
Sehabis sholat subuh berjamaah di mesjid komplek perumahan itu, Gading dan Kendra serta papi Ali masuk keruang kerja Uwak Lana dimana istri mereka sudah menunggu disana untuk mendengar berita penting dari Gading.
Putra sulung Papi Ali dan Mami Kinara.
"Ceritakan apa yang kamu dengar Bang!" titah Uwak Lana pada Gading yang diangguki olehnya.
Gading terkekeh kala mengingat ucapan kedua orang tua kendra, Abang iparnya. Ia menggelengkan kepalnya.
Pemuda tampan berusia sebaya Malda itu terkekeh kecil sambil menatap Kendra yang kini kebingungan melihatnya.
"Kenapa Ga?" tanya Kendra semakin penasaran padanya.
Pemuda tanggung itu berdehem, "Tadi saat mau masuk dan mengucapkan salam, Abang mendengar bisikan kedua orang itu," Ia terkekeh sambil melirik Kendra yang kini juga sedang melihatnya.
"Mereka mengatakan jika Uwak adalah pemegang saham terbesar di perusahaan papi Tama dan mami Annisa yang ada di Singapura. Dan pemimpinnya itu seorang perempuan yang berjulukan Princess Pratama. Dan mereka menduga, jika Princess Pratama itu adalah satu dari dalam keluarga Uwak ini. Yang merupakan keturunan langsung keluarga Bhaskara!
Deg!
Deg!
"Apa?" seru mami Kinara sedikit keras.
Gading mendekati mami sambungnya itu. Ia terkekeh lagi. "Sabar dulu ih mami! Abang belum selesai ngomong loh.."
Ia terkekeh lagi saat melihat wajah merengut sang mami padanya. Uwak Lana, dan Papi Ali pun ikut terkekeh.
"Terus?" tanya Uwak Maura padanya lagi.
Gading mengangguk, "terus katanya nih. Mereka sengaja menikahkan Bang Kendra dengan Ziana untuk mempertahankan posisi mereka agar kuat jika suatu saat kedua abang tiri bang Kendra ingin menjatuhkan keduanya karena perusahan colaps atau apapun itu." Jelas Gading yang diangguki oleh Uwak Lana dan Papi Ali.
__ADS_1
"Hem.. Ini ternyata rencana mereka? Bagaimana Ken? Kamu tetap lanjut? Ingin menikahi Putri Uwak?"
Kendra terdiam sebentar. "Tak ada cara lain wak. Hanya saja.. Aku kasihan dengan Ziana. Masa' di umurnya yang masih muda sudah menyandang gelar istri dan janda dalam waktu bersamaan sih?"
Uwak Lana menghela nafasnya. "Ini sudah resiko Ken.. Demi kamu dan Tania. Uwak rela berkorban apapun itu. Dan adik mu pun sudah setuju bukan?"
"Iya sih. Tapi kalau bisa tidak usah menikahinya kenapa? Buat pernikahan palsu gitu?" ucap Kendra yang di tertawakan oleh Papi Ali.
"Gimana ceritanya pernikahan palsu Kendra. Jika palsu, kamu tidak bisa masuk ke dalam sarang singa itu. Kamu tidak bisa mencari bukti dimana ayah kandung kamu yang saat ini di kurung oleh saudara kembarnya si kain Kavan itu!"
Mami Kinara dan Gading tertawa. Kendra, Uwak Lana, dan Uwak Maura terkekeh.
"Iya sih Pi. Tapi aku kasihan Ziana nya. Kalau aku sudah menceraikannya nanti, siapa pula yang mau menerimanya dengan tulus? Yang tidak memandangnya jika ia gadis yang baik bukan gadis buruk karena menikah di usia yang sangat muda?"
Ke lima orang itu tertegun dengan ucapan Kendra. Tak lama setelahnya papi Ali tersenyum.
Ia ditugaskan berdiri disana. Mami Kinara yang penasaran segera melihat kemana arah mata papi Ali.
Ia mengernyitkan dahinya saat melihat tidak ada siapapun disana. Lantas? Papi Ali tersenyum melihat siapa?? Pikir mami Kinara sedikit bingung.
Kendra menghela nafasnya. "Maafkan aku wak. Aku terpaksa mengatakan semua ini sama Uwak dan keluarga. Karena aku bingung ingin ngomong sama siapa lagi. Waktu ku tidak banyak. Terlambat sedikit saja, maka perusahaan Almarhum kakek akan jatuh ke tangan paman Kevan. Entah apa yang terjadi dengan Ummi, hingga ia tidak bisa membedakan yang mana Abi dan mana yang bukan."
"Jangan salahkan Ummi mu, Nak. Bahkan kamu sendiri pun tidak mengetahuinya. Jika bukan asisten setia mu itu yang mendapatkan bukti itu, pastilah kamu tidak akan tahu sampai kapanpun. Hanya saja, Uwak kepikiran Tania yang saat ini berada di Singapura sana.
Sanggup tidak, dia menghadapi musuh dalam selimut yang selalu berada di sekitarnya. Tania orang baru. Baru pertama kali kesana. Walau ada kedua orang tuanya yang sangat tahu seluk beluk itu, tetap saja. Uwak khawatir.
Setelah pernikahan mu dan Ziana, Uwak harus bertolak ke Singapura demi memantau keadaannya. Kamu tetap disini bersama yang lainnya.
Uwak dan Gading yang akan kesana nanti!"
__ADS_1
Kendra mengangguk patuh. Mami Kinara merengut, "Kenapa harus putraku sih Bang? Nggak ada orang lain gitu??" ketusnya sedikit kesal.
Gading terkekeh, "Jangan ngomong gitu dong mami ku yang cantik dan baik hati.."
"Heleh! Gombal!"
Gading terkekeh lagi. "Mami 'kan tahu. Kalau hanya Abang yang selalu diandalkan papi sama mami Annisa untuk perusahaan nya??"
Mami Kinara berdecak. "Iya mami tahu. Tapi mami khawatir jika penyakitmu itu kambuh, sayang! Gimana sih?" kesalnya pada Gading yang kini sudah memeluknya dengan erat.
"Nggak akan mami.. Abang janji!"
"Nggak!"
"Mami.." pintanya dengan wajah memelas.
Mami Kinara melengos. Gading memeluk erat dirinya yang dibalas juga oleh Mami Kinara dengan erat padanya.
Uwak Lana hanya bisa menghela nafasnya. "Biarkan Gading ikut Abang, Dek! Kamu kan tahu jika tanpa Gading, maka perusahan kakak kembar kamu itu tidak akan pernah maju?"
Mami Kinara tetap diam. Ia belum bisa melepas Gading ke Singapura lagi. Mengingat terakhir kali ia ke Singapura, Gading sempat kambuh penyakitnya.
Padahal kenyataan nya bukan karena hal itu. Ada hal lain yang tidak bisa mereka ceritakan kepada mereka semua.
...****************...
Mampir yuk kesini!
__ADS_1