Princess Pratama

Princess Pratama
Putra sulung Maulana Akbar


__ADS_3

"Ingat pepatah ini nggak Pi? Alfikhru qoblu ribhan annadmu ba'da khusran? Papi tahu apa artinya itu?" tanya putra sulung Uwak Lana uyang kini sednag di tatap oleh sang papi padanya.


"Berpikir dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Iyakan Pi? Bukankah ini yang sering papi ajarkan padaku saat dulu Abang beranjak remaja? Kata-kata ini sering kali teringat olehku, Pi. Sebelum kita memutuskan apa yang terbaik, pikir dahulu sebelum semua itu terlambat nantinya.


Jika sudah, tidak ada gunanya lagi untuk di sesali. Kalimat diatas tidak hanya untuk perbuatan. Tetapi lebih tepatnya lisan kita. Karena seringkali lisan kita ini selalu mengeluarkan kata yang menyakitkan hingga melukai orang lain.


Dan menyebabkan orang itu sakit hati, benci, marah dan kecewa sama kita yang berbicara. Walau terkadang ucapan kita benar adanya, tetap saja kita tidak boleh menyinggung perasaan mereka yang mendengarnya.


Bukankah begitu, Pi??"


Uwak Lana tertegun dan tercenung dengan ucapan putranya.


Benar. Kalimat diatas itu tidak hanya berlaku pada ucapan kita. Tetapi juga perbuatan kita. Sebelum bertindak dna mengambil keputusan, sebaiknya di pikirkan lagi secara masak-masak. Timpal baliknya, untung ruginya dan masalah ke depannya seperti apa.


Daripada mendapat masalah, lebih baik dihentikan sebelum dimulai bukan??

__ADS_1


Uwak Lana lagi dan lagi tercenung memikirkan hal yang sudah terjadi. Ia baru sadar, jika perbuatannya yang menyetuji perjanjian itu kini sudah menghancurkan banyak orang.


Bukan hanya putrinya, tetapi juga keponakan serta adik dan Abang angkatnya. Uwak Lana tertegun kala mengingat Tania yang dulunya begitu menentang pernikahan itu.


Ia begitu menolak pernikahan itu. Mungkin inilah alasan Tania kenapa menolak pernikahan itu. Sebab ia tahu. Jika sudah terlanjur masuk, maka akan sulit untuk keluar. Terkecuali dirinya dan juga Tania yang akan membawa mereka keluar dalam masalah itu.


Dan kini, semua itu sudah terlambat untuk memperbaikinya. Ibarat gelas yang sudah retak. Kita bisa menutupinya dari luar dengan menempelkan lem di tepat agar bisa merekat kembali, tetapi bekasnya tetap terlihat dan ia tidak mungkin bisa sempurna lagi.


Tak ada gading yang tak retak. Begitupun dengan manusia. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya.


Janji yang membuatnya terikat hingga mengorbankan putri sulungnya yang kini sudah terjebak dalam ikatan pernikahan yang tidak tahu dimana muaranya.


Memikirkan hal itu, setitik bulir bening mengalir di sudut mata Uwak Lana yang dengan cepat ia seka. Malik bisa melihat jika sang papi kini sedang terluka memikirkan saudara kembarnya yang kini berada di Singapura sana.


Yang sedang mencari keberadaan Tania, kakak sepupunya yang entah berada dimana saat ini.

__ADS_1


"Pi..." panggil Malik pada Uwak Lana yang kini sedang menatap ke depan sana dengan dada yang begitu sesak.


"Kamu benar, Nak. Terimakasih karena sudah mengingatkan papi yang salah jalan ini. Papi akan berusaha membawa kakak mu kembali. Cukup dirinya berperan sebagai istri Kendra. Jika Tania sudah kembali, maka papi akan meminta Kendra untuk melepaskannya. Walau itu akan membuat kakak mu sakit nantinya, Papi tetap harus melakukan itu. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.


Walau nantinya kakak kamu akan layu dan tidak akan bersinar lagi, papi akan berusaha membuatnya tumbuh subur kembali dengan kasih sayang dan cinta papi nantinya. Papi berjanji, Nak.


Terimakasih Malik putera Mulana Akbar! Kamu berhasil membawa papi kembali dan juga sudah menyadarkan papi. Papi beruntung memiliki putra sepertimu. Terimakasih sayang! Cup!" Katanya pada Malik yang kini terkekeh dan merasa geli ketika dahinya di cium berulang kali oleh sang papi. Raja dihatinya.


"Sama-sama Pi. Sudah kewajibanku membawa papi kembali. Bukankah itu tugas seorang anak terhadap orang tuanya?" Uwak Lana mengangguk dan tersenyum, buliran bening itu mengalir di sudut matanya.


Ia tersenyum dan memeluk kembali putra sulungnya itu.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2