
Mami Annisa berdiri mendongak melihat rumah pohon yang ada disana. Ia menghela nafasnya. Inilah yang terjadi jika Tania sednag igin sendiri dan merajuk.
Ia sangat berbeda dengan kedua adik kembarnya. Mami Annisa menyingkap gamisnya hingga ke atas lutut yang membuat papi Tama melototkan matanya karena paha putihnya itu terlihat.
"Turun sayang!"
Deg!
"Bbbrruuurrff.. Apa sih Bang?" jawabnya Karena terkejut dengan suara papi Tama ditengah heningnya taman belakangnya saat ini.
"Turun!" tegas papi Tama lagi yang kini menatapnya dengan datar. Mami Annisa menghela nafas panjang.
"Hadeeuuhh.. Abang kenapa sih? Nggak lihat apa aku lagi manjatin rumah anak kamu? Ck. Ada-ada saja ulah anak! Udah tahu mami nya nggak akan bisa naik kalau nggak disingkap ini gamis, malah diabuat juga! Ngeyel banget sih?" gerutunya sambil turun ke bawah masih dengan gamis ia sampirkan ke pinggangnya hingga paha mulus itu masih terlihat jelas.
Bruk.
Mami Annisa melompat sedikit kebawah dan menemui Papi Tama yang kini menatap dingin padanya.
Mami Annisa memutar bola mata malas. "Ini lagi aki-aki! Kenapa gitu mukanya!" Ucap Mami Annisa sembari meraup kasar wajah papi Tama yang masih dingin menatapnya.
"Siapa suruh kamu manjat pohon?"
"Nggak ada. Pingin sendiri!!"
"Nggak takut jatuh sampai nekad begitu? Mana gamisnya di sinsing tinggi begini lagi! Untung Abang saja yang lihatnya!" ketusnya mendadak kesal pada mami Annisa.
Mami Annisa tertawa. Ia segera memeluk papi Tama yang sedang menurunkan gamis yang tersampir di pinggangnya.
"Nggak akan ada yang berani melihatku disini. Kawasan ini kediaman Adrian Pratama dan Annisa Pratama! Toh, kamu suamiku. Apa salahnya jika kamu melihat tubuhku?? Pahala bukan?" godanya dengan alis naik turun yang membuat Papi Tama luluh seketika.
__ADS_1
Ia terkekeh, "Tapi kamu itu yang kayak monyet wanita sayang!"
"Heh? Monyet??" pekiknya sedikit kesal
"Heem.." Papi Tama mengangguk dengan senyum nakal padanya.
Mami Annisa yang sedang kesal padanya pun segera melompati tubuh papi Tama hingga lelaki paruh baya itu tergelak keras melihat kelakuan istrinya itu.
Tania yang merasa terganggu dengan suara gelak tawa sang papi pun segera bangkit dari tidurnya. Ia menoleh ke bawah dimana sang mami yang kini sedang bergelayut di tubuh sang papi yang kini tertawa karena kecupan dari mami Annisa di wajahnya.
Tania terkekeh.
"Heh? Ini yang Abang bilang monyet? Hem?!" ucapnya masih mengecup titik sensitif di tubuhnya yang membuat pria paruh baya itu semakin kegelian dan tertawa keras.
Tania pun ikut tertawa melihatnya. Ia pun segera turun ingin menemui kedua orang tuanya.
Baru tiga undakan tangga ia turuni, matanya tak sengaja melihat Kendra, Ziana dan Uwak Lana sedang berdiri menatap nanar padanya.
Deg!
"Heh? Kamu sudah bangun toh?" tanya nya sudah puas membuat sang suami hampir terkencing di celana karena kegelian di kecup terus menerus di telinganya.
Nggak tahu saja Tania jika sang papi sudah on fire saat ini gegara kelakuan maminya itu. Mami Annisa turun segera dari tubuh nyamannya.
Papi Tama menghela nafas sesak. "Ck. Kamu harus tanggung jawab sayang. Setelah ini. Awas kamu!" gumamnya di telinga Mami Annisa yang dibalas kerlingan mata nakal olehnya.
Tania terkekeh lagi. Ia sangat suak melihat keduanya seperi itu. Bukan berkelahi. Lebih kepada bercanda saja.
Mami Annisa yang memnag gemar terpancing, sangat suka papi Tama goda. Dan berujung dirinya sendiri yang tersiksa.
__ADS_1
"Kenapa mereka belum pulang Mi?" lirih Tania dengan dada yang kembali sesak.
"Hah? Siapa? Mana?" matanya menatap sejurus dimana saudara dan juga keponakan serta menantunya itu masih berdiri disana.
Papi Tama segera mendekati mereka dan mengajak mereka masuk kembali ke dalam rumah.
Kendra menatap nanar pada Tania yang tidak ingin melihatnya sama sekali. Papi Tama segera mengajaknya untuk masuk.
"Tania butuh waktu Nak. Ayo, kita masuk dulu."
Kendra mengangguk.
Setelah kepergian Kendra, Tania terjatuh terduduk di tanah yang segera mami Annisa peluk dengan erat.
"Hiks.. Mami.. Sakittt.. Kakak hiks.. Nggak kuat.. Bantu kakak agar lepas darinya Mami.. Ini sangat menyakitkan. Lebih baik kakak pergi daripada harus melihatnya menikah satu Minggu lagi. Hiks.. Bawa kakak pergi Mi.. Ke Aceh Mi.. Kita pulang Mi.." isak Tania begitu pilu yang membuat Mami Annisa pun ikut terisak.
Ia tidak menyangka jika pernikahan putrinya harus berakhir seperti itu.
Tania.
Putri sulungnya itu ternyata begitu rapuh saat melihat suaminya lebih memilih menikah dengan Ziana daripada memperjuangakn dirinya.
"Iya Nak. Sore ini kita akan berangkat ke Aceh. Mami Hubungi kakak sepupu mami dulu disana untuk membersihkan rumah eyang kalian ya?"
Tania mengangguk masih dengan memeluk erat tubuh mami annisa yang kini juga sma sepertinya ikut menagis.
Tega kamu Bang. Bukannya kamu mengejarku. Kamu malah bertahan dengan pernikahan yang tidak aku setujui.
Jika memang ini pilihan mu, baik! Aku mengalah dan pergi dari hidupmu untuk selamanya!
__ADS_1
Batin Tania begitu rapuh. saking rapuhnya Tania sampai jatuh tersungkur hingga tidak bisa bangkit lagi.
Tania rapuh serapuh-rapuhnya jika mengenai Kendra. Cinta sekaligus suaminya.