Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Empat tahun kemudian


__ADS_3

Dua orang pemuda tampan sedang berjalan turun dari pesawat menuju mobil yang mereka sewa untuk mengantar mereka ke tempat tujuan. Keduanya menggunakan pakaian yang sama. Di mulai dari baju kemeja berwarna biru muda, celana jeans warna biru, sepatu kats warna putih, kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.


Jam tangan rolex yang sama. Hadiah ulang tahun dari Oma mereka saat pulang dari Paris satu tahun yang lalu. Serta gaya potongan rambut yang berbeda dari dulunya. Jika dulunya potongan cepak atau biasa-biasa saja seperti model tentara, kini lain lagi.


Keduanya mengikuti gaya rambut almarhum Opa Gilang saat baru pulang dari Amerika dulunya saat akan berkunjung meminta restu pada Kakek Yoga untuk mempersunting alamrhum Oma Alisa dulunya. ( Baca di PELABUHAN TERAKHIRKU, seru, loh. Tapi jangan cibir othor. Itu karya kedua othor yang masih kurang dari kata layak. Mana yang belum tahu, yuk, mampir! ).


Gaya rambut sedikit tebal dan ada belahan di sisi kirinya. Sangat tampan terlihat. Semua pengunjung bandara terpana melihat ketampanan keturunan Wiryawan itu.


Seorang supir menunduk pada keduanya. "Mari, Den. Mobilnya sudah siap. Ada yang perlu Aden singgahi sebelum kita ke tempat tujuan?" tanya supir itu yang di jawab dengan senyum tampan keduanya.


"Kita langsung saja ke tempat yang sudah kami katakan pada Bapak kemarin!" jawab salah satu dari mereka yang diangguki ooleh Bapak-bapak supir itu.


Mobil itu segera melaju menyusuri jalanan yang sudah sangat lama keduanya datangi sejak tujuh tahun yang lalu. Kali ini, keduanya kembali lagi. Demi meneruskan kisah mereka yang tertunda selama emapt tahun ini.


"Abang yakin, jika keduanya saat ini sedang mengajar di pesantren? Bukannya mereka kuliah jurusan dokter, ya? Sama kayak Abi dan Ummi?" tanya Zayden pada Zayn yang kini menatap keluar jendela dengan tatapan kosongnya.


Sang supir melirik sebentar, kemudian kembali fokus lagi. Zayden menatap lekat abangnya yang kini sedang melamun.


"Abang!" seru Zayden begitu kuat hingga menyentak Zayn yang kini larut dalam lamunannya.


"Hah? Apa Dek?" jawab Zayn sedikit terkejut dengan jantung bergemuruh hebat. Ia menghela napas hingga berulang kali.


Zayden terkekeh pelan melihat abnagnya itu. "Abang kenapa, sih? Masih memikirkan hal itu juga?" tanya Zayden pada Zayn yang kini menatap sendu pada adiknya itu.


"Ya, tak banyak, sedikit abang pasti kepikiran. Bukan perkara mudah kita bisa kembali kesini setelah empat tahun lamanya. Belum lagi kabar burung yang abang terima, kalau keduanya sdang menjadi target para ustd di pesantren tempat mereka mengajar saat ini. Makanya abang memilih cepat pulang. Padahal pekerjaan kita masih banyak saat ini. Mami sampia ngomel-ngomel sama abang saat minta izin ingin kesini. Belum lagi si kembar tiga yang abnag tinggal begitu saja. Kamumah enak, kamu tinggal datang dan duduk di dpan layar lapto. Lah, abang? Abang yang mengawasi kalain semua, paham?" ucap Zayn yang membuat Zayden mengangguk mengerti.

__ADS_1


"abang tennag saja. Aku udah punya cara untuk menarik simpati keduanya." Balasnya jumawa.


Zayn melirik padanya. "Jangan macam-macam Dek, jika kamu tidak mau kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya!" peringat Zayn yang diangguki oleh Zayden.


"abang tennag saja. Aku sudah memikirkann caranya. Jika ini berhasil, maka abang harus membawa kembali aku ke Singapura nanti, oke?" ucap Zayn yang diangguki oleh Zayn.


