Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Kedatangan Mariyam


__ADS_3

Ucapan Oma Annisa merupakan perintah yang tidak bisa di bantah oleh kedua orang itu. Keduanya hanya bisa pasrah saat ratu King Pratama itu angkat suara.


Keduanya hanya bisa pasrah saat ucapan itu menggaung di telinga mereka. Malam itu juga, keduanya mengurus kepulangan Riya palsu yang bernama Camelia itu.


Camelia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Dirinya begitu takut menghadapi Oma Annisa yang terkenal dengan si pahit lidah jaman modern ini. Dan juga keturunannya satu lagi menurun darinya. Saudara sepupunya. Putri dari mami Tania. Yaitu Alishba puteri Kendra. Sosok yang mirip Oma Annisa jika berbicara itu sama sepertinya. Si pahit lidah jaman modern.


Alish. Gadis kecil puteri bungsu mami Tania terkenal dengan julukan itu oleh keluarganya. Setiap kali ucapannya yang mengandung emosi saat dirinya terluka ataupun terjepit, maka ucapan yang ia keluarkan akan benar adanya.


Riya palsu atau Camelia mengetahui akan hal itu. Karena dirinya pernah merasakan apa yang di katakan oleh saudara sepupu palsunya itu. Ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya karena ucapan dua orang bergelar si pahit lidah itu.


Ia pasrah saat dirinya harus kembali ke pangkuan kedua orangtua kandungnya yang saat ini sudah berada di Jakarta. Keduanya terpaksa pindah warga negara menjadi warga negara Indonesia karena sangat ingin bertemu dengan Camelia yang waktu itu mereka bunag karena tidka mampu untuk menghidupinya.


Dan saat ini, Om Prince ingin mengembalikan putrinya itu. Betapa senangnya hati mereka. Mereka menunggu kedtangan kedua orang itu untuk mengembalikan putri kandungnya. Walau wajah Camelia sudah mereka ubah, tak apa. Mereka bersyukur jika putri kandung mereka kembali lagi dalam peluakn mereka.


Malam itu juga, Om Prince dan Onti Alzana akan mengantar Camelia ke Jakarta. Perdebatan siang sampai malam membuat penghuni rumah itu kelaparan. Maryam yang berada di luar tertegun sekaligus terkejut mendengar fakta yang sesungguhnya tentang riya palsu itu.


Ada harapan kecil yang tumbuh di hatinya saat ini. Entah kenapa, ia sangat suka berkumpul dengan keluarga besar itu. Seperti dirinya memiliki ikatan batin dengan mereka. Termasuk kepaa Jia, Om Prince dan Onti Alzana.


Dirinya yang hidup bersama sang Nenenk yang kini sudah tua renta, membuatnya sangat merindukan kasih sayang orangtua lengkap. Dan itu Maryam dapatkan dari Onti Alzana dan Om Prince.


Maryam tidak ingin mengganggu kepergian ketiga orang itu yang pergi dengan terburu-buru. Ia sengaja bersembunyi agar kehadirannya tidak di ketahui. Dan saat mobil itu sudah pergi, Maryam melangkah masuk kerumah itu.

__ADS_1


Saat ingin mengetuk pintu itu, dirinya di buat terkejut saat seorang pemuda menabrak dirinya karena berlari. Keduanya bertubrukan hingga jatuh kelantai dengan saling menindih.


"Aaaaa," teriak Alish saat melihat abang sulungnya sedang menimpa seorang gadis tertutup dan berniqob sama seperti Nenek Ira.


Semuanya berlari ke depan pintu untuk melihat. Dan betapa terkejutnya saat melihat Zayden sedang menimpa tubuh mungil Maryam yang tangan kirinya menenteng tinggi rantang berisi makanan untuk keluarga itu.


Oma Annisa dan Nenek Ira sampai menganga melihatnya. Apalagi mami Tania. Ia melongo melihat putra sulungnya menimpa seorang gadis yang kini terus saja menatap pada putra sulungnya itu.


Apa kabar dnegan kedua anak muda beda usia itu?


Jantung keduanya seakan lepas dari tempatnya. Tatapan mata keduanya saling terpaku hingga suara hati keduanya pun terdengar.


Riya?


Deg, deg, deg..


Jantung keduanya semakin berdetak tidak karuan. Zayden tersadar saat dirinya di tarik paksa oleh sang abi yang ternyata sudah berdiri di belakangnya saat ini.


Maryam masih shock dengan kejadian baru saja. Jia yang melihat itu segera mengambil rantang dna membangunkan Maryam yang jatuh terlentang itu. Beruntungnya kepala Maryam tidak terbentur ke lantai. Sebab Zayden melindunginya dengan telapak tangannya mengganjal kepala Maryam saat terjatuh tadi.


Keduanya mendadak canggung saat keluarga menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Tangan Maryam bergetar memegang rantang yang kini di kembalikan oleh Jia padanya.

__ADS_1


"Kakak tidak apa-apa? Ada yang sakit? Ayo, aku obati dulu. Ummi sama Abi sedang pergi. Ini semua kelurga ku juga. Kakak 'kan sudah mengenal mereka sejak lama?" ucap Jia memecah keheningan di antara mereka semua.


Maryam tersenyum kikuk saat Zayden terus menatapnya seperti itu.


"Eh, ah, m-maaf. Kakak hanya ingin mengantarkan makanan ini. B-biasanya, Abi dan Ummi sering memesan makanan ini sama Kakak tiap malam sabtu," ucapnya sambil menunduk.


Ia menyerahkan rantang itu pada Jia dan hendak pergi. Tetapi, langkahnya tertahan saat suara hati itu menggaung kembali ke telinganya.


Jangan pergi, Riya!


Deg, deg, deg..


Maryam berbalik dan melihat pada Zayden yang kini menatap lekat padanya.


"Katakan satu alasan, kenapa aku tidak boleh pergi?" tanya Maryam pada Zayden yang kini terkesiap mendengar ucapan Maryam baru saja.


"Hah? Apa maksud Kakak?" tanya Jia yang tidak paham. Ia menoleh pada Zayden yang kini mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.


Maryam tersenyum malu. "Nggak, nggak apa-apa, kok. Ya, sudah Kakak pulang dulu. Assalamu'alaikum!" ucapnya tanpa mendengar jawaban dari mereka semua yang kini melongo melihat kepergiannya.


"Tunggu abang, Riya! Saat Abi Prince pulang, abang akan datang ke rumahmu!" gumam Zayden yang terdengar oleh Zayn yang saat ini berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


Zayn mengulum senyumnya.


__ADS_2