
Hati Tania tercubit mendengar serentetan ucapan Kendra baru saja. Ia menahan buliran bening agar tidak mengalir di pipinya.
Tania mendorong pintu dengan perlahan dna memasuki kamarnya yang saat ini ada si sulung Zayn dan juga Kendra disana.
Kendra menatap sendu pada balkon kamar Tania. "Enaknya jadi pohon mangga itu. Ia berdiri kokoh dengan kakinya sendiri. Ia hidup karena Allah yang menumbuhkannya. Ia tidak pernah merasa tersisihkan. Sebab Allah adil dalam membagi rejeki untuk pohon itu."
Nyuuuttt..
Berdenyut ngilu hati Tania mendengar perumpamaan Kendra. Tania duduk dibelakang suaminya itu tanpa Kendra sadari. Dirinya yang sibuk melamun dan memikirkan nasibnya, sampai tidak menyadari jika sang istri kini berada di belakangnya.
Si sulung yang berada didepan Kendra, tidak menyadari kehadiran Tania yang kini memilih diam menunggu ucapan Kendra selanjutnya.
"Andai diri ini pohon mangga itu. Pastilah diri ini akan sangat senang. Tidak perlu merasa disisihkan dan juga terasingkan!"
Deg!
Tania tergugu. Ia menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Kendra. Ia menggigit bibirnya untuk menahan suara isaknya yang hampir mencuat dari kerongkongannya.
"Aku bukanlah pria sempurna. Sedari aku bertemu dengannya aku ini sudah gila dan tidak waras!"
Tania menggeleng menolak ucapan Kendra.
"Aku ini manusia serba kekuarangan. Mungkin benar kata Om Kevan. Jika tania tidak pantas untukku. Karena apa? Karena aku cacat mental!"
Deg!
"Aku hanya bisa berbicara seorang diri tanpa ada yang mendengarkan. Kenapa aku harus sembuh saat melihatnya? Kenapa cintaku begitu dalam untuknya? Apakah aku salah karena mencintainya terlalu dalam hingga aku merasakan sakit yang tiada tara?"
Deg!
Tania menggeleng lagi tidak menyetujui ucapan ngaur suaminya itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak mati saja aku waktu itu? Kenapa harus selamat? Apakah ini tujuan aku dihidupkan kembali dan diberikan kesempatan kedua? Kesempatana kedua yang seperti apa? Kesempatan itu bukan untukku dan tidak untukku!"
Deg!
Tercabik-cabik hati Tania mendengar ucapan Kendra yang begitu menusuk jantungnya.
"Aku memang meminta sama Allah untuk diberi kesempatan kedua. Tetapi apa yang aku dapatkan? Huh? Aku tersisihkan!"
Deg!
Tania menggeleng.
"Aku diabaikan dan dianggap tidak penting lagi! Apa karena aku ini gila? Aku belum sembuh? Tapi kenapa bicaraku normal? Apakah aku benar-benar gila atau hanya pikiranku saja? Kenapa begitu sakit saat mengetahui jika diriku tidak diinginkan? Cih! Kasihan sekali hidupmu, Ken! Baru diberi kesempatan kedua, tapi kamu sendiri yang membuat ulah! Bodoh! Bodoh kamu, Ken! Bodoh kamu!" Umpat Kendra menyalahkan dirinya sendiri. Suaranya bergetar menahan tangis.
Mata menatap nanar pada pohon mangga di depan balkon Tania. Kendra tidak sadar mengatakan ucapan yang tidak seharusnya dihadapan putra sulungnya yang kini melihatnya dengan mata berkaca-kaca.
Seakan tahu apa yang abinya katakan, mata si sulung itu kini sudah menganak sungai sembari memegang lengan Kendra.
Ddduuaarr!!
Bagai disambar petir tubuh kedua orangtua muda itu. Keduanya terkejut saat melihat si sulung kini menangis dengan wajah memerah.
Kendra dan Tania dengan cepat memeluk putra sulungnya itu. Kendra terkejut saat ia memeluk tubuh chubby Tania yang kini didalam pelukannya.
Kepala Tania berguncang seiring dengan si sulung terus menangis di dalam pelukannya. Kendra mematung melihat itu.
Ia mengurai pelukannya dan beranjak dari ranjang sambil mundur selangkah demi selangkah.
"Nggak! Aku nggak buat putraku menangis! D-dia menangis bukan karena ku!" serunya ketakutan dengan berdiri dari ranjangnya menuju depan pintu kamar mereka.
Mendengar ucapan Kendra yang berubah panik, sontak saja mata Tania membulat sempurna saat melihat tatapan mata Kendra yang kini kembali berubah.
__ADS_1
Tania menangis pilu. Ia menggendong putranya dan mendekati Kendra. Ia menyentuh pipi Kendra dengan sebelah tangannya.
"Hiks.. Lihat aku, Bang Kendra!"
Deg!
Deg!
Mata Kendra melotot melihat wajah Tania basah dengan air mata.
"K-kamu menangis? K-kenapa? A-apakah gara-gara abang, H-hunny?" tanya Kendra sedikit tergagap karena jiwa dan pikirannya kembali terguncang.
Tania menggeleng. Si sulung Zayn terus menangis dipelukan Tania yang saat ini ia gendong.
Tania mengelus pipi Kendra yang kini melihatnya dengan tatapan kosongnya. Lagi, hati Tania seperti ditimpa batu bongkahan besar. Begitu sesak dan rasanya sangatt sulit untuk bernapas.
Tania berusaha menyadarkan Kendra yang kini kembali ke alam bawah sadarnya. Ia mulai melamun dan tidak sadar lagi dengan panggilan Tania.
Ingin Tania melakukan sesuatu pada suaminya agar suaminya itu sadar kembali. Tetapi, saat ini ada Zayn bersamanya. Tania mendorong Kendra untuk masuk ke dalam dan menutup pintu itu serta menguncinya dengan cepat.
Secepat kilat Tania turun ke bawah untuk memberikan Zyan pada mami Annisa. Mendengar suara hentakan kaki yang begitu kencang ditangga, membuat semua orang terkejut.
Papi Tama lebih dulu berlari mendekati Tania bersama Aggam. Tania hamir saja terjatuh jika tidak Aggam yang merangkulnya.
Tania tersedu. Ia menyerahkan Zayn pada papi Tama tanpa berkata sepatah katapun.
"Tunggu. Nak! Mana Kendra? Kenapa kamu dan Abang menangis? Ada apa?" tanya Mami Annisa begitu panik saat melihat waah sembab Tania.
Tania tidak menyahuti. Baginya Kendra saat ini. Kendra sedang membutuhkan dirinya. Tanpa menjawab ucapan mami Annisa, Tania berlari secepat angin. Hingga membuat mami Annisa, mami Tiara, mami Cinta dan Zee berteriak bersamaan saat melihat Tania terjatuh terpeleset dekat tangga.
Aggam segera berlari mengejar kakaknya itu yang semakin kepayahan merangkak ke atas. Sebab perutnya terasa kram. Semua orang dibuat panik olehnya. Tetapi tidak bisa berbuat apapun saat mendengar raungan Kendra di atas sana.
__ADS_1
Semuanya terkejut dan tertegun.