"Hem, kita lihat saja." Balas Zayn.


Mobil itu pun melaju ke tempat yang keduanya ngin datangi saat ini. Cukup empat puluh lima menit dari bandara menuju pesantren, kini keduanya sudah tiba di sana.


Keduanya turun masih dengan kaca mata hitam bertengger di hidung macungnya. Para santriwati menjerit hebat saat melihat Zayn dan zayden sampai-sampai kepala pesantren pu n ikut keluar melihat siapa tamu yang para santrinya katakan.


Deg


Deg


Deg


Ia berlari tanpa melihat dua orang ustad melintas di depannya. Ketiga orang itu bertubrukan bersama. Sigadis kecil tadi meringis, tak lama ia meminta maaf dan segera berlari.


Sementara dua ustad itu menggelengkan kepalanya saja dan terus emnunju ke depn. Di mana tamu mereka kini berada hingga mmebuat riuh para santriwati di pesantren mereka.


Sementara Zayn dan zayden sednag berbicara pada pemilik panti yang merupakan seorang wanita berniqob yang sama seperti istri keduanya. Keduanya sangat akarab terlihat. Kadang terkekeh kadang juga tertawa. Senyum keduanya yang begitu menawan membuat para santriwati sampai meleleh melihat keduanya.


Sementara dua orang ustdzah di tarik paksa oleh snag adik hingga keduanya terseok-seok berlari mengikuti langkah snag adik yang kini terus menari keduanya untuk menuju ke luar.

__ADS_1


Tiba di depan gerbang pesantren, sudah terlihat banyak para santriwati yang mengintip kedua lelaki tampan itu.


"Ini ada apa, sih dek? Kenapa kamu menarik kami seperti ini? Ada artis kah yang datang?" ucap salah satunya sambil meledek sang adik yang kini begitu serius saat melihat ke depan sana.


"hhoh, biasa kamu 'kan paling mengidolakan artis? Palingan, ya, artis itu yang datang?" timpla kakak satunya.


Gadis kecil itu tidak peduli. Ia terus melihat ke depan di mana kedua pemuda tampan itu sednag tertawa bersama pemilik p[esantren yang sebaya dengannya.


"Hahahaha.. Kamu bisa aja, sih, Syah! Nggak gitu juga kali! Ngomong-ngomong, mana nih, bidadari kami?" tnya Zayn pada ustadzah Aisyah. Abak pemilik pesantren yang saat ini kedua istri pemuda tampan itu mengajar.


"Ada, keduanya sednag mengajar tadi. Eh, beneran, nih. Bukannya kalian udah pisah, ya? Kalau iya, bisa dong saya jadi kandidat kalian salah satunya? Jadi istri seorang CEO Zayn gitu?" ledeknya menggoda Zayn yang kini kembali tertawa karena godaan temannya itu.


Deg, deg, deg..


Jantung dua orang gadis itu hampir lepas dari tempatnya saat melihat kedatangan dua pemuda yang selama ini selalu mereka sebut dalam doa dan juga yang begitu mereka rindukan.


Keduanya terus tertawa tanpa menoleh ke sis kiri mereka di mana kedua istrinya saat ini sednag menatap tajam pada keduanya. Gadis kecil yang merupakan sepupu mereka itu terharu.


"Abang! Adek sama kakak di sini!" panggilnya yang mmebuat kedua pemuda tampan itu menoleh seketika.


Ddduuaaarr!


Keduanya tersentak saal melihat di sisi kiri dan kana bidadari hati mereka saat ini sudah ada pawangnya. Kedua lelaki tampan itu langsung berubah wajahnya. Begitu juga dengan dua bidadari itu. Wajah keduanya tak kalah datar saat ini.


Mereka tak menyangka bisa di pertemukan dalam keadaan yang sudah berlainan saat ini. Empat tahun berllau, mereka opikir, keduanya masihlah utuh. Tapi ternyata?

__ADS_1


Keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing.


__ADS_2