
Pernikahan keduanya kini sudah sah, baik agama dan hukum. Jangan tanyakan kenapa bisa demikian? Itu semua Abi Kendra dan mami Tania yang mengurusnya. Jauh sebelum pernikahan kedua putranya terjadi, keduanya sudah emngajukan pembuatan buku nikah langsung pada kantor KUA setempat dengan nama kedua keponakan mami Tania dan Abi Kendra yang menjadi pilihan keduanya.
Makanya ketika Dzaki begitu ngotot tadi, membuat beliau begitu marah. Akan tetapi, mengingat rencana yang sudah Abi Kendra susun dengan susah payah agar tidak rusak, mami Tania bertahan. Hingga kedua putranya itu tahu kedua wanita calon istri mereka yang sebenarnya.
Saat ini, Dzaka dan Dzaki sibuk menatap istri mereka. Mahar belum di pasangkan karena kedua bocah tampan itu masih saja sibuk menatap lekat pada istri pilihan Abi Kendra yang membuat jantung keduanya seakan copot seketika saat mengetahui jika gadis yang keduanya rindui saat ini menjadi istri sah keduanya.
Mami Tania terkekeh. "Sudah dulu tatapan penuh cintanya! Nanti saja di kamar! Sekarang, pakaikan dulu mahar ini untuk kedua istri kalian!" titah Mami Tania yang diangguki dengan cepat oleh Dzaka dan Dzaki.
Keduanya bergerak cepat memasangkan mahar yang sudah menjadi milik kedua istri bocah tampan itu. Setelahnya, masing-masing dari mereka mengecup kening snag istri begitu lama dan dalam. Ada tetesan buliran bening menimpa di pipi istri keduanya.
Dalam isak tangis, keduanya membacakan doa untuk istri mereka. Setelah itu, mereka memeluk lagitubuh ramoing yang sudah sah menjadi istri mereka itu.
Kilatan cahaya dan juga rekaman video terus menyorot keduanya. Kedua gadis itu pun meneteskan air matanya. Kiana dan Riana memeluk suami mereka dengan erat yang di balas peluk erat oleh kedua bocah tampan dewasa itu.
__ADS_1
Mami Tania memeluk Mami Ziana. Keduanya begitu terharu melihat pernikahan itu kini terwujud dan terlaksana seperti keinginan mereka satu bulan yang lalu.
Pada saat itu, Abi Kendra dan Mami Tania sengaja terbang ke Kalimantan untuk menemui Mami Ziana dan Papi El. Keduanya mengatakan maksud dan tujuan mereka apa.
Awalnnya Kakek kevin dan Kakek Kevan menolak. Keduanya tidka setuju, takut jika kedua bocah tampan itu tidak akan pernah mau menerima kedua cucu cantik mereka berdua.
"Sudah, Abi berdua jangan khawatir. Serahkan tugas ini pada Kendra dan Tania. Kami berdua akan memenuhi keinginan El untuk menikahkan kedua putrinya dengan kedua pangeran sialanku itu!" ketus Mami Tania waktu itu begitu kesal mengingat kedua putranya itu memilihkan menantu yang lumayan bobrok untuk dirinya dan keluarga besar Pratama serta Wiryawan.
Mami Ziana terharu mendengar itu. Ia memeluk kakak sepupunya itu dan menangis di pelukannya. "Terima kasih karena Kakak mau menerima kedua putriku untuk kedua putramu. Aku yakin, Bang El pasti senang saat tahu dengan kabar ini. Kita tunggu dia pulang dari Malaysia, aku akan mengabarkan hal ini padanya. Biar menjadi kejutan untuknya!"
"Kejutan apa? Loh, Abang sama Kakak kesini? Dalam rangka apa?" tanya seseorang di depan pintu rumah besar itu dan menyorong kopernya masuk yang membuat semua orang refleks saja terkejut.
Apalagi mami Ziana. Ia sampai pingsan melihat kepulangan suaminya yang di katakannya dua hari lagi baru kembali ke Kalimantan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Sayang! Ya, elah, kok, pingsan, sih? Suami pulang bukannya di sambut, malah pingsan!" cerocos Papi El mengomeli mami Ziana yang saat itu pingsan.
Semua yang mendengarnya tertawa terbahak.. Jadilah, Papi El yang syok saat tahu tujuan kedua abang dan kakak iparnya itu. Akan tetapi, ia melompat kegirangan karena akhirnya, pemuda tampan mirip dirinya itu yang semua orang mengatakan putranya itu akhirnya akan menikah dengan putri kandungnya.
Betapa senangnya keluarga hari itu. Maka terjadilah kesepakatan itu. Yang mana, Abi Kendra akan membongkar identitas kedua calon menantu bobroknya dulu baru setelahnya menikahkan kedua anak manusia yang memang sudah saling menyayangi sedari kecil itu.
Mendengar cerita mami Tania, membuat Dzaka dan Dzaki memeluk wanita cinta pertamanya itu. Keduanya tidak menyangka, jika kejutan yang kedua orangtuanya itu berikan begitu besar hingga sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
"Terimakasih, Mami, Abi, kami tidak akan menolak istri pengganti pilihan kalian berdua. Hanya saja..." Dzaka menunduk kala mengingat abang sulungnya yang saat ini belum juga menemukan kedua kakak iparnya, padahal sudah empat tahun berlalu.
"Kenapa, hem? Kalian takut kami menua tanpa istri kami, begitu?" ledek si kembar sulung dengan senyum mirisnya.
Dzaka dan Dzaki spontn saja berdiri. Keduanya memeluk abang sulungnya yang semkain terlihat tampan dna gagah saja. Keduanya memeluk adik kecil yang kini sudah menjadi suami itu.
__ADS_1