Princess Pratama

Princess Pratama
Ridhoi aku, Suamiku..


__ADS_3

Entah berapa lama Tania terisak dipelukan Kendra, ia pun tidak tahu. Dirinya terkejut kala mendengar suara erangan dari Kendra karena merasa tubuhnya begitu berat dan sakit karena menjadi tumpuan tubuh Tania yang membuatnya sesak.


Bukan tidak ingin membangunakn Tania. Hanya saja, dirinya pun sangat kelelahan akibat ulah Tania. Walau dirinya tidak bergerak seperti biasa yang ia lakukan pada tubuh Tania, tetap saja. Ia mengalami pelepasan hingga berapa kali.


Membuat tubuh Kendra lumayan lemah dan tak bertenaga. Ia pun terlelap setelah memastikan Tania pun terlelap ditubuhnya. Akan tetapi, ditengah malam. Dadanya terasa sesak karena merasa sulit untuk menarik napasnya.


Akibat paru-parunya yang terhimpit oleh tubuh Tania yang sangat betah diatas tubuhnya itu. Ia pun memilih mengerang kecil untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Yang tidak disangka olehnya, Tania terkejut dan segera berguling sembari melepaskan tautan tubuh keduanya.


Ia bisa bernapas lega kala tidak merasakan sesak lagi. Ia kembali memejamkan kedua matanya yang terasa sangat mengantuk itu.


Tania yang sadar karena suara lenguhan Kendra, segera bangkit dari tubuh sang suami dan berguling ke sisi kiri Kendra. Mata Kendra yang terpejam tapi napasnya kembali teratur.


Tidak seperti tadi. Tania bisa bernapas lega. Ia mengambil lengan Kendra dan tidur dilengan itu sambil memeluk tubuh polos Kendra yang sama sepertinya.


Jangan tanyakan apakah ada orang yang mendengar mereka? Tentu saja tidak ada. Kamar Kendra berada dipaling ujung rumah sakit itu. Sengaja ia memilih disana, karena jendela ruangan itu langsung menuju ke jalan raya.

__ADS_1


Cctv yang biasanya dihidupkan pun tadi malam Om Kenan matikan sementara. Guna untuk menimalisir keadaan sesuatu yang tidak ingin mereka lihat nantinya.


Dan benar saja. saat pasangan suami istri itu datang, keduanya segera menuju keruangan Dokter Dimas. Khusus untuk melihat kedua anak manusia itu.


Awalnya tidak terjadi apapun. Tetapi setelah lama diamati, ternyata pasangan itu sedang beraktivitas dibawah selimut mereka yang membuat Om Kenan dan tante Bella saling pandang kemudian tertawa bersama.


"Untung saja kita matikan semalam cctv nya?" katanya pada tante Bella yang diangguki oleh istrinya itu.


Keduanya segera menuju keruangan mereka karena waktu untuk bertugas sebentar lagi akan dimulai.


Tania menatap lekat wajah Kendra yang masih terpejam. Tania mengecup seluruh wajah tampan tapi kurus itu.


"Ridhoi aku, Suamiku.. Maafkan aku.. Aku salah karena sudah menyinggunmu. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Tujuanku berbicara seperti itu ialah seperti yang terjadi seperti sekarang ini. Biar aku yang memegang kendali. Kamu cukup diam dan menikmati. Tetapi, belum lagi aku berbicara. Kamu sudah tersinggung dengan ucapanku! Maafkan aku, Suamiku.. Bukan maksudku menyinggungmu. Tidak sama sekali. Aku sangat menyayangimu. Sangat mencintaimu. Kamu segalanya untukku. Maafkan aku yang telah membuatmu merasa tidak nyaman..


Ridhoi aku, Suamiku. Ku mohon.. Ridho Allah tergantung ridhomu! Cup, cup, cup." Tania mengecup seluruh wajah yang kini menatap lekat padanya itu.

__ADS_1


Lama keduanya saling bertatapan. Mata Tania mengembun kembali karena tidak mendapat balasan dari Kendra. Kendra tetap menatapnya. Dirasa cukup, Kendra pun menggeser lembut tubuh Tania.


Tania tersenyum tapi sendu.


"Ayo kita mandi dan sholat subuh dulu. Walau sudah kesiangan, tak apa. Baru kali ini 'kan kita kesiangan?" katanya pada Tania dengan suara lembut dan merdunya.


Yang membuat mata Tania menumpahkan air bening itu ke pipinya.


Kendra bangkit setelah menggenakan celana panjangnya. Sementara Tania, memungut bajunya dan mengikuti Kendra untuk masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri dan menunaikan kewajiban mereka.


Keduanya tidak saling berbicara seperti kemarin. Keduanya diam hingga seorang suster mengetuk pintu ruangan itu karena mengantar sarapan pagi untuk Kendra.


Tania tersenyum pada suster itu. Ia segera membawa nampan sarapan pagi milik Kendra dan meletakkannya dihadapan Kendra yang kini sedang terpejam dengan buliran tasbih ditangan kanannya.


Mendengar suara napan makanan, Kendra membuka matanya. Saat melihat sekeliling, ia tidak melihat Tania lagi.

__ADS_1


Kendra menghela napas berat. Ia menurukan nampan itu dan meletakkannya dimeja nakas. Ia ingin menunggu Tania kembali baru sesudahnya mereka makan bersama.


__ADS_2