Princess Pratama

Princess Pratama
Season 3 ( kejujuran Dzaki )


__ADS_3

Setelah melihat Riana kembali tenang, Dzaka dan Dzaki berbincang dengan Kiana tentang apa yang harus ia lakukan setelah ini. Mereka bertiga berunding tentang apa yang harus mereka katakan pada mami Tania nantinya.


Cukup Mami Tania yang tahu, tidak dengan keluarga lainnya. Dzaki tidak ingin istrinya itu bertambah malu karena aib masa lalu. Sebenarnya, kalau di pikir-pikir, tak ada yang mau dirinya di lecehkan seperti itu. Riana pun tidak mau. Akan tetapi, itulah nasib naas yang menimpanya.


Selama hidup selalu menjaga diri dan juga jauh dari kaum laki-laki malah dirinya harus menerima penghinaan seperti itu. Penghinaan yang meninggalkan trauma yang begitu membekas di hati dan pikirannya.


Ingin Riama mati saja waktu itu. Akan tetapi, Dzaki masih bisa menyelamatkannya. Jika bukan karena Dzaki, maka Riana saat ini sudah tiada di muka bumi ini. Dzaki, pemuda yang berusaha menolongnya dari pria dewasa saat Riana di lecehkan hingga separuh tubuhnya.


Selesai ketiganya berunding, Dzaki menemui mami Tania dan Abi Kendra. Keduanya sedang bermain saat ini bersama ke empat cucu mereka di temani oleh Oma Annisa. Dzaki menghela napas berualng kali untuk meredakan rasa gugup yang kini mendera dirinya. Dzaka ikut menemaninya dan akan membantunya dalam berbicara pada mami mereka.


Hanya Mami Tania yang bisa membantu Riana saat ini. Kondisi jiwa Riana akibat trauma itu sedikit demi sedikit sudah terganggu. Kiana sendiri yang mengusulkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Mami Tania.


Dan di sinilah kedua laki-laki itu berada. Mami Tania dan Abi Kendra menatap bingung pada kedua putranya itu. Apalagi Dzaki. Ia lebih banyak menunduk dan melamun memikirkan nasib Riana yang saat ini sedang sakit. Tidak di katakan, Riana akan semkain tersiksa. Namun, bilamana ia jujur, dirinya akan di marahi oleh semua keluarga.


Berharap sama Yang Maha Kuasa, bisa melindungi dirinya dari amukan Mami Tania sebentar lagi. Dzaki menghela napasnya. Ia menatap lekat pada Mami Tania dna abi Kendra yang kini juga menatapnya. Sementara Dzaka, sibuk dengan ponselnya. Pemuda itu sedang mengurus sesuatu untuk mereka semua. Setelah selesai, ia kembali menyimpan ponselnya dan menatap kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Katakan Ki! Mami dan Abi berhak tahu," ucap Dzaka yang diangguki oleh Dzaki.


"Ummi, Abi.. Sebelumnya abang minta maaf. Abang ingin menyampaikan berita buruk pada Kalian berdua," lirihnya mendadak sesak mengingat tentang kejadian beberapa tahun silam itu.


Kedua orangtua itu saling pandang. "Berita buruk? Berita buruk apa maksudmu?" tanya Mmai Tania yang mmebuat mata Dzaki berkaca-kaca.


Dzaki luruh ke lantai dan duduk di hadapan mami Tania yang membuat sang ibunda terkejut bukan main.


"Tolong jangan marah sama abang, Mi, Bi. Abang salah dalam hal ini. Abang sengaja menutupi penyakit yang Riana dari kalian semua. Akan tetapi-,"


Dzaki yang melihat itu semakin merasa bersalah pada kedua orangtuanya. Dzaki menunduk dan memegangi tangan sang mami yang kini menatap cemas menunggu perkataannya selanjutnya.


"Katakan! Jangan membuat mami takut, Dzaki!"


Deg!

__ADS_1


Jantung Dzaki berdegup dengan kencang. "Maaf Mami.. Seharusnya, sudah dari beberapa tahun yang lalu akau katakan ini sama Mami. Bantu abang mami. Riana sednag sakit. Psikisnya teganggu setelah dirinya mengalami yang yang begitu buruk delapan tahun yang lalu saat di Medan berlibur bersama kita di pasar malam itu!"


Dduuaarr!!


Tersentak Mmai Tania dan Abi Kendra mendengarnya. "apa maksudmu! Kejadian apa saat di pasar malam delapan tahun lalu?! Kenapa dnegan Riana?! Huh? Kamu menodainya sebelum itu?!"


Dduuaarr!


Dzaki dan Dzaka terkesiap mendengar itu. Dzaki menggeleng. "Nggak! Bukan itu Mi-,"


"Lantas apa?! Huh? Jangan berbelit-belit! Jelaskan sekarang juga!" seru Mami Tania lagi dengan suara meninggi dan wajah gusarnya karena panik akan ketakutan di pikirannya saat ini tentang menantu dan putranya itu.


"Nggak! Ummi salah paham! Abang tidak melakuka hal itu pada Riana. Kami baru melakukannya tadi malam. Ia masih suci. Hanya saja..." Dzaki menghentikan ucapannya kala Dzaka memegang pundaknya dna mentapnya lekat.


"Hanya saja apa?!" seru Mami Tania lagi mendesak dDzaki yang kini tergugu melihat wajah Abi Kendra mendadak dingin padanya.

__ADS_1


"Percayalah, Abi, Mami. Abang tidka emlkaukn hal buruk pada adik sepupuku. Kejadian ini terjadi saat delapan tahun lalu di pasar malam minggu di dekat rumah kita. Riana.. R-riana.. Riana.. Hiks.. Riana di lecehkan pada saat ia ke toilet seorang diri. Dan hanya abang yang tahu tentang kejadian itu," lirih Dzaki sembari menelungkupkan kepalanya di pangkuan mmai tania dna Abi kendra yang kini terkejut bukan main mendnegra ucapan putra kecil yang kini sudah dewasa itu.


__ADS_2