
Kelima orang tua itu termenung memikirkan ucapan Kendra baru saja. Benar kata Kendra. Jika bukan karena keegoisan mereka para orang tua, maka tidak mungkin Kendra, Tania dan Ziana terikat dalam benang merah yang kini menimpa mereka bertiga.
Uwak Lana medaratkan tubuhnya di lantai saat menyadari rasa bersalah kepada ketiga anak muda itu semakin merasuk ke dalam hatinya.
Begitupun dengan Ummi Mutia. Dialah yang paling terluka dna tersaliti karena perbuatannya sendiri. Demi menuruti kemauan suami gadungannya, ia terpaksa harus membuat Kendra dalam sebuah dilema yang berat.
Yang Kendra sendiri tidak bisa menolak permintaannya yang sebenarnya sangat melukai hati putra sulungnya itu. Namun, apa yang terjadi saat ini tidak mungkin bisa di ubah lagi.
Mereka semua harus emngikuti alur yang sudah ditentukan dan mengikuti kemana arus air membawa mereka semua.
Ummi Mutia yang snaagt bersalah kepada ketiga anak muda itu. Seluruh tubuhnya sakit semua saat melihat di dalam tidurnya, air mata putra sulungnya itu terus menaglir.
"Maafkan Ummi, Nak. Ummi salah padamu. Jika saja Ummi tidak memaksamu, maka kejadiannya tidak akan seperti ini. Hiks.. Bang Lana.." ucapnya pada Uwak Lana yang kini menatap langit-langit rumah dengan buliran bening ikut mengalir di pipinya.
"Abang tahu Tia. Bersabarlah. Aldo!"
__ADS_1
"Iya Tuan!"
"Segera cari keberadaan Ziana. Saya sudah memberikan kalung yang berliontinkan pelacak disana. Karena saya tahu ia akan menghadapi ini. Jika ia baik-baik saja, itu sangat bagus untuk kita. Tetapi jika ia tiada.."
Deg!
Uwak Maura menoleh padanya. "Maka kita akan membawa pulang jenazahnya. Sama seperti Tania.." lirihnya dengan leher tercekat.
Ia menatap Kendra yang semakin deras mengeluarkan air matanya.
"Maafkan Uwak, Ken.. Uwak akan berusaha mencari Ziana. Baik hidup ataupun mati. Kita tetap mencarinya." Lirih Uwak lana sambil menatap pada Aldo.
Laptop milik Kendra yang diserahkan padanya saat mengurus perusahaannya di Singapura sana.
Uwak Lana menerawang jauh saat suara tawa Ziana terngiang di telinganya. Baru tadi siang ia mendengar suara gelak tawa Ziana, putri sulungnya. Tetapi malam ini?
__ADS_1
Sunyi senyap seketika. Uwak Lana kehilangan suara ceria dari putri sulungnya itu. Baru beberapa jam saa, tetapi ia sudah merasa kehilangan. Ia menatap nanar pada Kendra.
Inikah yang Kendra rasakan? Sakit kehilangan anggota saat bekerja berbeda dengan orang yang sangat kita sayangi.. Maafkan papi, Nak. Papi salah karena sudah melibatkanmu dalam masalah ini. Maafkan papi, Sayang..
Batin Uwak Lana semakin nelangsa mengingat entah dimana saat ini keberadaan putri sulungnya yang diculik oleh Paman Kevan saudara kembar Abi Kevin.
Uwak Maura tidak bisa berbicara saat ini. Lidahnya kelua walau untuk membantah Kendra. Apa yang baru saja Kendra katakan begitu menohok dirinya.
Benar katanya. Jika ia yang berada diposisi Kendra, maka ia tidak akan sanggup. Ingatkan saja dulu dirinya begitu marah dan terluka ketika kakak sulungnya menghianati dirinya di malam pertama mereka menikah.
Sepintas kenagan masa lalu itu terlintas di benaknya. Bagaimana ia marah saat tahu jika calon suaminya harus menikahinya padahal suaminya itu menyukai kakak sulungnya.
Jika Uwak Lana tidak datang waktu itu, bisa jadi saat ini ia sudah menikah dengan suami kakak nya itu.
Uwak Maura menunduk, menekan rasa sesak didadanya. Ia berlalu dari kamar putri sulungnya untuk menuju ke bawah dimana ketiga anaknya kini sedang saling berpelukan karena takut mendengar suara Kendra tadi.
__ADS_1
Sambil menuruni tangga, ia memikirkan nasib putrinya, kendra dan juga Tania. Mengingat Tania, ia sedikit ragu dengan ucapan kendra.
Apa benar Tania masih hidup? Jika iya keponakanku itu masih hidup, kenapa Annisa dan Bang Tama memberitahu Kendra dan Bang Lana jika Tania sudah meninggal? Bahka saat acara penguburan jenazah Tania pun mereka berdua menyaksikannya? Terlebih Kendra? Lalu, kenapa Kendra menyangkalnya? Ini kok jadi aneh ya? Apakah mereka yang di Singapura sana sengaja menyembunyikan Tania dari Kendra? Tapi untuk apa? Batinnya terus bertanya-tanya kemungkinana yang terjadi saat ini.