Princess Pratama

Princess Pratama
Kamu, Suamiku! Dan kamu, tidak gila!


__ADS_3

"Kenapa Abang berbicara seperti itu!" seru Tania dengan bibir bergetar.


Sakit sekali hatinya mendengar ucapan Kendra baru saja. Tania tidak menduga, jika di hari bahagianya, Kendra malah mengingatkan tentang dirinya yang baru saja sembuh selama tiga bulan ini.


Walau tidak lagi kambuh, tetapi penyakit jiwa itu masih melekat di diri Kendra. Bagaimana tidak? Kendra tidak bisa tertekan sedikit pun. Kendra juga tidak boleh memikirkan hal buruk tentang pernikahannya di masa akan datang. Kendra juga sudah di sugesti oleh Tania, dokter ahli kejiwaannya sendiri. Bahwa dirinya akan hidup bahagia bersamanya sampai maut memisahkan mereka.


Tetapi apa yang menjadi jawaban Kendra saat itu? Ia bilang,


"Jika kamu pergi lebih dahulu, maka aku ikut denganmu! Tidak ada gunanya aku hidup, jika hidupku pergi meninggalkanku untuk selamanya! Daripada aku tersiksa seorang diri karena ditinggal pergi olehmu, lebih baik aku ikut denganmu! Kita akan bersama-sama menuju ke tempat dii mana semestinya!" ucap Kendra waktu itu yang membuat Tania menangis hingga tiga hari lamanya.


Dan hari ini?


Sekali lagi Kendra mengingatkan akan dirinya yang hanya seorang pasien penyakit jiwa. Dirinya sembuh hanya karena Tania. Sekiranya Tania waktu itu tidak kembali, maka seumur hidupnya akan gila. Bahkan sampai mati!


Deg!


Deg!

__ADS_1


Berdenyut ngilu jantung Tania saat mengingat ucapan Kendra tentang hal itu. Tania yang tidak sanggup pun, terjatuh ke lantai. Membuat Ziana, El dan Kendra secepat kilat memeluknya.


Tania tergugu. Ia menangis pilu di dalam pelukan Kendra, Ziana, dan El yang kini memeluk dirinya.


"Hiks.. Jangan katakan itu! Kenapa Abang selalu mengingatkan aku tetang itu! Tidakkah Abang tahu? Jika ucapanmu itu merobek dan memutus jantungku?! Huh? Bukankah sudah aku katakan! Kita berdua akan hidup bersama sampai maut memisahkan kita berdua-,"


"Tapi Abang tidak mau kamu pergi lebiih dulu. Abang akan mati bila itu terjadi," potong Kendra pada ucapan Tania yang belum selesai dengan bibir bergetar juga.


Ia memeluk Tania dengan erat saat ini, Ziana dan El segera menyingkir kala tatapan mami Annisa dan Ummi Mutia mengggeleng, menyuruh mereka untuk melepas Tania dan membiarkan Kendra yang memeluknya.


"Hiks.. Nggak gitu, Abang! Kenapa pikiranmu selalu itu-itu saja! Kita akan hidup bersama sampai tua! Sampai kita punya cicit seperti almarhum Oma Alisa! Hiks.. Kamu segalanya untukku! Kamu, lelaki yang pertama kali aku temui saat aku berusia lima tahun dulu. Lelaki yang pernah menggetarkan hatiku saat usiaku masih delapan tahun di rumah sakit Uwak Ira! Kamu ingat?! Huh?! Hiks..


Tetapi, Kendra bisa mendengarnya. Kendra semakin mengeratkan pelukannya di tubuh chubby Tania. Kendra bisa merasakan perut Tania yang semakin membuncit saat ini.


Ingin bertanya tetapi, bukan itu tujuannya saat ini.


"Berjanjilah Tania. Jika suatu saat abang yang lebih dulu pergi, maka kamu tidak boleh menikah lagi. Abang tidak mau kamu menjadi milik orang lain. Abang ingin kamu yang mendampingi diri yang gila ini di suga-Nya Allah. dan juga, kalau kamu yang pergi lebih dulu, maka Abang akan ikut denganmu. Abang akan meminta sama Allah untuk mengambil nyawaku saat itu juga. Karena aku tidak ingin berpisah denganmu! Abang akan mewasiatkan kepada anak kita kelak, bahwa ketika kita di kuburkan akan dalam satu liang lahat. Kamu di depan, dan abang di belakangmu. Abang tidak ingin jauh darimu sampai kita mati," lirih Kendra dan sangat jelas terdengar oleh semua tamu undangan, baik yang di dalam maupun di luar ruangan Hotel tempat di adakan acara akad nikah ulang serta acara resepsi keduanya.

__ADS_1


Mami Annisa, Papi Tama, Oma Linda, papa Fabian, Uwak Lana, Papi Rayyan, Papi Algi dan mami Kinara. Termasuk semua sepupu Tania, tertegun dan terhenyak mendengar ucapan Kendra baru saja.


Perkataan ini mengingatkan dirinya tentang dua orang yang paling mereka sayangi sudah pergi. Tetapi meninggalkan kenangan serta ucapan yang sama seperti Kendra ucapkan.


Tania semakin tergugu. Ternyata, Allah mengirimkan dirinya, Opa Gilang dalam wujud yang lain. Tania pernah meminta dan memohon pada Allah agar dirinya di berikan suami yang kelak sama seperti Opa Gilang. Taat pada Allah dan sangat meyayanginya hingga memilih mati berdua jika dirinya yang mati lebih dulu.


Tania semakin tersedu saat mengingat ucapan Opa Gilang dulunya,


"Kamu akan mendapatkan Opa Gilang versi kamu di masa depan!"


"Oh, ya? Bagaimana caranya Opa?" tanya Tania kecil saat berusia sepuluh tahun.


"Kamu harus meminta sama Allah lelaki tampan tetapi mapan yang sama persis seperti Opa. Tetapi, sebelum itu, kamu harus menjadi diri Oma Alisa dulu. Yang baik budinya, penyabar, penyantun dan sangat penyayang. Bonusnya, ia begitu ramah pada semua orang. Hingga Opa cemburu di buatnya!" ketus Opa Gilang waktu itu hingga membuat Tania tertawa terbahak.


Oma Alisa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat Tania yang sama persis seperti mami Annisa, putri kecilnya.


Sepintas ingatan itu masuk ke dalam ingatan Tania. Tania mengurai pelukannya dan menatap Kendra yang kini juga menatap dirinya. Tania tersenyum.

__ADS_1


"Aku berjanji! Jika kamu yang pergi lebih dulu, maka aku tidak akan menikah lagi! Aku akan menunggu takdirku sampai Allah menjemputku untuk membawaku bertemu denganmu. Dan apabila aku yang pergi lebih dulu, maka kita berdua akan pergi bersama. Menuju surga-Nya Allah kelak!" Jawab Tania begitu lugas dan mantap terdengar oleh semua orang.


__ADS_2