
Kedua Pengantin baru itu masuk ke dalam rumah dan menemui istri mereka. Pasangan pengantin baru itu memilih makan di ruang dapur dekat dengan pintu dapur. Disana banyak tanaman Ummi Alzana untuk mereka lihat.
Dua pasang pengantin baru duduk bersama sambil menikmati srapan pagi mereka. Jia yang terlalu mengantuk sampai terlelap di senderan bahu Zayn.
Zayden yang melihat itu kembali tertawa. Riya merona malu. Saat ini keduanya tidak menggunakan niqob. Keduanya terbuka. Jika di perhatikan secara lamat, keduanya tidak ada perbedaan. Sangat mirip. Zayn dan zayden pun demikian.
Kehidupan pengantin baru itu terus berlanjut seperti pasangan lainnya. Hanya saja keduanya kini sudah tinggal dalam satu kamar yang sama. Ke sekolah pun berangkat bersama. Keduanya sudah memiliki motor yang di beli dengan uang sendiri.
Abi Prin dan Abi Kendra memberikan mobil untuk keduanya. Tetapi, keduanya menolak. Keduanya lebih menyukai menggunakan motor agar tidak terlalu mencolok.
Zayn dan Zayden sudah kembali seperti semula. Kembali menjadi Pangeran buluk seperti saat keduanya menemui suami mereka itu. Riya dan Jia tak sekalipun mersa malu saat kedua orang itu menjemput mereka. Tak pernah tidak menjemput.
Zayn dan Zayden selalu menyempatkan diri untuk menjemput intri mereka berdua. Kalaupun tidak bisa, mereka akan mengatakannya dari awal. Semua sekolah tahu jika kedua lelaki itu tunangan keduanya. Bukan suaminya. Pihak sekolah tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, masih tunangan belum menikah, menurut mereka. Padahal keduanya sudah menikah secara resmi. Buku nikah pun sudah keluar dan berada di tangan keduanya.
Hari-hari terus berlanjut tanpa drama apapun. Kehidupan rumah tangga keduanya sangat aman dan damai. Keduanya hidup aman dan sejahtera.
Hingga tiga tahun berlalu.
Riya dan Jia sudah tamat dari sekolah mereka. Sementara Zayn dan Zayden sudah berangkat keAmerika untuk melanjutkan sekolah keduanya saat istri mereka kelas dua SMA.
Berat untuk meninggalkan keduanya. Tetapi, keduanya harus pergi demi menuntut ilmu dan juga demi menjadi penerus keluarga. Terutama keluarga Wiryawan.
Sempat keduanya merajuk karena di tinggal pergi. Tetapi, itu cuma sementara. Satu minggu keduanya berada di Amerika, istri mereka sudah mengamuk ingin ikut keduanya ke sana. Zayn dan zayden hanya bisa menggoda keduanya hingga membuat dua gadis kembar itu menangis karena kesal.
Dan hari ini, mereka akan sudah lulus dari SMA. Minggu depan merupakan acara kelulusan suami mereka di Amerika. Ummi Alzana dan abi Princee akan mengantarkan mereka berdua ke Amerika sebagai kejutan.
Kedua orangtua itu sengaja tidak memberitahukan kakak sepupu mereka tentang keberangkatan ke empatnya. Karena mereka berempat ingin memberikan kejutan untuk kedua pangeran kembar buruk rupa itu.
Menurut mami Tania, keduanya tetap memakai pakaian buluk itu. Riya dan Jia terkekeh mengingat akan hal itu.
__ADS_1
Mereka berdua sangat merindukan suami mereka.
"Kira-kira, abang terkejut nggak, ya, saat kita kesana?" tanya Jia pada Riya yang kini sedang berkemas menyiapkan bajunya.
Ia tersenyum. "Tentu saja, Dek! Mereka pasti terkejut saat melihat kedatangan kita!" katanya sambil tertawa.
Jia pun ikut tertawa. Tetapi, entah kenapa hatinya merasakan kegelisahan yang sangat membuat dadanya sesak.
