
Satu Minggu berlalu.
Sejak perdebatan itu terjadi, Uwak Lana dan Kendra semakin sibuk mencari keberadaan Tania yang hilang bagai di telan bumi.
Uwak Lana terbang ke Singapura ke esokan harinya setelah Malik memberikan pencerahan padanya. Uwak Lana sudah terbuka sedikit pemikirannya tentang pernikahan kemelut itu.
Berkat perkataan bijak dari Malik, ia kini sudah menerima sedikit tentang hubungan Kendra dan Ziana yang akan segera berakhir.
Berkat Malik juga, Ziana sedikit bisa lebih tenang setelah saudara kembarnya itu memberikan jalan keluarnya. Bahwa Ziana harus pasrah akan keputusan takdir tentang kehidupan pernikahannya bersama suami kakak nya itu.
Tania harus pasrah akan keputusan yang akan Kendra berikan setelah kabar Tania pasti dan masih selamat. Dan jika tidak selamat, maka mereka pasrah akan keputusan takdir.
Pasrah akan keputusan yang akan diberikan untuk tiga kehidupan anak muda itu yang kini terjerat benang yang sangat sulit untuk dilepas, karena kedua wanita itu tidak ingin melepaskan Kendra sekalipun.
Uwak Lana dan Kendra sedang duduk bersama diruang tamu saat sebuah pesan di ponsel Kendra dan Uwak Lana berbunyi.
"Setelah ini, kita harus apa Wak? Sudah seminggu kita mencari keberadaannya. Tapi tak juga kita temukan." Keluh Kendra pada Uwak Lana dengan wajah sendunya yang kini menghela napasnya.
"Kamu benar! Sudah seminggu ini kita mencari keberadaannya. Kita sudah menyisiri seluruh jurang itu hingga ke ujung hilir sungai yang bermuara ke laut. Tetap saja, Tania seperti hilang di telan bumi." Jawabnya menatap nanar ke depan.
Dimana kedua anaknya sedang bercengkrama dengan saling memukul karena Malik sangat suka menggoda kakak nya itu yang membuat Ziana selalu kesal kepada adik nya itu.
Uwak Lana terkekeh melihat itu. Tetapi tidak dengan Kendra. Tatapan suami Tania dan Ziana itu kosong. Ia tidak tahu harus mencari kemana lagi keberadaan istri pertamanya itu.
Pada saat keduanya sedang sibuk dengan lamunan, ponsel keduanya berdenting pertanda pesan masuk.
__ADS_1
Ting!
Ting!
Keduanya segera mengambil ponselnya dan melihat ponsel itu.
Deg!
Deg!
Deg!
"I-ini.. Ta-tania?? Me-meninggal?!"
Braakk!
Ponsel Kendra jatuh ke lantai yang membuat kedua anak muda itu saling menoleh ke arahnya.
Wajah Kendra memucat seketika. Tubuhnya bergetar seiring dengan air mata yang turun tanpa di pinta.
Melihat itu, kedua saudara kembar itu berlarian mendekati Kendra. Ziana mengambil ponsel Kendra dan melihatnya.
Bruuk.
Ziana pun jatuh terduduk saat membaca pesan dari papi Tama. Ziana menatap pias pada Kendra yang terus mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Pi.." panggil Malik yang dilihat dengan gerakan kosong oleh Uwak Lana.
"Kakak kamu, Nak.. Kakak kamu sudah tiada.. Tania sudah meninggal.." balas Uwak Lana dengan tangan bergetar dan dada yang begitu sesak.
"Tidaaaakkk!!!! Taniaaaa!!!! Aaahhh... Tania ku belum meninggal! Taniaku masih hidup! Taniaku masih hidup! Ya, Taniaku masih hidup!" seru Kendra dengan panik dan gusar. Wajahnya kini basah air mata.
Uwak Lana terkesiap melihat perubahan pada diri Kendra yang terlihat seperti orang tertekan dan tidak terima dengan keadaan.
Mereka bertiga tidak bisa berbicara sepatah katapun. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Ketiganya segera membawa Kendra yang terus mengamuk karena tidak terima dengan berita yang baru saja ia dapat dari ponselnya.
Pada saat ketiganya membopong Kendra untuk masuk ke dalam rumah, ponsel Kendra berdering lagi. Pertanda ada yang menghubunginya.
Ziana yang memegang ponsel Kendra pun segera mengangkat sambungan video call itu.
"Assalamu'alaikum, hallo Pi-'"
"Bawa kesini suami kamu dan juga papi kamu. Kakak kamu akan segera kami kuburkan. Kami menunggu kedatangan kalian segera!"
Ddduuaaarr!!
Bagai disambar petir ke empat orang itu terpaku di tempat kala melihat disambungan ponsel itu dimana pjenazah Tania yang tertutup kain panjang kini berada di atas bangkar. Dimana ada mami Annisa dan mami Kinara yang diduk di kepala jenazah yang mereka bilang Tania itu.
"Nggak! Nggak mungkin itu Tania! Tania ku masih hidup! Nggak! Itu bukan bukan Tania! Papi bohong kan sama aku? Iya kan? Papi marahkan sama aku dan juga Ziana? Huh? Karena aku masih bersama Ziana??" seru Kendra dengan suara tegasnya.
Papi Tama menatap datar dan dingin pada Kendra yang kini terus menolak dan menyangkal jika itu adalah Tania.
__ADS_1