Princess Pratama

Princess Pratama
Rasa bersalah Tania


__ADS_3

Ekhem, sedikit 21+ ye?


*****


Tania segera mengeluarkan Kendra dari bak mandi dengan cepat. Tidak ada penolakan dari suaminya itu. Kendra menatap Tania dengan raut datar tapi begitu sendu.


Tania semakin merasa bersalah melihat suaminya itu. Ia terus terisak sembari berusaha mengeluarkan Kendra dari bak mandi.


Tania membuka semua baju Kendra. Tanpa tersisa. Ia tidak peduli dirinya juga ikut basah karena membantu Kendra.


Rasa bersalah melihat Kendra seperti itu semakin membuat hatinya sakit. Sementara Kendra hanya diam membisu dengan bibir memucat.


Tania segera menangkup wajah semakin tirus itu. Dengan air mata yang mengalir, ia mengecup semua wajah Kendra yang terdiam tanpa ada respon sedikitpun darinya.


Hati Tania semakin sakit saat tidak merasakan balasan lagi dari Kendra. Padahal ia tahu, jika alat tempur suaminya itu sampai saat ini masih mengacung.


Tania tidak hilang akal. Kendra yang sudah polos pun tidak peduli lagi dengan dirinya. Tatapan matanya kosong. Tangan dan kakinya mulai keriput karena kedinginan.


Tania segera melepas bajunya dan berdiri dihadapan Kendra yang kini menatap dinding kamar mandi itu dengan tatapan kosongnya. Lagi, serasa ditusuk ribuan belati tajam saat melihat tatapan mata Kendra yang terlihat kosong itu.


Tania kembali memegang wajah pucat itu. Ia mengecup seluruh wajah itu dengan air mata yang terus berlinangan. Tetap saja. Tidak ada respon sedikitpun.

__ADS_1


Tania yang sudah setengah polos membungkuk. Ia ingin memanjakan suaminya dengan cara lain. Hal yang belum pernah ia lakukan, tetapi kali ini ingin ia lakukan.


Hap!


Kendra memejamkan kedua matanya dengan bibir pucat itu sengaja ia gigit saat sesuatu yang lembab itu menyentuh miliknya. Kedua tangannya terkepal erat.


Sedangkan Tania masih sibuk dengan segala urusannya. Ia semakin sibuk membuat Kendra kembali bergai rah seperti tadi.


Tanpa Tania sadari jika Kendra sudahlah terpancing. Bahkan bisa ular yang sudah lama terpendam itu akhirnya keluar juga didalam rongga yang tidak seharusnya.


Air mata Tania terus mengalir seiring bisa itu yang begitu cepat keluar. Tania semakin merasa bersalah kala menyadari, jika suaminya begitu menginginkannya.


Ingatlah ketika suami marah. Marah suami lebih menakutkan ketika dia mendiamkan kita. Jika ia marah dan melontarkan kata-kata yang menyakitkan, tidak apa. Itu lebih baik.


Karena kita bisa langsung tahu rasa sakit dihatinya. Dan kita pun akan merasakan sakit hati juga karena perkatannya. Tetapi berbeda ketika ia memilih mendiamkan kita tanpa sepatah katapun. Inilah marah yang sangat menakutkan.


"Allah akan melaknat seorang istri yang sudah membuat suaminya marah hingga tidak ridho padanya."


Allah akan meridhoi seorang istri jika suaminya telah ridho dengan kelakuannya. Inilah yang Tania coba lakukan saat ini.


Rasa bersalah dan juga takut akan Allah, Tania berusaha membuat Kendra baik lagi dan meridhoinya.

__ADS_1


Tania melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan ridho suaminya. Bahkan jika ia diminta untuk bersujud, Tania rela melakukannya. Asal Kendra meridhoinya.


Tania terus berusaha untuk meluluhkan sang suami yang berdiri seperti patung itu. Bernapas tapi tidak bergerak sedikitpun. Tania tidak kehabisan akal.


Ia berusaha membuat Kendra senang dengan pelayanan yang ia lakukan saat ini. Tania menuntun Kendra untuk duduk dan ia mulai beraksi.


Tania menatap pada wajah kuyu Kendra. Datar dan sendu. Tak ada raut bahagia dan puas disana. Tania pun semakin kuat untuk mendapatkan ridho suaminya itu.


Tak peduli jika tubuhnya kedinginan bahkan demam dikeesokan paginya. Yang paling utama saat ini ialah Kendra. Suaminya.


Ia ingin mendapatkan ridho suaminya gara-gara rasa bersalah dihatinya tidak terus menghantuinya lagi.


Entah berapa lama Tania melakukan hal itu pada Kendra. Dirasa semakin dingin, Tania menuntun Kendra untuk keluar dari kamar mandi. Sebelumnya, Tania mengambil handuk untuk mereka berdua.


Satu handuk bersama. Tania menuntun Kendra menuju pembaringannya. Tiba disana, Tania berusaha lagi untuk mendapatkan ridhonya.


Saat ia melakukan tugasnya, matanya tidak terputus menatap wajah Kendra yang tidak bereaksi sedikitpun. Hanya kedua tangannya saja yang menggenggam selimut sedikit erat ketika Tania bereaksi ditubuhnya.


Tania yang sudah kelelahan terkapar lemah diatas tubuh Kendra. Napasnya memburu. Ia berusaha melihat Kendra yang kini sudah memejamkan kedua matanya.


Disudut kedua matanya mengalir buliran bening yang membuat hati Tania kembali merasakan sakit. Tania kembali terisak dipelukannya.

__ADS_1


__ADS_2