
"Iya Sayang. Abang memaafkanmu. Semua itu juga salah abang. Kalua saja abang menolaknya, pastilah tidak akan seperti ini. Semua ini sudah menjadi takdir untuk kita berdua. Malam ini, kamu nggak kembali kan?" tanya Kendra yag dijawab gelengan kepala oleh Tania.
"Nggak. Untuk tiga hari kedepan, aku akan menemani abang disini. Lusa baru kita pulang kerumah dan bertemu jagoan kita yang begitu mirip denganmu!" Kata Tania yang dijawab dengan anggukan antusias oleh Kendra.
"Kamu punya fotonya nggak? Abang ingin lihat. Penasaran dengan wajah putra kita! Apa benar mirip dengan abi nya? Atau mami nya?" Ucap Kendra yang segera Tania berikan ponsel miliknya pada Kendra.
"Buka saja dan lihat sendiri! Saking rindunya aku sama abang, wajah kedua anak kita sangat mirip denganmu. Bagai pinang dibelah dua. Coba aja!" kata Tania yang diangguki oleh Kendra dengan senyum manis tersungging dibibirnya.
Sementara Tania sibuk dengan tugasnya membersihkan wajah Kendra dengan alat yang ia punya, maka Kendra segera membuka ponsel Tania yang sandinya masih tetap sama.
Tanggal pernikahan keduanya yang Kendra sendiri pun masih mengingatnya. Tangan kurus itu segera membuka galeri.
Benar saja. Wajah kedua putra kembarnya begitu mirip dengannya. Mata Kendra berkaca-kaca melihatnya.
__ADS_1
"Putraku..." Lirihnya dengan bibir bergetar.
Tania yang sudah selesai pun segera bergabung dengan Kendra. Kendra saat ini sedang menyender disofa dengan kaki berselonjor. Tania mengambil kesempatan itu dan masuk kedalamnya.
Kendra tertawa. Dengan senang hati ia menerima kehadiran Tania didalam pelukannya. Tania memegang ponsel miliknya dan mendial nomor sang papi.
Tersambung.
Tak lama keduanya tertawa melihat wajah papi Tama sedang memelas pada kedua cucunya yang sedang tertawa karena kecapekan menjadi kuda untuk kedua putra mereka itu.
Danis saudara kembar Tania tertawa melihat papi mereka berlalu dengan memegang pinggangnya. Kedua putra Tania dan Kendra itupun akhirnya mengalah karena bujukan Danis dnegan menagtakan jika dua hari lagi, abi mereka akan pulang.
Kendra yang mendengar itu begitu senang. Ia memeluk erat tubuh Tania dengan mata terpejam. Tania tahu jika Kendra saat ini belum terlelap.
__ADS_1
Ia segera membuka pesan dari orang suruhannya tentang pencariannya dimana Ziana saat ini berada.
Seutas senyum manis terbit di sudut bibirnya saat ia tahu dimana keberadaan Ziana saat ini.
"Tunggu Kakak, Dek! Kakak dan Bang Kendra akan menyusulmu! Tunggu saja satu bulan lagi. Bersabarlah!" gumam Tania yang terdengar oleh Kendra.
"Kita berdua akan menyusulnya. Hidup ataupun mati, Ziana masih istri abang. Mari kita bersama menyelesaikan masalah ini." Ucapnya yang diangguki oleh Tania.
"Hem ya.. Nyamannya.. Udah lama nggak tidur dalam pelukan abang seperti ini. Rindu aku dengan bau harum tubuhmu." Ucap Tania yang disambut suara kekehan kecil oleh Kendra.
"Iya Huny. Abang pun begitu merindukanmu. Abang rindu bisa tidur bersamamu dengan saling berpelukan seperti ini." Balas Kendra yang dibalas Tania dengan membalikkan tubuhnya dan memeluk Kendra dari depan.
Kendra tersenyum dalam mata terpejam. Keduanya pun tidur bersama di sofa panjang yang tersedia dikamar itu.
__ADS_1
Keduanya kembali tidur bersama setelah sekian lama. Betul kata Kendra tadi. Tidak perlu disesali apa yang terjadi. Tetapi bersyukurlah untuk hari ini, karena mereka berdua dipersatukan kembali walau dalam keadaan yang sedikit berbeda.