sofa di kamar Jia.
Ummi Alzana ikut duduk di sampingnya. "Mau tak mau, kita harus keluar malam ini juga. Ini demi masa depan keduanya. Jangan sampai apa yang Abang alami dulunya, kembali pada mereka. Lebih cepat, lebih baik!"
Abi Prince menghela napasnya. "Baiklah, malam ini juga kita ke rumah sakit. Dan kalian berdua, bersiaplah! Kita harus pulang malam ini juga! Suami kalian harus di rawat di rumah sakit! Ck. Beruntungnya abi sama ummi kamu sudah pulang? Kalau tidak? Apa yang akan terjadi pada suami kalian? Bukankah abi sudah sering memberi arahan kalau mati lampu lagi, apa yang harus kalian lakukan?" ucap Abi Prince yang membuat kedua putrinya itu semakin tersedu-sedu.
"Jika sudah seperti ini, siapa yang harus abi salahkan? Apakah abi? Dokter yang selama ini menangani depresi kalian berdua? Ck! Kenapa kita harus memiliki masa lalu yang kelam, sih, Hunny?" gerutu Abi Prince segera keluar menuju resepsionis dan akan melakukan chek out.
Tinggallah Ummi Alzana dan kedua putrinya yang kini terus tersedu sambil mengurusi suami mereka.
__ADS_1
"Kenapa harus terulang lagi? Apakah kalian berdua harus ketergantungan dengan obat lagi seperti yang sudah-sudah, begitu?"
Ucapan Ummi Alzana membuat kedua wanita itu terdiam membisu sembari memakaikan celana di tubuh suami mereka.
"Katakan! Apa yang akan kalian lakukan saat ini? Jika sudah seperti ini, apa yang bisa ummi lakukan selain harus mengoperasi burung puyuh keduanya? Kalian mau dirinya tidak bisa memberikan keturunan?"
Deg.
Deg.
"Kendalikan rasa takut itu. Seharusnya, jika suami kalian ada bersama kalian, bukannya seperti ini! Jikalau sudah seperti ini, kalian berdua yang harus tanggung resikonya! Sudah ummi peringatkan berulang kali! Kendalikan rasa takut itu! Akan tetapi, apa yang kalian lakukan? Kalian tidak menuruti apa kata ummi! Lihat sekarang, buah dari perbuatan kalian berdua! Jika keduanya masih sembuh dan normal, itu tidak masalah. Tetapi, jika dokter mengatakan hal yang lebih buruk lagi, kalian berdua harus bersiap untuk di madu oleh keduanya!"
Dduuaar!
"Tidak!!!" teriak keduanya sembari memeluk erat-erat tubuh Zayn dan Zayden yang kini sudah sadar kembali.
__ADS_1
"Beruntungnya ummi dan Abi cepat kesini. Seandainya kami tadi langsung pulang ke rumah, apa yang akan terjadi dengan suami kalian?! Ummi benar-benar kecewa! Cepat siapkan semuanya! Abi kalian sudah menyewa tandu untuk mengangkut kedua suami kalian!" katanya dengan dingin yang membuat kedua istri Zayn dan Zayden itu semakin menangis pilu.
Zayn dan Zayden tidak berkata sepatah katapun. Keduanya baru tahu jika istri mereka memiliki trauma tentang mati lampu.
Ya, allah.. Ampuni aku. Aku tak berniat membuatnya takut, tadi. Aku hanya ingin memeluknya, itu saja.
Batin Zayn merasa bersalah pada keadaan istrinya saat ini.
Bahkan sebagai suami, aku tidak tahu jika istriku memiliki trauma seberat ini. Suami macam apa aku ini?
Batin Zayden pun ikut berbicara. Keduanya memilih diam karena tidak tahu harus berkata apa saat ini. Kejadian yang terjadi baru saja, membuat keduanya begitu terkejut. Saking terkejutnya, keduanya sampai pingsan.
Pukul sebelas malam, ke enam orang itu pulang dengan menggunkan mobil milik Abi Prince. Beliau sendiri yang menjadi supir. Ada Ummi Alzana di samping kemudi.
Zayn dan Jia di tengah. Sementara Zayden dan Riya berada di belakang. Kedua istri itu terus memeluk suami mereka dengan erat yang tidak dibalas sama sekali oleh keduanya.
__ADS_1