
"Nggak! Kamu nggak salah, Abang! Kamu benar! Tetapi akulah disini yang salah dan sangat egois! Seharusnya aku dulu bertahan dan selalu bersama mu? Tetapi apa yang aku perbuat? Aku malah pergi meninggalkan dirimu! Aku pergi karena sakit hati dan cemburu! Tanpa aku bertanya bagaimana hati dan perasaanmu, aku pergi meninggalkanmu tanpa sepatah katapun!
Seharusnya aku bertanya. Apa dan kenapa kamu melakukan hal ini. Tetapi tidak! Aku malah pergi dna meninggalkanmu begitu saja! Aku yang salah! Aku egois! Setelah aku melihat keadaanmu melalui tante Bella, barulah aku sadar, Jika aku.. Hiks.. Aku salah. Aku bersalah karena telah meninggalkanmu.
Sebagai seorang anak, kamu memang harus berbakti padanya. Beliau surga mu. Sedang surgaku ada ditelapak kakimu. Aku bersalah karena telah pergi darimu. Aku tahu, jika adikku menyukai kamu. Tetapi.. Hiks.. Aku cemburu! Hiks.. Aku tidak sanggup melihatmu tertawa bersamanya. Hatiku sakit! Aku tidak sanggup!
Aku sempat ingin bu nuh diri karena tidak sanggup menerima kenyataan jika kamu bermalam dengannya.." bisik Tania diakhir kalimatnya begitu pelan.
Tetapi masih terdengar jelas ditelinga Kendra. Kendra terkejut mendengarmya.
"Apa? Kamu pernah melakukan percobaan bu nuh diri?" tanya Kendra pada Tania yang kini mengangguk masih didalam pelukannya.
"Hiks.. Aku nggak kuat membayangkan jika kamu berbagi anu..." jawab Tania semakin menenggelamkan wajahnya didada kurus Kendra.
Kendra mengernyitkan dahinya. Ia mencoba mengerti kemana arah ucapan Tania. Setelah ia paham, Kendra terkekeh.
"Nggak gitu juga, Hunny. Abang tidak pernah menyentuhnya hingga seintim itu. Hanya kamu satu-satunya abang sentuh. Percayalah!" Ucapnya masih mencoba meyakinkan Tania yang kini semakin tersedu.
"Aku nggak sanggup menerima itu! Aku nggak bisa! Memikirkannya saja, membuatku stress! Hampir saja anak kita keguguran karena pikiranku selalu dihantui oleh hal itu! Hiks.. Aku tidak sekuat itu dulunya. Hiks.. Tapi saat ini, aku baru sadar dan paham. Jika inilah takdirku! Inilah yang harus aku lakukan. Aku berusaha keras belajar untuk cepat lulus demi bisa cepat kembali dan mengobati kamu, Bang Kendra!
__ADS_1
Aku sadar. Aku salah karena telah meninggalkanmu. Tapi untuk sekarang? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi dalam keadaan apapun!
Aku kembali untukmu. Tak apa jika aku berbagi kamu dengan adik kesayanganku. Toh, Ziana kan adik sepupuku? Bukan adik kandungku? Walau aku sangat menyayanginya, tapi aku ikhlas dan rela. Sungguh!" kata Tania pada Kedra yang dijawab dengan gelengan olehnya.
"Nggak! Abang tidak bisa membagi hati dan tubuh abang untuk adik sepupumu yang merupakan istri keduaku. Abang menikahinya karena bakti abang sama Ummi. Dan bakti itu sudah selesai ketika abang tidak lagi bersamanya. Abang tidak penah menafkahi Ziana. Baik lahir maupuan batin! Berbeda denganmu!" Ucap Kendra yang ditatap serius oleh Tania yang kini sudah duduk dihadapannya Begitupun dengan Kendra.
"Maksud abang, kalau aku selalu dinafkahi begitu?" tanya Tania yang diangguki mantap oleh Kendra dengan wajah seriusnya.
"Ya, abang menafkahimu selama ini. Selama hampir tiga tahun ini, abang tidak pernah putus untuk mengirimkan nafkah untukmu!" Jawab Kendra yang ditertawakan oleh Tania.
"Tapi bagaimana caranya Abang? Bukankah selama dua tahun lebih sembilan bulan ini kamu berada dirumah sakit jiwa milik Om Dimas?" tanya Tania lagi masih belum percaya dengan ucapan Kendra baru saja.
"Hah? Kok bisa? Bagaimana mungkin? Bukannya perusahaan abang sudah bangkrut ya? Bukankah ketika kita menikah dulu, kamu tidak bekerja?" Ucap Tania masih belum percaya.
Kendra tersenyum, "Nanti kamu akan tahu. Untuk sekarang, pakaikan dulu celana abang. Masa iya kamu biarkan Ken junior kedinginan? Tega kamu sama dia!" sewot Kendra pura-pura. "Udahlah jatah nggak dapat selama hampir tiga tahun ini, pas mau pergi pun kamu nggak kasih bekal, dan ketika abang menyentuhmu untuk pertama kalipun itu hanya tujuh hari, Hunny! Tega kamu!" ketusnya masih pura-pura.
Lagi, mulut Tania menganga. Ia terperangah dengan ucapan Kendra padanya. Kendra melengos ke arah lain saat ia ditatap oleh Tania.
Kendra ingin tertawa sebenarnya melihat wajah Tania merona. Tetapi sengaja ia tahan. Sengaja, ingin melihat seperti apa istrinya itu jika dibahas kearah ranjang.
__ADS_1
Dan benar saja. Pipi sang istri bersemu merah walau mulutnya menganga.
"Ka-kamu.. I-i-tu-tu..." tunjuknya pada Ken junior yang kini siap tempur berdiri tegak seperti pohon kelapa bengkok sedikit itu.
Mata Tania kembali membola melihatnya. Bagaimana tidak, Kendra dengan sengaja melepas ikatan handuknya yang terlilit dipinggang kurusnya itu.
Kendra menaik turunkan alisnya menggoda Tania. Tania menatap junior itu dengan bulu halus meremang di sekujur tubuhnya.
"Kenapa? Tidak kasihan kah kamu sama dia? Dia kedinginan loh.. Udah lama nggak jumpa sarang empuk dan legitnya!" ucap Kendra sembari mengedipkan mata nakal menggoda Tania.
Lagi, pipi sang istri bersemu semakin merah. Wajah Tania memanas seketika. Ia melengos ke arah lain.
"Pakai celana kamu kalau nggak mau Junior kamu akan aku potong!" ketus Tania sambil berdiri diikuti Kendra.
Kendra tertawa mendengarnya. "Kalau kamu potong, kamu tidak bisa merasakannya lagi nanti! Mau? Si junior ini jadi pendek dan tidak berhasil mengobrak abrik sarang kamu? Hem?" godanya lagi yang dihadiahi tepukan kuat di lengan kurusnya.
Kendra tertawa melihat wajah Tania semakin memerah.
"Kamu pikir, punya kamu itu kayak punya putra kita? Kecil dan mengkerut begitu?" Ketus Tania sembari memakaikan CD dan juga celana panjang baju pasien rumah sakit.
__ADS_1
"Hahahaha..." Kendra tertawa puas saat melihat wajah Tania semakin memerah karena merasa malu pada benda keramat yang pernah ia rasakan tiga tahun yang lalu itu yang sudah berhasil mengobrak abrik sarangnya hingga bayangan itu selalu menghantui Tania selama bepisah dari Kendra.