Princess Pratama

Princess Pratama
Tertekan batinnya


__ADS_3

"Ya Allah.. Ken! Sadar Nak!" seru Uwak Lana yang ditanggapi dengan pukulan begitu kuat di seluruh tubuhnya.


Begitupun dengan Aldo. Ia semakin kasihan melihat sahabat sekaligus bos nya ini. "Udah Ken.. Sadar.. Jangan seperti ini. Jangan menghukum dirimu sendiri Ken!" cegah Aldo pada Kendra yang kini ingin menendang kakinya.


Tenaga Kendra begitu kuat saat ini. Hingga sulit untuk dikendalikan. Ia semakin tidak terkendali. Jiwanya benar-benar tertekan karena masalah kedua istrinya.


"Nggak! Aku bukan pembunuh! Kau! Pergi! Aku tidak butuh jiwa sepertimu! Bukannya menenangkanku, tetapi kau malah menuduhku yang telah membunuh istriku! Tidaakk! Aku tidak pernah berniat menikahi keduanya untuk dibunuh! Aku mencintai Tania segenap hatiku! Aku juga menyayangi Ziana seperti adikku sendiri! Mana mungkin aku tega melenyapkan mereka berdua! Nggak! Kamu bohong! Pergi kamu! Arrggtt.. Tidaakk!! Aku bukan pembunuh! Aaarrggtthh.." teriak Kendra semakin tidak terkendali lagi.


Aldo dan Uwak Lana kewalahan menahan tubuh Kendra yang semakin mengamuk itu. Keduanya kewalahan menagani Kendra. Jika saja ia sadar, pastilah mereka bisa menenangkannya?


Tapi ini?

__ADS_1


Kendra sedang dibawah alam sadarnya. Ia sedang bertengkar dengan dirinya sendiri hingga terbawa ke alam nyata. Yang membuat kedua lelaki beda usia tetapi tenaga mereka itu luar biasa, kini menjadi kewalahan.


"Sadar Ken! Itighfar!"


"Nggak! Kalian salah menuduhku! Aku tidak melakukan apapun! Aku mencintai Tania sedari aku kecil! Mana mungkin aku tega membunuhnya! Nggak! Bukan aku!" katanya lagi masih dengan terus meronta.


"Tetapi itu memang kamu Kendra Wiryawan! Karena keegoisan kamu, sampai menghabisi nyawa Tania! Seandainya kamu tidak menikahi Ziana, pastilah Tania saat ini masih hidup! Kamu pembunuh Kendra! Kamu pembunuh! Kamu jahat! Kamu sudah melenyapkan Taniaku!!" suara jiwanya itu bergaung lagi di telinganya.


"Nggaaakk!! Aku bilang nggak ya enggak!! Aku tidak membunuhnya!! Arrgghhtt.. Pergi kamu! Pergi kamuuu!!" teriak Kendra lagi semakin mengamuk tidak jelas.


Sampai sang istri berteriak pun tidak ia pedulikan. Baginya kini, pasiennya. Kendra benar-benar dalam masa yang begitu sulit dan sangat berbahaya untuk mereka yang berada di sekitarnya.

__ADS_1


Malik segera mematikan sambungan poselnya disaat melihat Dokter Umar berlari kencang langsung menuju kelantai dua rumah Uwak Lana.


Sementara istrinya berlari tergopoh-gopoh sambil meninting tas miik sang suami yang sudah lebih dulu ngacir kerumah rekannya itu.


Malik menerima tas itu, dan meminta istri dokter Umar untuk istirahat di dalam. Beliau menurut.


Malik segera menuju ke lantai atas untuk memberikan tas milik dokter Umar yang ketinggalan.


Tiba disana, dokter Umar diserang panik karena menyadari jika tas nya tidak ikut terbawa bersamanya. Ia memukul kepalanya berulang kali sambil mengumpati dirinya yang pelupa karena panik.


Malik terkekeh melihatnya. Namun, kekehan itu berubah menjadi panik saat melihat Kendra semakin berteriak tidak karuan dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Ya Allah Abang.. Kenapa hidupmu begini? Begitu tertekan kah dirimu karena kehilangan kedua kakakku sampai kamu menangis dan mengamuk bahkan sampai di bawah alam sadarmu?" lirih Malik dengan dada yang begitu sesak melihat Kendra yang terus mengamuk memukuli sang papi dan juga asistennya sendiri memba bi buta.


Malik segera menyerahkan tas dokter Umar disaat belia sedang mensugesti Kendra untuk sadar. Berhasil. Tetapi hanya sebentar. Setelah itu, ia kembali mengamuk dan berteriak lagi masih dengan mata terpejam erat.


__ADS_2