Princess Pratama

Princess Pratama
Jangan merendahkan!


__ADS_3

"Baik, ini yang menjadi penyebab salah satu adikku tidak mau bergabung setiap kali berkumpul? Okey.. Tunggu saja. Aku akan menegur mereka dengan caraku! Kamu tenang saja, Dek! Mereka akan mendapatkan balasannya! Jangan panggil aku Princess Pratama jika diri ini tidan bisa membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan. Tunggu saja!" tukasnya menggebu-gebu sambil berlalu dari pintu kamar yang kini sudah tertutup rapat setelah dirinya pergi baru saja.


Tania segera keluar rumah mami Kinara menuju rumah Uwak Lana. Dimana seluruh keluarga sedang berkumpul dan mengelilingi putranya bersama Kendra itu.


Tania masuk tanpa mengucapkan salam langsung menuju ke dapur dengan raut wajah datarnya. Kendra menatap Tania dengan heran. Ia pun bangkit dan mengikuti Tania.


Semua adik sepupunya serta abang sepupunya bersorak mengejek Kendra yang katanya suami takut istri.


Kendra tak peduli dengan itu. Ia tetap menuju ke dapur mengikuti Tania yang kini sedang duduk manis dan makan makanan yang ia mau, tanpa peduli dengan semua keluarga yang kini terdiam setelah melihat wajah dingin Kendra pada mereka semua.


Semua kakak sepupu dan adik sepupu Tania bungkam seketika kala melihat ada yang aneh dari Tania dan Kendra.


Satu ruangan yang dipenuhi puluhan orang itu mendadak senyap seketika. Kendra mendekati Tania yang kini sedang makan dengan lahapnya. Kendra menarik kursi makan itu dan duduk disamping Tania.


Tania yang tahu, segera mengarahkan sendok miliknya ke mulut Kendra yang diterima dengan senang hati olehnya.


Kendra mengunyah makanan itu sembari menatap lekat wajah Tania yang mendadak masam terlihat olehnya. Kendra dibuat bingung. Apakah dirinya membuat salah? Sampai istrinya itu begitu kecut wajahnya?


Kendra terus menerima suapan dari tangan Tania tanpa menolaknya. Dirasa cukup, Kendra mengambil minum milik Tania dan menenggaknya hingga tandas.


Tidak tahan dengan keterdiaman Tania, Kendra memegangi lengan Tania. Yang membuat wajah wanita itu menatapnya dengan raut wajah sendu. Kendra tersentak melihat itu.

__ADS_1


"Hunny! Kamu kenapa? Ada apa? Apa abang punya salah padamu?" tanya Kendra yang dijawab dengan lelehan buliran bening di kedua matanya.


Kendra panik bukan main melihat Tania menangis seperti itu. "Ke-kenapa? Kok nangis? Ada yang sakit? Kamu marah sama abang atau-,"


Kendra terdiam saat jari Tania menunjuk dihadapan bibirnya yang sedikit mangap itu. Tania terkekeh. Kendra mengernyitkan dahinya, bingung.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Kendra lagi yang dibalas Tania dengan memeluk tubuh hangat Kendra dengan erat.


Kendra tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan senang hati.


"Aku kasihan dengan Alkira dan Gading," ucap Tania pada Kendra yang kini mengurai pelukannya dan menatap teduh pada Tania.


Kendra mengikuti langkah Tania untuk duduk bersama adik serta kakak sepupunya. Tania menatap datar pada mereka semua.


Malik yang tahu jika Tania saat ini sedang tidak beres, menunduk takut. Ziana pun demikian. Hanya Kendra dan El yang berani menatap pada wajah datar Tania


"Apa adikku punya salah sama kalian? Hingga kalian terus mengejeknya tidak bisa memiliki keturunan?!"


Deg!


Deg!

__ADS_1


Deg!


Alkira dan Gading yang baru saja tiba, terpaku didepan pintu mendengar ucapan Tania yang entah untuk siapa.


"Kenapa? Kenapa kalian selalu membuatnya tidak nyaman saat berkumpul seperti ini? Apakah ini ajaran dari sekolah kalian dulu? Kalian sengaja terus menekan batinnya? Apa salahnya sama kalian?! Huh?" lanjut Tania lagi sembari menatap satu persatu kini wajah yang kini menunduk dihadapannya.


Semua yang mendengar ucapan Tania memilih diam. Tak bersuara sseperti tadi. Ia memilih menunduk dan tak ingin melihat wajah kakak sepupunya yang sedikit seram itu.


Kendra baru paham kemana arah tujuan Tania berbicara. Ia melihat ke depan pintu, dimana Alkira dan Gading berdiri dengan wajah piasnya. Kendra tersenyum saat melihat tangan keduanya bertaut dan juga rambut Gading yang sedikit basah itu. Kendra terkekeh kecil.


Tania melirik sekilas. Setelahnya menatap balik pada semuas sepupunya.


"Mami sama papi tidak pernah mengajarkan kalian untuk meremehkan, menghina, mencibir serta merendahkan martabat seseorang! Apa masalahnya jika Alkira belum hamil? Apa itu masalah buat kalian? Kenapa kalian terlalu suka mengganggu hidup orang lain?" ucap Tania lagi begitu kesal kepada adik-adiknya yang kini menunduk tidak ingin melihatnya.


"Kenapa kalian diam? Kemana suara kalian tadi yang terus menggunjing sepupu kalian? Kemana suara emas dan lantang kalian tadi yang terus mengejek dan merendahakn Alkira yang tak kunjung hamil? Emangnya salah ya, kalau wanita tidak bisa hamil? Salah kalau lelaki yang tidak bisa memiliki keturunan? Kenapa kalian hanya bisa menghujat dan merendahkannya? Kenapa kalian tidak cari tahu, kenapa sampai saat ini Alkira belum juga hamil?"


"Apakah salahnya, jika belum diberikan amanah untuk memiliki keturunan? Kenapa kalian hanya bisa merendahkannya saja? Kenapa kalian tidak mencari tahu apa yang terjadi degan mereka berdua? Itukah gunanya ilmu untuk kalian semua? Mami dan papi tidak pernah mengajarkan kita untuk merendahkan orang lain yang tidak bisa apa-apa tanpa kuasa dari Allah!"


"Kalian begitu tega selalu mengejeknya dan menyindirnya! Tidak tahukah kalian jika ucapan kalian itu ibarat racun di dalam rumah tangganya? Huh?" teriak Tania dengan suara melengking tinggi hingga membuat semua orang terkejut bukan main.


Alkira menatap Tania dengan mata berkaca-kaca. Gading semakin menguatkan genggamannya. Ia sangat terkejut jika Tania tahu akan masalah mereka.

__ADS_1


__ADS_2