Princess Pratama

Princess Pratama
Dikembalikan


__ADS_3

Danis pulang setelah melihat kebersamaan keduanya yang saling tertawa bersama. Entah apa yang keduanya tertawakan, Danis pun tidak tahu.


Ia sakit hati melihat adiknya sudah dtidak dianggap. "Untunglah kamu mengembalikan semua barangnya Dek. Jika tidak, kamu pasti akan terluka melihat kejadian saat ini. Mungkin berpisah lebih baik. Semoga kamu kuat Princess.." lirih Danis dengan segera malajukan mobilnya meninggalkan kediaman Uwak Lana dimana Kendra dan Ziana yang kini menatap nanar pada mobil Danis, Abang sepupu dan ipar bagi Kendra.


Kendra mengepakan kedua tangannya saat rasa sesak itu hinggap dihatinya. Ia sengaa menahan dan memilih tertawa agar Ziana tidak sedih lagi karena merasa bersalah pada Tania.


Ziana..


Adik kecil kesayanagn Tania itu begitu menyayangi Tania. Ia rela mundur asal Tania tidak membencinya.


Akan tetapi sang Papi tidak mengizinkannya. Perjanjian yang sudah ia ikrar dan Ummi Kendra harus terlaksana. Dan yang Ummi Mutia inginkan menjadi menantunya itu Ziana.


Bukan Tania.


Ziana tersenyum sendu mengingat itu. "Maaf Bang. Adek nggak bisa menerima semua ini. Maaf.. Adek nggak bisa. Bilang saja sama Ummi Abang. Kalau adek Ikhlas jika tidak menikah dengan Abang." Ucapnya tadi di mobil saat dalam perjalanan menuju kerumah mereka.


"Nggak bisa Nak. Perjanjian ini sudah dibuat. Tidak mungkin di ingkar!"


"Tapi Pi. Perjanjian bisa batal jika kakak ridho dan ikhlas tidak jadi menikah dengan bang Kendra. Kakak masih kecil papi. Belum mengerti tentang rumah tangga!" seru Ziana sedikit keras hingga membuat Papi Lana menatapnya dengan tajam.


Ziana menunduk. Tubuhnya bergetar. Kendra menghela nafasnya. "Semua ini sudah kesepakatan Na. Kita tidak bisa mundur. Abang tidak akan meninggalkan kakak mu dan juga kamu. Kalian berdua itu penting buat Abang." Ujar Kendra yang diangguki oleh Uwak Lana.


"Kamu cukup patuh dengan perintah kami! Tidak perlu membantah! Toh, semua ini demi kebaikan mu. Jika kakak mu tidak setuju, itu terserah padanya! Papi tidak peduli. Yang jelas Kedra tetap menikah dengan mu! Dengar??" tekan Uwak Lana pada Ziana yang kini menatap ke arah luar jendela mobilnya.


Kendra dan Uwak Lana hanya bisa menghela nafas pasrah.


Maafkan Abang, Tania..

__ADS_1


Kendra memejamkan kedua matanya.


Sedangkan Ziana tidak ingin berbicara lagi pada kedua orang itu hingga sampai dirumah mereka. Akan tetapi semua itu pupus saat Kendra meminta izin pada Uwak Lana untuk berbicara dengannya hanya berdua saja tetapi di balkon atas.


Dimana mereka berdua bisa terlihat oleh keduanya dari bawah sana.


Bahkan saat Danis datang pun keduanya tahu dan bisa melihat kedatangan nya. Namun, keduanya memilih cuek saja. Toh, Danis pun sudah tahu akan hal itu.


Hal yang tidak keduanya tahu ialah ssesuatu yang akan emnghancurkan keduanya saat mami Maura menemui keduanya.


"Maaf Nak. Mami kesini ingin memberikan barang titipan Tania untukmu." katanya sambil menyerahkan kotak yang sangat ia kenal dan tahu itu.


Tubuh Kendra menegang seketika. Begitu pun dengan Ziana. Kendra mengambil kotak itu dan membukanya.


Ddduuaaarrr!!


Ziana jatuh bersandar ke kursi rotan yang saat ini ia duduki. Hancur sudah harapannya. Harapan yang sudah ia susun bersama Kendra untuk meluluhkan hati Tania setelah keduanya menikah.


"I-ini.."


"Ya, itu barang pemberian mu untuk Tania dikembalikan padamu. Katanya jika tidak sanggup berbagi, maka jangan menikah lagi. Karena yang satu saja tidak habis. Tunggu sampai yang pertama mati, baru boleh menikah lagi!"


DDuuuaaarrr!!


Hancur lebur jantung hati keduanya. Kotak yang berada ditangan Kendra terlepas seketika. Ziana sampai lemas tidak berdaya mendngar ucapan Mami Maura yang begitu mengguncang keduanya saat ini.


Mami Maura tidak ingin mengatakan apapun saat ini. Ia pun sulit untuk memutuskan hal ini. Jika membela Tania, kasihan Ziana. Jika membela Ziana, maka Tania yang terluka.

__ADS_1


Pilihan yang sulit untuk mereka semua. Hanya karena sebuah janji, keduanya terpaksa harus dinikahkan disaat umur Tania belum lagi cukup.


Pernikahan itu akan menjadi pernikahan rahasia untuk Ziana jika sampai ia menikah dengan Kendra nantinya.


"Apa yang harus kita lakukan Bang. Kakak sudah mengembalikan maharnya padamu. Yang artinya kakak sudah tidak menginginkan mu!"


Kendra mematung dan terpaku ditempatnya duduk. Mata itu masih menatap sejurus ke bawah, dimana seperangkat alat sholat serta mahar pemberiannya. Tania kembalikan lagi padanya.


Kendra Tahu maksud Tania mengembalikan mahar itu. Yang artinya mahar itu ditujukan untuk Ziana. Calon istrinya.


Uwak Lana yang berdiri mematung disana segera mendekati Kendra dan Ziana yang kini terdiam tanpa suara.


Ia mendekati Kendra dan mengambil kotak itu. Yang membuat keduanya tersentak.


"Papi?"


"Uwak?" sapa keduanya.


Uwak Lana duduk dihadapan keduanya. "Jika Tania sudah mengembalikan mahar ini padamu. Maka Tania memilih mundur, Nak. Kamu bisa menjatuhkan talak padanya jika kamu mau."


Ddduuaaar!!


Ucapan Uwak Lana bagaikan hantaman petir di kepala Kendra saat ini.


"Apa maksud uwak dengan mengatakan itu? Uwak ingin aku menceraikan Tania dan menjadikan Ziana satu-satunya begitu??" tanya Kendra dengan rahang mengetat.


Ia tidak menyangka jika Uwak Lana tega mengatakan hal itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2