Princess Pratama

Princess Pratama
Masih belum sadarkan diri


__ADS_3

"Jawab Nna. Kenapa kamu diam? Kamu tidak bisa menjawabnya?" Desak Aldo pada Ziana yang kini masih menunduk dan tidak ingin melihatnya.


Kedua tangannya saling menggenggam dan mere mas satu sama lainnya. Aldo menghela nafasnya.


"Kamu tidak bisa menjawabnya 'kan Nna?? Kenapa? Benar dugaan Abang jika kamu juga sama seperti kakak sepupu mu? Menyukai dan mencintai lelaki yang sama?" lanjutnya yang membuat Ziana terisak.


Gadis kecil yang masih berusia enam belas tahun itu terisak di hadapan Aldo. Aldo melepaskan tangannya dari tangan Ziana membuat gadis kecil itu tersentak dan kembali menggenggam tangan Aldo dengan erat.


"Hiks.. Jangan! Jangan tinggalkan aku! Aku akan hancur jika Abang pergi! Aku nggak punya tempat untuk berbagi selain Abang! Bang Kendra itu suami kakak ku. Kami menikah hanya untuk menyelesaikan suatu masalah. Abang tahu itu! Jangan bang! Jangan tinggalkan aku! Sampai kapan pun!" tukas Ziana sedikit gusar melihat wajah Aldo kini menjadi datar dan dingin saat melihatnya.


Ziana merasa tercubit hatinya. "Ma-maaf Bang.. Aku.. Aku.. I-itu.. Ma-maaf.." hanya itu yang bisa Ziana ucap saat ini.


Ia tidak berani berkata yang lain dari itu.


Bibirnya terasa kelu untuk berbicara. Aldo menghela nafas panjang. "Tidak usah di jawab Nna. Abang tahu kok. Lebih baik kamu mengurus suami mu dulu. Abang mau keluar. Urus suami kamu dengan baik. Saat ini, Kendra suami kamu. Paham?" tekan Aldo semabri berlalu meninggalkan Ziana yang kini menatap nanar dan sendu padanya.


"Abang..."


Aldo berhenti, ia menoleha pada Ziana yang kini menangis melihatnya pergi. Ia tersenyum, "Urus dulu suami kamu. Abang hanya keluar kok. Ya?"


Ziana menggeleng, "Abang disini. Temani aku!" pintanya dengan sedikit menekan yang membuat Aldo terkekeh.


"Baiklah yang mulia.. Apapun keinginan mu!" jawabnya sambil melangkah masuk menuju ke kamar Kendra lagi yang membuat istri kedua Kendra itu menyunggingkan senyum manis walau dengan wajah basah air mata.


Ziana tersenyum senang. Ia kembali bersemangat dan mengurus Kendra sampai suaminya dan suami kakak nya itu sadar kembali.

__ADS_1


Tapi sampai kapan?


Entahlah. Hanya Tuhanlah yang tahu.


Di Singapura.


Mami Annisa dengan setia menunggui Tania yang tidak sadarkan diri sedari ia pingsan subuh tadi.


Mereka tiba pukul lima waktu subuh di indonesia, sedang di Singapura lebih cepat satu jam nya. Mereka tiba dirumah Dinas milik perusahaan mereka sudah hampir terbit matahari waktu Singapura.


Tania yang sudah cukup tidur walau hanya beberapa jam, kembali beraktivitas. Dirinya langsung saja membereskan rumah dan juga membereskan semua baju-bajunya.


Setelahnya ia masak untuk kedua orang tuanya. Saat kejadian itu terjadi, ia sedang ingin minum. Baru saja ia menuangkan minum itu dalam gelas.


Ponselnya berbunyi. Tania melihat video yang dikirim oleh Kendra. Mendadak dunia nya runtuh saat itu juga.


Tania jatuh sampai membentur tepi meja. Ia pingsan dengan pelipis memar. Hingga saat ini ia belum sadarkan diri.


"Iya, iya baik. Tania pun demikian disini. Iya, masih pingsan. Mungkin keduanya kontak batin? Hem, ya sudah. Iya Maulana... Nggak pa-pa. Kamu tenag saja. Buat Kendra senyaman mungkin selama berada di rumahmu. Jangan buat dirinya tertekan dengan kabar Tania yang juga sama sepertinya. Baik, wa'alaikum salam.." ucap papi Tama


Ia melihat mami Annisa yang kini sedang melihatnya. "Kenapa? Menantu sialan mu itu pingsan juga??" ketus mami annisa tiba-tiba kesala pada menatu nya itu.


Papi Tama terkekeh. "Jangan begitu sayang.. Ngga baik. Bagaimana pun Kendra itu suami Tania. Kita tidak tahu kenapa ia menikah dengan Ziana. Lana hanya bilang sama Abang. Kalau Kendra melkauakn ini demi melepaskan diri dari kelurga Wiryawan. Benar atau tidak, kita lihat saja nanti." Balas papi Tama sambil terkekeh melihat wajah malas mami Annisa.


"Terserah!" ketusnya yang membuat papi Tama tertawa.

__ADS_1


"Jangan ngambek. Kamu nggak cocok jadi nyai lampir!"


Mami Annisa melotot. Papi Tama tertawa lagi. "Kamu itu cantik. Nggak cocok bermuka kayak maklam seperti itu!" papi Tama tertawa lagi.


Mami Annisa yang kesal, menepuk lengan suaminya itu berulang kali. Ia terus saja menggoda istrinya yang membuat Tania di dalam tidurnya tersenyum melihat interaksi kedua orang itu.


"Hem.. Aku merasa tenang dan nyaman seperti ini disini. Tetapi di ujung sana aku melihat Bang Kendra ya? Dengan siapa ya dia disana?? Hem.. Lihat dulu lah!" katanya sambil mengikuti jalan setapak di tempatnya berdiri dan melihat dimana Kendra berada.


Tiba disana, kakinya terpaku di tempat kala melihat Kendra sedang bermain dengan dua orang anak kecil berusia dua tahun yang begitu mirip dengannya.


"Mami!!!" pekiknya yang membuat Tania lagi dan lagi terpaku melihat wanita yang saat ini bersama Kendra dan dua bocah kecil itu.


"Iya sayangku, sudah puas main bersama papi??"


"He'um sudah! Ayo kita pulang Mi!" jawab anak berusia dua tahun itu sambil menarik tangan sang mami yang kini tertawa melihat tingkahnya.


Tania terpaku dan mematung melihat itu. Ia tidak menyangka jika Kendra sudah memiliki anak dengan istri keduanya.


"Ziana?? Jadi.. kamu akan segera memiliki anak darinya??? Huh?? Hahaha..." Tania tertawa hambar.


Tanpa di duga, buliran bening itu mengalir deras di pipinya. "Bahkan di dalam mimpi pun kita berdua tidak di izinkan untuk bersatu. Kamu berjodoh dengannya, bukan dengan ku!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mampir lagi yuk!

__ADS_1



__ADS_2