Princess Pratama

Princess Pratama
Jiwanya terganggu?


__ADS_3

Kedua orang itu saling pandang mendengar ucapan Kendra. Begitupun dokter Umar. Ia tidak habis pikir dengan Kendra.


Ia menelisik lebih dalam pada Kendra yang kini menatap dingin pada kedua orang itu. Ia menghela napasnya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak percaya. Untuk saat ini, kamu harus istirahat dulu ya? Kami keluar dulu. Ayo Lan!" kata dokter Umar yang diangguki oleh Uwak Lana dan juga Uwak Maura karena melihat kerlingan mata dokter Umar padanya.


Menyuruh mereka berdua untuk keluar dari ruangan itu karena ada yang harus ia sampaikan.


"Kami keluar dulu Ken. Istirahat dulu ya?" Imbuh Uwak Lana yang ditaggapi dengan deheman saja olehnya.


Kendra memejamkan kembali memejamkan matanya. Uwak Lana yang melihatnya dengan tatapan sendunya. Dokter Umar segera menariknya untuk keluar dari kamar itu dan berbicara di tempat lain yang tidak terdengar oleh Kendra.


Ketika sudah berada di balkon yang tak jauh dari kamar Ziana yang kini ditempati oleh Kendra, ketiga orang itu langsung saja duduk dengan saling berhadapan.


Uwak Lana dan Uwak Maura semakin penasara apa yang akan dokter Umar sampaikan kepada mereka berdua tentang Kendra.


"Katakan Mar, ada apa? Kenapa Kendra berkata seperti itu? Apakah pikirannya masih terganggu? Dan menolak berita itu?" Ucap Uwak Lana yang diangguki oleh dokter Umar.


"Seperti yang aku jelaskan padamu dulunya. Bahwa Kendra kini sedang kurang baik jiwanya. Ia masih terguncang dengan kepergian Tania. Di bawah alam sadarnya ia masih mengunci kuat kenangan bersama Tania.


Kendra tidak bisa melupakan Tania walau sedikitpun. Jiwanya benar-benar rapuh saat ini. Saranku, jangan pertemukan ataupun pun membicarakan tentang Tania di hadapannya. Yang akan berakibat fatal pada jiwanya.


Kita harus selalu mengawasinya dengan baik. Hal ini sangat berbahaya untuk jiwanya. Kendra dalam fase dimana dirinya kini diambang kebingungan.

__ADS_1


Ingin mempercayai tetapi hatinya menolak. Pikiran dan hatinya kini benar-benar tertekan dan begitu rapuh. Bagi penderita gangguan jiwa sepertinya, kita tidak boleh menekannya terlalu dalam. Jadi ku harap, kamu dan keluarga bisa menguris dan juga tidak membicarakan Tania yang sudah tiada di hadapannya.


Karena itu akan memicu kejiwaannya semakin parah karena tidak bisa menerima kenyataan tentang kepergian istrinya. Kita harus bisa selalu membuatnya tenang dan nyaman. Jangan paksakan dirinya tentang kematian istrinya.


Pelan-pelan saja. Aku akan terus memantau perkembangan nya." Ujar dokter Umar yang dijawab dengan helaan napas panjang oleh Uwak Lana.


Sementara Ziana berdiri terpaku di tempat kala mendengar ucapan dokter yang mengurus Kendra itu.


Abang nggak sehat? Jiwanya terganggu? Karena kematian kak Tania?? Ya Allah..


Batin Ziana dengan tubuh yang jatuh merosot ke bawah kala menyadari jika Kendra kini memang sudah tidak waras akibat kematian Tania, istri pertamanya.


"Kalian harus selalu bersamanya dan menemaninya. Jangan ungkit tentang kenagan kalian bersama. Cukup ceritakan hal yang lain. Katakan pada Mutia, jika ini juga berlaku untuknya." Lanjut dokter Umar lagi yang kini terkejut melihat Ziana jatuh merosot dengan mata terpejam dan buliran bening mengalir di pipinya.


Deg!


Deg!


Kedua orangtua itu terkejut. "Zia? Ziana??" ulang keduanya sambil menoleh kemana arah mata dokter Umar melihat.


Keduanya pun bangkit dan menemui Ziana yang kini pun terlihat rapuh.


"Nak.."

__ADS_1


"Pi.. Mi.. Kenapa harus sepert ini? Kenapa kakak harus pergi meninggalkan kita? Kenapa Allah begitu cepat mengambilnya? Kakak nggak rela pi. Kakak nggak ikhlas! Belum lagi Bang Kendra sekarang jiwanya terganggu. Kita harus apa untuk mengobatinya pi?


Apa yang harus kita lakukan untuk bisa mengobati dirinya? Papi tahu? Bang Kendra itu obatnya, kakak. Kak Tania obatnya! Dulu saja, ia sakit kak Tania yang mengobatinya. Kakak pernah bilang padaku. Jika Bang Kendra sudah pernah jiwanya terganggu seperti ini karena saudara tirinya yang begitu menekannya.


Ia tertekan lantaran saudara tirinya itu terus membuatnya kesal dan selalu dimarahi oleh Abi Kevin yang lebih menyayangi mereka dibandingkan dengan dirinya.


Kakak juga pernah bilang, kalau Bang Kendra hampir gila jika tidak dirinya datang kerumah sakit dulu. Dan saat ini?


Penyakitnya itu kambuh lagi, pi. Kita harus apa? kita tidak bisa membohonginya terus menerus dengan mengatakan jika kakak sudah tiada. Jiwanya akan terganggu lagi, pi.


Dan kakak pernah bilang," ucapannya terjeda saat ia melihat kekhawatiran di mata ketiga orang itu.


"Kakak kamu bilang apa, Nak?" desak Uwak Maura yang dijawab dengan lelehan bening di kedua matanya.


"Jika itu terjadi untuk kedua kalinya, maka Bang Kendra benar-benar gila!"


Deg!


"Apa?" teriak Ummi Mutia yang baru saja tiba di balkon itu dan mendengar semua ucapan dokter Umar dan juga Ziana baru saja.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2