Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Merasa bersalah ( Zayden & Riya )


__ADS_3

Ehm, masih 21+ ye?


**********


Zayden duduk terpaku di tempatnya dengan hidangan yang masih lengkap. Abang dan kakak iparnya belum selesai makan saat dirinya datang untuk mengambil makanan buat Riya.


Zayden menunduk merasa tercubit hatinya saat Jia tadi memarahinya. Benar, semua itu salahnya. Jika saja ia tidak menyentuh Riya, pastilah Riya membantu Jia mebereskan rumah serta yang lainnya.


Masih teringat oleh Zayden tadi saat keduanya di kamar mandi. Puas di kamar mandi tanpa berbilas, keduanya langsung berbaring di ranjang ratu milik Riya. Keduanya seakan hanyut akan gelora cinta yang selama ini terpendam.


Zayden begitu kalap melihat tubuh istrinya hingga ia berniat akan membuka segel Riya siang itu juga.


"Boleh?" tanya Zayden pada Riya yang kini mengangguk dan trsenyum lembut padanya.


"Sedari dulu, aku milikmu. Lakukan apa yang kamu mau, Bang Zayden!" jawab Riya begitu mantap.

__ADS_1


Zayden menatap lekat wajah Riya yang begitu berminat saat melihatnya. Ia tersenyum. "Yakin?" Riya mengangguk. "Kalau kamu yakin, maka akan abang lakukan. Ingat, Sayang. Sekali abang merasakannya, abang tidak akan melepaskanmu sampai kamu tumbang!" kelakarnya yang membuat Riya tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas.


Zayden tidak tinggal diam saat melihat leher putih mulus tanpa cela itu terlihat begitu menggiurkan. Zayden mulai mereguk apapun yang ada pada tubuh istrinya. Apapun yang ia jumpai Zayden melahapnya dengan rakus hingga membuat Riya mengeram dan mende sah manja.


Zayden semakin bersemangat. Ia semakin gencar membuat tubuh sang pemilik hati itu terbang ke awan biru bersamanya. Jangan tanyakan kemana pakaian keduanya. Keduanya polos dan hanya tertutupi kain panjang kering saja. Sementara kain panjang basah tadi, sudah Zayden tanggalkan dari tubuh istrinya.


Zayden terus memacu has rat pada tubuh Riya. Ia memberikan rangsangan pada putik ranum pusat tubuhnya. Riya bergejolak. Suara alunan merdu khas Riya pun keluar. Rasa yang sangat sulit di jabarkan. Hingga tubuhnya melengkung seiring dengan cairan pertamanya keluar.


Zayden tersenyum. Ia segera mendekatkan pusaka tempurnya itu yang membuat Riya terlonjak dan hampir saja bangkit karena terkejut.


"K-katanya pisang ambon? Itu k-kenapa kayak rudal Amerika?!" tanya Riya pada Zayden yang kini tergelak mendengar ucapan istrinya itu.


"Empat tahun yang lalu, pisang ambon, Sayang. Kalau sekarang, ketemu pawangnya ia berubah menjadi rudal Amerika!" jawab Zayden masih dengan tergelak melihat wajah pucat Riya melihat senjata tempur miliknya.


"A-apa m-muat, Bang? K-kalau nggak muat, nggak usah aja, ya?" katanya dengan wajah memelas.

__ADS_1


Zayden terkekeh. "Kamu tenang saja. Ini akan sakit sebentar, setelah itu, rudal kamu ini akan masuk sempurna ke gawangnya. Bersiaplah, ugh," lenguh Zayden saat puncak kepala rudal itu memasuki gawangnya.


Riya memekik tertahan. Satu kali, gagal, dua kali, gagal juga. Hingga yang ketiga kali, Zayden memaksa masuk hingga membuart Riya menjerit seketika bersamaan dengan air matanya berlinangan. Riya terisak menahan sakit di bawah sana.


Zayden memeluknya dan memberikan ketenangan pada istrinya itu. Di rasa cukup tenang, barulah rudal Amerika itu bertempur dengan gawangnya untuk mencari kenikmaan bersama. Keduanya sampai lupa daratan saking nikmatnya perang dunia di atas kasur itu.


Zayden menghela napas mengingat itu. Matanya terpejam saat tangan halus menyentuh pipinya. Ia tersenyum. "Kenapa turun? Udah mendingan bunga mawarnya? Nggak sakit lagi?" tanya Zayden pada Riya yang kini tersipu malu mendengar pertanyaan Zayden tentang pusat tubuhnya.


"Masih, sih. Tapi, aku nggak enak sama Jia. Pastilah sore ini dia begitu sibuk. Bukan hanya memasak tetapi, juga mengurus tanaman Ummi. Apalagi kerbau peliharaan Abi? Ya, Allah, nggak enak bener akunya," lirih Riya merasa bersalah mengingat semua pekerjaannya di ambil alih oleh Jia dan Zayn tentunya.


Zayden tersenyum dan mengelus kepala Riya yang kini menelungkup di meja. "Tak apa, besok dan lusa, jadi tugas kita berdua untuk menyelsaikannya. Jia tadi udah ngomong, kok." Ucap Zayden menenangkan hati Riya.


Riya mengangguk setuju. Keduanya mulai menikmati makan malam berdua dan juga membersihkan seluruh sisa makanan yang di masak Jia dan Zayn tadi masak bersama.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih doa kalian. Alhamdulillah, othor udah sehat. 🙏🙏


__ADS_2