Princess Pratama

Princess Pratama
Keputusan Paman Kevan


__ADS_3

Paman Kevan menatap lekat pada saudara kembarnya itu. Ia menoleh ke sembarang arah saat tatapan Abi Kevin begitu tulus saat berbicara padanya.


Paman Kevan menatap datar dan dingin pada uwak Lana, Papi Tama dan papi Ali yang kini juga menatap lekat padanya.


Ia sedang berperang dengan hatinya saat ini.


Aku harus pilih yang mana? Benar jika dua-duanya menguntungkan diriku. Aku tahu aku salah pada bang Kevin. Tetapi aku masih menginginkannya! Apa yang harus aku lakukan saat ini? Jika aku tidak memilih salah satu, maka keturunanku yang akan sengsara akibat ulahku. Ini saja, keturunanku sudah membenciku karena ulahku yang mencelakai istri keponakanku. Apakah aku pilih pilihan kedua saja? Itu lebih baik bukan? Daripada dalam penjara? Jika aku masuk penjara, maka aku tidak bisa bersama keturunanku lagi. Baik, inilah keputusanku. Semoga kamu tidak marah sama Abi, nak. Abi melakukan ini untukmu. Untuk saat ini, aku belum bisa minta maaf kepada mereka semua. Aku butuh waktu! Putus Batin Paman Kevan sembari menghela napas berat.


"Baik, Paman sudah mengambil keputusan. Paman akan mengambil pilihanmu yang kedua. Paman memilih membuat surat hitam diatas putih. Surat perjanjian yang mengatakan jika Paman tidak akan mengusik keluargamu lagi. Paman hanya ingin mendapatkan hak untuk anakku. Itu saja," putusnya sedikit angkuh dihadapan mereka semua.


Kendra tersenyum sambil menghela napas panjang.


"Terima kasih Paman mau mendengarkan usulan dariku. Maafkan aku yang tidak bisa mengulang waktu antara Paman dan keturunan Paman." Ucap Kendra yang diangguki datar oleh Paman Kevan.


"Setidaknya, kamu sudah berhasil membuat hatinya luluh, Nak. Abi bangga padamu. Tidak sia-sia abi menceritakan masa lalu kami padamu," timpal Abi Kevin yang diangguki oleh Kendra dan ditatap dengan tajam oleh Paman Kevan. "Jangan marah, Dek. Semua ini demi kebaikanmu. Kembalilah bersama kami ke Kalimantan. Usaha kita sedang menunggu kita berdua saat ini. Kita berdua akan bersama-sama membina rumah tangga ini seperti yang kamu inginkan dulunya. Maafkan aku yang egois waktu itu hingga membuatmu memilih jalan ini," lirih abi Kevin menunduk.


Ummi Mutia memeluk abi Kevin dari samping. Paman Kevan bangkit dari duduknya dan berlutut dihadapan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah, Bang. Aku hanya bisa bilang.. Mari kita bersama membangun rumah tangga kita. Untuk mencapai surga-Nya Allah. Aku tahu, aku salah padamu. Untuk itu..." ucapnya sembari memeluk saudara kembarnya itu.


"Maafkan aku, bang. Aku salah. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini. Cukup sampai disini. Aku sudah sangat merindukan kalian berdua," bisiknya lagi sembari memeluk erat abi Kevin. Ummi Mutia menangis.


Lidahnya tidak sesuia dengan kata hatinya. Paman Kevan akhirnya meminta maaf juga pada abi Kevin yang kini mengangguk mendengar ucapan saudara kembarnya itu.


Ketiga orang dewasa itu menangis bersama. Kendra tersenyum melihat itu. Tania melongo melihatnya.


Ini kenapa begini? Kenapa jadi para orangtua itu yang menangis? Bukan seperti ini akhir yang aku inginkan! Yang aku mau itu, Paman Kevan itu adu jotos denganku! Gatal sekali tanganku ingin menimpuk wajah tampan tuanya itu! Huh! Batin Tania bersungut-sungut.


