Princess Pratama

Princess Pratama
Hancur untuk kesekian kali nya


__ADS_3

Sementara itu di Singapura.


Tania saat ini sedang berbaring di kamarnya saat ponsel miliknya berdering pertanda pesan masuk dari seseorang.


Tania mengambil ponsel pribadinya dan segera melihat. Siapa yang menghubunginya tetapi hanya sebentar saja. Seperti miscall atau curi panggilan. Itu kata Othor ye?


Tania terpaku di tempat saat melihat video yang ia terima di ponselnya yang menunjukkan Kendra sedang disuapi oleh Ziana di kamar mereka hanya berdua saja.


Tania menghela napas sesak. "Apa maksud dan tujuan mu mengirimkan foto ini kepadaku bang Aldo? Kamu sengaja ingin membuatku panas disini?"


Terdengar suara gelak tawa membahana di seberang sana. Karen aldo langsung saja menghubunginya saat pesan yang ia kirim sudah terbaca.


"Ya, aku sengaja membuatmu panas dengan mengirimkan foto pasangan suami istri yang romantis bahkan sudah saling cinta itu!"


Deg!


Deg!


Tania mengepalakan kedua tangannya. Satu tangannya berada di bantal dan satu lagi saat ini sedang memegang ponselnya.


"Lantas apa hubungannya dengan ku? Bagus dong jika keduanya sudah saling cinta?" Tukas Tania dengan tangan semakin terkepal erat. "Lagian 'kan keduanya suami istri? Jadi wajar saja jika keduanya itu saling cinta!" lanjut Tania masih berusaha tenang walau sebenarnya, hati dan tubuhnya sudah bergetar ingin menangis saat ini.


Tetapi ia berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Karena Aldo terus melihat padanya kini. Walau sesekali Aldo memutar kameranya menjadi kepada dua sejoli yang sedang tertawa sambil makan itu.


( Kisah Ziana nanti ye? Insyaallah bulan depan rilis.)


Aldo menatap lekat pada Tania. "Kamu yakin Nia? Kamu tidak sakit hati dan cemburu melihat suami kamu bisa bersama dengan istri keduanya? Aku dengar nih ya! Kalau Ziana saat ini sedang mengandung!"


Ddduuaarr!!


Tania tersentak mendengar ucapan Aldo. Wajah itu seketika terlihat seperti begitu terkejut. Aldo bisa melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


Ia menarik sedikit ujung bibirnya membentuk senyum tipis setipis benang. Tania yang masih terkejut sekaligus shock tidak bisa berbicara saat ini.


Kenyataan pahit yang baru saja ia dengar dari Aldo sang asiten Kendra. Jika Ziana saat ini sedang mengandung. Yang artinya Ziana sedang hamil keturunan suaminya.


Kendra Wiryawan. Suami tercintanya hingga saat ini. Kekasih halal nya yang sudah menjadi suami adik sepupu nya sendiri.


Pandangan mata Tania mendadak buram dan mengabur. Buliran bening sudah berkumpul di pelupuk matanya.


Aldo jelas sekali melihat hal itu. Ia kembali tersenyum tipis.


"Kamu tidak ingin memberikan semangat pada suami mu, Tania?? Kendra sudah berhasil mencetak gawang Ziana loh.. Adik sepupu kamu. Dan saat ini, ada bibit unggul Kendra di rahimnya. Tidak kah kamu ingin mengucapkan selamat atas kekeberhasilannya?? Ziana begitu subur ternyata. Berbeda dengan mu. Hingga saat ini, kamu belum juga hamil.


Tadi siang, Kendra di periksa. Dan dokter mengatakan jika ia bukan sakit aneh-aneh atau lainnya. Melainkan sedang mengalami kehamilan simpatik padanya. Yang artinya, suami kamu itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan Ziana. Makanya ia bisa mual muntah dan sakit seperti itu.


Dan lihatlah keduanya saat ini!" Aldo mengalihkan kameranya dimana Ziana sedang di peluk erat oleh Kendra dan juga mencium keningnya yang membuat Tania hancur seketika.


Detik itu juga dirinya hancur berkeping-keping dan melebur menjadi partikel kecil sehingga dirinya tidak bisa bangkit dan menyatu kembali.


Sesekali Kendra juga mengecup kening adik sepupunya itu yang membuat Ziana semakin mengeratkan pelukannya.


"Hhhaaah.. Allaaaahhh..." lirih Tania semakin merasakan sesak yang tiada tara.


Bohong jika dirinya tidak cemburu. Bohong jika dirinya menerima pernikahan adik sepupu dengan suaminya itu. Tania terlihat kuat dan tegar.


Nyatanya Tania tidak seperti itu. Ia tetap seorang wanita lemah yang bisa hancur jika melihat cintanya kini sudah berpaling darinya.


Tania memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit dan juga rasa sesak yang tiada tara kini menghimpit dada nya.


Aldo terkekeh tanpa suara di seberang sana. Ia tidak tahu malapetaka apa yang akan menimpanya karena berita yang ia berikan kepada Tania itu.


"Bagaimana Tania? Sudah memiliki kata-kata yang tepat untuk suami kamu? Saat ini ia sedang melihat kamera loh.." ucap Aldo yang segera di datangi oleh Kendra dengan senyum cerahnya berharap Tania mau berbicara padanya.

__ADS_1


"Mana Tania, Al? Sini kan ponsel kamu!" pintanya pada Aldo yang segera ia berikan kepada Kendra yang segera ia lihat wajah Tania yang kini basah dengan air mata.


Kendra sedikit terjkejut, tak lama ia kembali tersenyum dan sangat senang bisa melihat Tania lagi. Mungkin untuk yang terakhir kali? Mungkin.


Deg!


"Hunny.."


Deg!


Deg!


Ddduuaaarr!


Aldo dan Kendra terjingkat karena suara gemuruh di atas atap rumah mereka. Keduanya saling pandang kemudian terkekeh bersama.


Ziana yang tidak jauh berdiri dari mereka pun akhirnya mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Kendra dan melihat ke layar ponsel dimana Tania kini sedang menatap keduanya dengan perasaan hancur sehancur-hancurnya.


Tania tidak mengeluarkan suara isak tangis. Tetapi air mata yang mengalir menjadi bukti dari dirinya saat ini sedang terluka karena suaminya yang tidak tahu sama sekali berita yang baru saja ia dengar dari Aldo.


"Hunny.. Apa kabar? Sehat? Kamu keliatan gemukan ya?" Kendra tergelak. Begitu pun dengan Ziana.


Sepasang suami istri itu tertawa bersama. Seolah sedang menertawakan Tania yang kini sedang menahan luka yang begitu perih akibat kedua orang itu.


"Hunny? Kok diam?" Kendra memanggil Tania lagi yang kini tertawa sumbang sambil menangis yang membuat senyum Kendra dan Ziana meredup seketika.


"Hunyy??"


"Kak?"


Panggil keduanya bersamaan dan begitu kompak. Tania kembali tertawa. Tetapi suara tawa itu membuat bulu kuduk keduanya meremang seketika.

__ADS_1


Aldo membeku saat mendengar suara tawa itu. Ia menatap lekat pada Kendra dan Ziana yang kini menatapnya dengan wajah datarnya.


__ADS_2