
Dari bandara menuju ke kediaman papi Tama butuh waktu sekitar satu jam lebih lagi untuk tiba disana.
Dan saat ini mereka sudah tiba di depan pintu gerbang yang tertutup rapat. Ziana membuka kaca dan melongokkan kepalanya keluar dan memanggil seorang satpam penjaga yang berasal dari Indonesia itu.
"Maaf pak. Bapak orang Indo kan ya?" tanya Ziana dengan segera turun dari mobilnya untuk berbicara dengan satpam kediaman papi Tama dan mami Annisa itu.
"Betul. Saya satpam dari Indnoseia yang ditugaskan untuk menjaga rumah ini. Ada yang bisa bapak bantu Neng?" jawabnya sambil tersenyum dan menerima uluran tangan dari Ziana untuk gadis kecil itu salimi.
"Iya pak. Papi Tama sama mami Annisa ada nggak? Saya ini keponakannya dari Indonesia. Dan yang duduk di kursi memakai baju biru muda itu suami kakak saya, Tania. Dan yang di sebelahnya itu asistennya serta satu orang perawat yang akan mengurus mereka berdua nanti." Jawabnya sambil mengenalkan ketiga pemuda itu satu persatu.
Pak Satpam itu menyurutkan senyumanya dan wajanhnya mendadak sendu.
"Maafkan bapak Neng. Rumah ini sejak kemarin sepi dan tidak ada penghuninya. Tuan Tama dan juga Nyonya Annisa sedang pulang ke Indonesia. Sedang den Danis sedang mencari adiknya yang saat ini hilang dan entah ada dimana.."
Dduuaarr!!
Kendra mendadak pening. Ia segera memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Aldo panik melihatnya.
"Izinkan kami masuk dulu Pak. Bos saya ini sedang sakit. Ia rela kesini demi bisa mencari istrinya yang hilang karena kecelakaan kemarin malam. Tolong Pak.." pinta Aldo dengan memelas yang membuat satpam itu berulang kali menghela napasnya.
__ADS_1
"Bukan bapak tidak mau Den. Tetapi rumah ini di kunci. Kunci dibawa oleh Den Danis. Bapak hanya bisa menunggu rumahnya bergantian dengan teman bapak yang itu!" tunjuknya pada seorang satpam yang kini pun berjalan mendekati mereka semua.
"Benar Den. Rumah ini terkunci sejak kemarin. Kami sempat melihat dua mobil beriringan keluar dari garasi dengan buru-buru. Kami tidak ditinggal bekal apapun. Baru tadi kami menerima telpon kalau non Tania sampai saat ini belum di temukan dan ia kecelakan di daerah yang akses nya lumayan jauh dari sini. Den Danis tidak bisa pulang. Dan beliau memerintahkan kami untuk mengatakan jika ada tamu yang datang, kami tidak bisa menerimanya walau itu suami noon Tania sendiri."
Deg!
Deg!
"Ya Allah..." lirih Kendra semakin merasakan sakit di kepalanya.
Ziana menatap rumah itu dengan tatapan tajamnya melihat ke seluruh penjuru. Takutnya satpam itu berbohong.
Ziana menadahkan tangannya kepada kedua satpam itu yang membuat satpam itu kebingungan.
"Kunci rumah ini! Saya tahu kalian sengaja menyimpan kunci rumah ini demi menjaga rahasia jika kakak saya saat ini belum di temukan! Saat kecelakaan itu terjadi, kak Tania memang pergi, Tak lama setelahnya Bang Danis pun ikut pergi tetapi tidak sempat mengunci rumah ini.
Dan tadi kalian mendapat telpon darinya jika rumah ini harus dikunci bukan??"
Deg!
__ADS_1
Deg!
Kedua satpam penjaga itu menelan salivanya sulit saat melihat tatapan Ziana yang berubah dingin dan datar. Persis mirip papi Lana jika sedang marah.
Kendra, Aldo dan perawat itu menatap Ziana dengan lekat. Kedua pemuda itu menarik sedikit ujung bibirnya saat tahu jika kepintaran Ziana akan membawa masuk mereka ke dalam kediaman itu.
"Berikan kuncinya pak Sofyan!"
Deg!
Satpam yang bernama Pak Sofyan ini melihat rekannya. Keduanya menatap dengan mata saling berbicara.
"Berikan kuncinya atau.." ancam Ziana pada kedua satpam yang kini menatapnya dengan wajah piasnya. "Atau kalian berdua akan saya laporkan kepada papi Tama jika kalian sudah menelantarkan kami diluar rumahnya dan juga tidak mengizinkan kami masuk! Butuh bukti jika saya ini keponakannya bukan?"
Deg!
Kedua satpam itu saling pandang lagi.
"Baik. Ini buktinya!" Ziana menunjukkan pada satpam itu dimana gambar foto keluarga saat almarhum Opa dan Oma nya masih hidup.
__ADS_1
...****************...