
Paman Kevan menatap datar pada Fatma. Ia melenggang keluar tanpa sepatah katapun. Ia dan anggotanya segera keluar dari rumah sakit dan disaksikan oleh Kendra yang melihatnya dari pantauan cctv.
Paman Kevan menoleh kebelakang dan melihat pintu ruangan Aldo. Ia menatap dingin dan datar. Entah apa yang ada dipikiran lelaki paruh baya itu.
Ia pun segera berlalu dan meninggalkan rumah sakit Jaya Medistra bersama anggotanya. Kendra yang tahu apa yang harus ia kerjakan, segera melakukan tugasnya dengan baik.
Ia seorang diri mengotak-atik laptop yang Om Kenan berikan padanya tadi. Tugasnya kini ialah melacak keberadaan sang Paman melalui chip yang baru saja salah seorang perawat laki-laki, ia pasangkan tanpa mereka sadari.
Seorang perawat laki-laki utusan Om Kenan. Untungnya perawat itu cerdik saat mendekati mobil Paman Kevan. Ia berpura-pura jatuh di sisi mobil itu dan meletakkan chip yang terletak ditelapak tangannya itu.
Chip pelacak itu begitu kecil. Ia serupa warna dengan mobil itu. Seukuran paku kecil. Keberadaannya tidak akan mereka ketahui. Karena pelacak itu tidak memiliki cahaya dan juga warna yang berkelap kelip.
Alat pelacak khusus dipesan dari Jerman melalui Prince, Abang sepupu Tania yang saat ini masih berada disana.
Tangan Kendra terus bergerak cepat mengetik kata demi kata di tombol keyboardnya. Ia tersenyum saat menemukan titik lokasi keberadaan mereka saat ini.
"Ketemu! Tugasku, selesai Hunny!" katanya pada earphone yang tersambung ditelinga Tania saat ini.
Tania menghela napas lega. Fatma segera memeluk Tania dengan erat. "Terimakasih, Nia.. Kamu sudah menolongku dan Bang Aldo.." lirih Fatma yang diangguki oleh Tania.
__ADS_1
"Sama-sama, Kak." Jawab Tania sembari mengurai pelukannya di tubuh Fatma. "Ngomong-ngomong, kamu kok bisa tahu ini aku, Kak?" tanya Tania pada Fatma yang kini tersenyum melihatnya.
Tania menatap Fatma yang tersenyum sembari melepas niqobnya. Karena tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Bukankah musuhnya sudah pergi bersama anggotanya baru saja?
"Kakak mengenali suara kamu, Nia. Kakak tidak mungkin salah. Walau baru sekali bertemu denganmu, tapi kakak bisa menghapal suara rendah dan suara tinggi kamu. Bukankah tadi pagi, kita baru saja bertemu?" kata Fatma yang diangguki dengan kekehan kecil dibibir Tania.
"Hehehe.. Maafkan aku, Kak. Jika saja, kamu tidak memancing emosiku tadi pagi, pastilah aku tidak akan marah. Mana mau aku dipaksa begitu? Kamu ya Kak? Benar-benar!" Ucap Tania yang dibalas tawa oleh Fatma.
"Ya maaf atuh, Neng! Kakak terpaksa melakukan hal itu. Kamu 'kan tahu sendiri, kalau kakak saat itu terpaksa melakukannya?" Jawab Fatma yang diangguki oleh Tania.
"Kamu benar Kak. Ya sudah, ayo kita keluar dulu. Kamu harus tanda tangan persetujuan prosedur operasi putra kecilmu ini. Kasihan kamu, Nak. Semoga cepat sembuh ya? Kamu nanti bisa bermain dengan saudara kembar kamu dirumah?" kata Tania lirih ditelinga putra Aldo dan Fatma.
Tania mengusap lembut surai hitam putra Aldo yang sangat mirip dengan Aldo itu. Tania sampai berdecak saat melihat kemiripan putra Aldo dan juga Aldo. Ia mengingat putranya yang juga mewarisi wajah yang sama seperti abinya.
Tania terkekeh saat mengingat hal dimana dirinya dulu sangat membenci Kendra lantaran ia menikah lagi. Bibir mengatakan benci, tetapi hatinya sangat merindukan Kendra waktu itu.
"Ayo, Kak. Biarkan mereka bersama perawat sebelum dibawa keruang operasi. Kamu harus menandatangani suratnya dulu," imbuh Tania mengajak Fatma kebagian administrasi.
Fatma mengangguk dan meninggalkan kedua orang yang saat ini terbaring lemah itu.
__ADS_1
Fatma ditemani Tania, segera melakukan prosedur untuk operasi putranya sebagai wali yang sah. Mereka kembali keruangan saat putra Aldo itu sedang didorong menuju keruang operasi bersama dokter Dimas dan seorang dokter spesialis jantung.
Dari kejauhan, Tania melihat Tantenya berjalan beriringan dengan Dokter Kezia. Istri dari Dokter Dimas.
Ketiga orang itu akan masuk keruang operasi demi memantau perkembangan putra Aldo itu. Fatma menahan sesak didada saat melihat putra kecilnya itu harus dibawa keruang operasi.
Dokter Kezia dan Tante Bella mengusap dan memegang tangan Fatma untuk menguatkan. Begitupun dengan Tania.
Om Kenan bersama Kendra kini masuk keruangan Aldo demi bisa menemani asisten sekaligus sahabatnya itu.
Operasi sedang berjalan saat ini. Fatma dan Tania menunggu mereka dengan persaaan kalut dan juga gundah.
"Semoga putraku, sehat kembali ya Allah.. Jangan ambil putraku secepat itu. Cukup kedua orangtuaku saja saat menolong Bang Aldo. Aku tidak memiliki siapa pun selain keduanya ya Robb.." gumam Fatma terdengar oleh Tania.
Tania mengaminkan doa Fatma. Ia pun berharap, semoga putra kecil Fatma itu baik-baik saja nantinya.
...****************...
Satu aja ye?
__ADS_1
Maaf typo bertebaran. Besok, othor revisi. 🙏