Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Pergi


__ADS_3

Setelah keduanya bisa menenangkan diri, keduanya langsung menuju sofa dan duduk manis di sana. Membiarkan kedua orang itu masih berdiri menunggui suami mereka.


Sementara kedua suami itu mendadak diam dan menatap lekat pada istri mereka. Suster Ina yang paham, segera pamit menarik lengan rekannya yang enggan untuk keluar itu.


Sebelum itu, keduanya berpamitan dengan Zayn dan Zayden. Dan berjanji akan kembali besok pagi. Jia meremat ujung gamisnya dengan kuat.


Sakiittt!


Raung hatinya menahan rasa sesak yang terus mencuat di dadanya. Riya memegangi tangan yang menggenggam gamis itu.


Satu jam berlalu setelah kepergian dua suster itu, kedua suami istri kembar itu tidak ada yang bersuara. Zayn dan Zayden memilih untuk memejamkan mata keduanya tanpa memberikan jawaban kenapa kedua suster itu ada di sana. Zayden pun demikian. Ia pun ikut mendiamkan Riya saat ini.


Riya yang merasa dirinya sudah tidak dianggap memilih tertawa hambar seorang diri tanpa suara. Air mata itu terus berlinangan tanpa di pinta. Benar kata Jia, keduanya harus mengikhlaskan suami mereka yang kini sudah tidak menginginkan mereka lagi. Semua itu sudah terbukti saat ini.


Suami keduanya sudah tidak menginginkan mereka lagi.


Ke esokan harinya.


Jia sudah pulang untuk mengurus segala sesuatunya tanpa sepengetahuan Zayn dan Zayden. Hanya Riya yang tersisa di sana. Itu pun terus di abaikan oleh Zayden yang saat ini sedang berbicara dengan para suster kemarin yang menemani mereka. Pagi-pagi sekali keduanya sudah datang untuk memenuhi janji untuk memberikan makan pada keduanya.


Riya hanya bisa pasrah saat Zayden memamerkan kemesraan keduanya di hadapan dirinya. Zayden menerima dengan baik makanan pemberian suster Nata dan sesekali tertawa. Walau sesekali ia melirik Riya yang tidak merespon sedikit pun.

__ADS_1


Kedua suster itu pun seakan tidak peduli dengan keadaan Riya saat ini. Riya menahan rasa sakit seorang diri. Di hadapan matanya, suaminya itu menunjukkan kedekatannya dengan wanita lain.


'Segitu inginkah kamu lepas dariku suamiku? '


Deg, deg, deg..


Zayden menghentikan suapannya. Ia menatap datar pada Suster Nata yang saat ini tersenyum melihat padanya.


'Baik, jika itu keputusanmu. Maka ini juga keputusanku. Ku harap, kamu tidak menyesalinya. Aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu lagi setelah ini. Jaga dirimu baik-baik.'


Deg, deg, deg, deg..


Jantung Zayden seakan lepas dari tempatnya saat mendengar raungan hati Riya untuknya. Ia menoleh pada Riya yang kini sibuk memasukkan semua barang miliknya dan beranjak keluar.


Sayang..


Riya berhenti. Tanpa berbalik, ia pun berbicara melalui raungan hati yang saat ini sedang terluka.


Terima kasih untuk waktu yang sudah kamu luangkan untukku lima hari ini. Terima kasih, karena mu, aku tahu arti ketulusan dan kesetiaan. Terima kasih, karenamu, aku tahu jika kami para wanita hanya di inginkan sebentar saja. Setelah mendapatkan pengganti yang baru, kami di singkirkan, bahkan di abaikan. Terima kasih untuk semuanya, suamiku. Aku tunggu ikrar talak dari dirimu. Aku pergi! Selamat menempuh hidup barumu bersama orang sudah bisa mengurus dan merawatmu beberapa hari ini. Hubungan kita, cukup sampai di sini.


Blam!

__ADS_1


Pintu tertutup. Mata Zayden mengerjab cepat di sertai buliran bening yang kini terus mengalir tanpa henti. Zayden menatap suster Nata yang kini begitu panik melihatnya sedang menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Suster Nata yang tidak di jawab oleh Zayden melainkan tertawa.


Zayden tertawa. Zayn panik di buatnya. "Kamu kenapa Zayden! Kenapa? Ada apa?" tanya Zayn semakin cemas melihat saudara kembarnya itu yang tertawa sekaligus menangis di waktu bersamaan.


"Hahaha... Riya cemburu Bang! Dia pergi! Dia pergi lagi! Dia pergi! Baru saja pamit padaku! Hahaha.. Aku salah lagi kali ini! Hahaha.. Hiks.. Hahaha.. Hiks.. Hahaha.. Hiks.. Hiks.."


Jawaban Zayden baru saja menghantam sisi rapuh dalam jiwa Zayn. Ia menatap datar pada Suster Ina yang kini kebingungan melihat wajah datarnya.


"Pergi!"


Deg


Suster Ina terkejut. "Tapi, kenapa? Bukankah ini permintaan kalian kemarin? Demi bisa melihat istri kalian cemburu pada kami berdua?"


Zayn menatap dingin padanya. "Pergi!" teriak Zayn begitu menggelegar hinga keduanya terjingkat kaget.


Suster Ina yang ketakutan segera pergi di ikuti suster Nata. Keduanya ngacir begitu saja melewati Abi Prince yang kini juga berlarian menuju kamar keduanya.


"Pergi! Dia pergi! Kenapa pergi, heh! Aku bukan menyuruhnya pergi! Aku menyuruhnya bertahan! Kenapa?!" teriak Zayn yang mengejutkan Abi Prince yang baru saja membuka pintu ruangan menantunya itu.

__ADS_1


Matanya membeliak saat melihat Zayden yang kini sedang menangis tergugu sekaligus tertawa terbahak-bahak. Sementara Zayn sedang mengamuk melempari apa yang ada di dalam ruangan itu.


__ADS_2