Ada apa denganku? Kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini? Apakah akan terjadi pertanda buruk? Gumam hati Jia begitu gundah gulana.
Demikian pun dengan Riya. Kenapa aku terus memikirkan Bang Zayden? Ada apa dengannya? Tidak biasanya hatiku gelisah saat mengingatnya?
Keduanya merasakan sesak yang tiada tara dengan jantung terus berdebar cepat. Tak mereka pungkiri saat ini, pikiran buruk sedang menghantui kedua istri muda itu.
Satu minggu berlalu.
Keduanya pun memilih berdiam diri. Berharap hati keduanya pun sedikit lega setelah tiba nanti. Butuh waktu 18 jam 55 menit untuk tiba di Lon Angeles, Amerika Serikat.
Riya dan Jia semakin ketakutan dengan keringat dingin saat kaki mereka menginjakkan tanah Amerika. Keduanya berpegangan tangan dengan erat. Ummi Alzana memeluk suaminya dengan erat.
Seperti akan terjadi sesutu di sana. Ke empat orang itu saling menguatkan satu sama lainnya. Jika Ummi Alzana dengan suaminya. Begitupun dengan Riya dan Jia. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat suami mereka, keringat dingin dengan jantung terus berdetak menyambangi tubuh mereka.
Berulangkali menghela napas berat. Entah kenapa dan apa. Hingga satu jam berlalu dari bandara langsung menuju hotel tempat di adakannya acara kelulusan suami mereka.
Ketika masuk ke dalam hotel itu, jantung keduanya mencelos melihat suami mereka yang terliaht begitu tampan di sana. Keduanya saling pandang. Ada juga mami Tania dan Abi Kendra yang kini sednag bercengkrama dengan dua orang gadis yang entah siapa.
Ke emapt orang itu terus berjalan memasuki ruangan aula itu dna duudk di bangku yang sudah Abi Prince pesankan. Acara itupun berjalan dengan khidmat.
Ternyata, kedua suami mereka mendapatkan hasil begitu menakjubkan. Keduanya meraih predikat terbaik di tahun ini. Keduanya di berikan penghargaan oleh pihak kampus.
__ADS_1
Riya dan Jia tersenyum senang melihatnya. Hingga tiba bagi keduanya untuk melakuakn kata smabutan. Jantung kedua istri itu berdegup semakin kencang.
"Terima kasih kami ucapakan bagi kedua orangtua kami yang sudah emndukung kami dalam hal menuntut ilmu. Dan juga .. Dua orang gadis yang merupakan calon tuangan kami berdua di sana!"
Dduuaar!
Tersentak kedua istri mendengarnya.
"Keduanya lah yang telah mendukung kami sejak kami mulai sekolah disini yang tidak tahu apapun! Terima kasih untuk abi dan Ummi, kalian berdua yang terbaik!" ucap Zayn mewakili saudra kembarnya.
Mami Tania tersenyum melihat itu. Semenatar di kursi bagian belakang? Keduanya luluh lantak dna tak berkeping. Ummi Alzana meremat kuat tangan Abi Prince untuk sekedar mencari kekuatan.
Riya yang merasa sakit hingga ke seluruh tubuhnya segera membuka maskernya dna mendekati keluarag suaminya yang sednag tertawa bersama itu.
"Ehm, selamat buat kalian berdua!"
Deg
Deg
Deg
Kedua lelaki sama persisi itu terkejut bukan main. Keduanya sampai berdiri saat melihat ada Riya, Jia dan kedua mertua mereka. Begitu juga dengan mami Tania dan Abi Kendra.
Abi Kendra sampai terpaku saat melihat tatapan mata Abi Prince yang begitu dingin pada mereka semua.
"R-riya, J-jia-,"
"Kenapa? Hem? Terkejut saat melihat istri SAH berdiri di sini? Kenapa terkejut? Seharusnya kalain senang 'kan saat menguummakn pernikahan kalian di sini tanpa sepengetahuan kami? Bukan begitu mami Tania? Mami mertua?"
__ADS_1