Duduknya yang gelisah membuat Kendra menoleh padanya. Ia melihat wajah Tania yang merengut masam melihat kedua orangtuanya kini sudah berdamai. Kendra tersenyum.


Tania tertegun sejenak. Setelah sadar, ia terkekeh. "Ternyata Paman Kevan tidak berubah ya, Bang. Saat ini pun demikian. Wajahnya datar dan dingin. Jika diperhatikan lamat-lamat, beliau terlihat sangar!" bisik tania di telinga Kendra yang membuat Kendra tergelak keras.


Hingga membuat kedua orang saudara yang sedang tertawa itu mengurai pelukannya dan tersenyum melihat Kendra yang tertawa bersama Tania yang kini terkikik geli.


Papi Tama, Uwak Lana, dan papi Ali pun ikut terkekeh. Mereka bertiga mendengar bisikan dua anak muda itu.

__ADS_1


"Hem, tujuan yang mulia, Ken! Tapi bagaimana dengan pasukan bala tentara itu, Ken? Bukankah sangat meresahkan? Mana jenderal sudah ngomel-ngomel sedari tadi? Ck. Masa iya, mau ngomong bawa pasukan segala, sih? Memangnya kamu mau perang, Ken?" sindir Uwak Lana pada kendra.


Tetapi, tujuan Uwak Lana mengatakan hal itu untuk Paman Kevan. Paman Kevan kembali merubah raut wajahnya menjadi datar. Abi Kevin terkekeh melihat saudara kembarnya itu.


"Kamu tanggung jawab, Van! Kenapa pula kamu bawa anggota kita segitu banyaknya? Mau perang sama siapa kamu?" ledek Abi Kevin pada Paman Kevan yang kini mendengkus padanya.


"Ya, sama kalianlah aku mau perang1 kamu pikir, aku bawa anggota mau perang sama siapa?" tanya Paman Kevan pada abi Kevin yang kini tertawa mendengar ucapannya. "Kamu nggak lihat kalau dua saudara ipar besan kamu itu seorang panglima TNI? Ya, jelaslah aku bawa pasukan! Salah-salah dalam berbicara, bisa mati sia-sia aku! Kamu lihat saja, wajah mereka begitu dingin datar saat aku masuk ke rumah ini tadi," sindirnya balik pada Uwak Lana yang kini melotot dan berdecak mendengar ucapan saudara kembar besannya itu.


Papi Tama terkekeh. Begitu pun, dengan papi Ali. Ia pun ikut terkekeh mendengar sindiran itu berbalik pada Abang iparnya. Yang kini berwajah masam pada mereka semua.


"Ck. Dasar Paman kain kavan! Suka sekali buat masalah! Nggak sadar apa? Kalau dirinya itu biang masalah? Lupa atau pikun kali, ya? Hem, pantas saja lupa. Lah wong dianya kain kavan? Pembungkus orang yang sudah mati? Alias mayit??" gumam Tania yang terdengar jelas di telinga Kendra.


Kendra melototkan matanya setelah mendengar ucapan Tania. Tak lama setelahnya, ia pun terkekeh.


"Benar kata Uwak Lana, Abi. Sebaiknya pasukan kalian itu segera dibubarkan. Sebelum jenderal di komplek perumahan ini membalas balik pasukan kalian!" seloroh Kendra yang ditanggapi serius oleh Paman Kevan.


"Baik, akan Abi suruh mereka pulang dan tunggu di markas kita! Kalau begitu, aku pulang duluan bang Kevin! Segera siapkan tujuh orang yang kamu katakan Ken! Abi pulang dulu," ucapnya pada mereka semua seraya berlalu meninggalkan beberapa orang yang kini tertegun karena ucapannya baru saja.

__ADS_1


Uwak Lana menatap Kendra dengan lekat. Begitu pun dengan Papi Tama, dan Papi Ali. Ketiga orang itu menatap bingung pada Kendra yang kini biasa saja.


"Apa maksud si kain kavan itu memanggil dirinya dengan abi? Ada apa ini? Adakah yang tidak kami ketahui?" gumam papi Tama masih terdengar oleh kedua saudara iparnya.


__ADS_2