
Satu bulan berlalu sejak acara penyambutan kepulangan Ziana dan juga acara resepsi pernikahan keduanya, saat ini sudah mulai bertugas kembali dirumah sakit Uwak Ira.
Kendra sendiri sedang ke Singapura bersama Aldo. Untuk Fatm sendiri tinggal disamping rumah papi tama yang baru saja Aldo beli dari pemiliknya.
Karena Kendra menginginkan jika Aldo tidak berada jauh darinya. Berjarak tiga rumah saja tidak masalah. Asalkan mereka tetap dekat. Kendra membutuhkan Aldo untuk usahanya yang kini berada di Singapura.
Tania tersenyum pada setiap perawat serta dokter yang menegurnya. Ia terus berjalan menuju ke ruangan dimana Zee dan Zidan saat ini sedang berkumpul menunggu kedatangan dirinya.
Tania segera mendorong pintu itu sembari mengucapkan salam untuk kedua kakak sepupunya itu.
"Sudah selesai?" tanya Zee yang diangguki oleh Tania dengan tersenyum.
"Duduklah. Abangmu sedang meretas data keamanan milik saudara kembar ayah mertua kamu. Dibantu Gading, sih," ujar Zee lagi yang ditertawakan oleh Zidan.
Tania pun, ikut terkekeh. "Ya, iyalah Abang nggak bisa. Lah Abang bukan ahlinya? Yang ahli itu 'kan Gading? Suami Alkira? Gimana sih, Kakak? Masa iya, udah lupa aja! Mentang-mentang udah tuir!" seloroh Tania yang dipelototi oleh Zee.
Zidan semakin tertawa mendengar perdebatan adik sepupu istri dan istrinya itu.
"Kamu itu, ya, Dek! Suka sekali membuat kakak kesal! Udah aha, kita mulai dulu masalah meretas datanya! Gading!" panggil Zee pada seorang pemuda yang kini sibuk dengan tombol keyboardnya.
"Iya, Kak. Ini udah hampir selesai. Bang Zidan, kunci semua data itu setelah kita selesai membobolnya. Nanti akan aku kirimkan alamat Dinas sosial yang tertera didalam surat wasiat itu!" jawab Gading melalui sambungan video call yang kini terhubung langsung dengannya.
"Baik, tapi kamu harus cepat, Dek! Waktu kita hanya lima belas menit! Lewat dari itu, kita akan ketahuan jika sednag meretas data mereka," balas Zidan yang diangguki oleh Gading.
"Abang tenang saja. Ada Adek disini yang bantuin aku. Iyakan, Sayang?" Kata Gading pada Alkira yang kini tersenyum padanya tanpa niqob lagi diwajahnya.
__ADS_1
Zee tersenyum melihat itu.
"Oke, selesai!" ucap Alkira di seberang sana. Zidan pun tersenyum lega.
"Ternyata kamu dan Alkira sama-sama pintar ya, dalam mengolah dan meretas data milik orang lain?" ejek Zidan pada Gading dan Alkira yang kini tertawa mendengar ucapan abang iparnya itu. "kalau begni, Abang jadi takut berhadaan dengan kalian!"
"Hahaha.. Abang bisa saja. Tapi iya, sih, kami pintar. Bukan begitu Bang" celutuk Alkira sambil tertawa melihat Gading yang kini terkekeh kecil melihat padanya.
"Oke, saat kakak yang bergerak. Boleh kakak minta laptopnya Abang ipar?" ucap Tania yang diangguki oleh Zidan.
Zidan segera menyerahkan laptop miliknya yang sudah berisis data tentang surat wasiat dna pengalihan warisan itu kepada pihak kedua selain Kendra.
"Gading, Adek! Bantu Kakak!" katanya pada kedua adik sepupunya itu.
"Siap Bos!" Sahut keduanya kompak.
Zidan dan Zee menganga melihat gerakan tangan Tania yang begitu linacah saat tombol itu menari ditombol keyboard milik mereka berdua.
Tania begitu fokus dengan pekerjaannya.
"Sudah bisa dikirimkan Kak?" tanya Alkira yang diangguki oleh Tania.
"Sudah, ini hampir selesai!" jawab Tania masih juga sibuk menekan setiap angka dan tombol di keyboardnya.
Zee mentap Tania tak berkedip. Sementara Zidan melihat jari Tania yang tidak berhenti bergerak ditombol keyboard laptop miliknya.
__ADS_1
Sangat cepat!
Gerakan Tania begitu cepat hingga membunyikan suara ketika yang berdurasi seperti musik kecil diruangan sunyi itu.
Gading dna Alkira pun smaa cepatnya seperti tania. Keduanya bergerak cepat membantu Tania saat tania berusaha memindahkan data itu ke dinas sosial serat sebuah surat yang mengatakan jika semua warisan itu akan disumbangkan ke dainas sosial selaku puhak kedua yang tertera di surta wasiat yang kini tania lampirkan serta.
Zee tak berhenti menganaga saat tangan Tania semakin cepat dan tombol keyboard itu begitu riuh dengan suara ketikan yang semakin cepat.
Gading berusaha mengunci data Tania dnegan cepat. Karena ia sudah mendeteksi ada penyusup yang senagja ingin mencuri surat wasiat itu.
Alkira terkekeh saatmelihat penyusup itu.
"Kamu menghadapai suami kamu sendiri Kak Tania!"
Deg!
Tania menghentikan ketikannya. Ia beralih menatap ponsel yang kini menunjukkan wajah serius Gading dan wajah terkekeh geli Alkira yang merasa lucu dengan Abang iparnya itu.
Tania menghela napas panjang. Ia kembali mengetik enam kata yang segera ia kirimkan pada Aldo. Ya, Aldo. Tania tahu jika itu adalah aldo bersama Kendra.
"Ternyata tujuanmu ke Singapura juga ini ya, Bnag? Hemm.. Tak apa. Kamu kalah cepat dariku! Sekarang ... End!" ucap Tania sembari menekan tombol entaer tanda mengirim serta mengeluarrkan sebuagh virus untuk perusahaan milik Paman Kevan yang kini sednag berjalan itu.
Tak!
Ketukan jari tania di tombol keyboard itu membuat Zee dan Zidan menahan napasnya saat melihat wajah tania yang tersenyum. Tetapi begitu mengerikan. Seringai iblis yang terbit dari bibir tipisnya membuat Zee dan Zidan bergidik ngeri.
__ADS_1
Keduanya saling pandang dan menggeleng bersama. Tania tersenyum puas saat melihat layar pada laptonya yang menunjukkan kata misi sukses! Lengkap dengan emoticon tertawa puas.
Tania terkekeh saat melihat Alkira dan Gading kini sedang menggodanya dengan menaik turunkan alisnya.