
Tubuh keduanya begitu lemas saat ini. Bagai dahan yang patah dan tak bisa di gerakkan lagi. Rapuh, sedikit di geser langsung hancur berkeping-keping.
Zayn dan Zayden memejamkan kedua matanya untuk mengurangi rasa sesak yang terus menderanya saat ini. Tanpa sadar, keduanya terlelap tanpa sepatah katapun. Sedangkan di luar sana, Riya dan Jia sedang mengatakan apa keputusan keduanya.
"Mungkin, ini akan menyakitkan untuk mami dan abi. Akan tetapi, ini yang terbaik. Kami berdua sudah memutuskan tetap akan berpisah dengan keduanya. Bukan karena tak cinta. Tetapi, semua ini demi kalian berdua. Kami tidak ingin kalian di permalukan karena memiliki dua orang putra yang tidak bertanggung jawab dengan kesalahan mereka. Benar atau tidak, orang lebih percaya apa yang terlihat. Dan kami, lebih percaya pada yang terlihat."
"Bukan maksud kami menuduh, tidak! Itu tidak benar. Tetapi, ini lebih ke etika dan juga janji yang sudah mereka berdua ucapkan pada kami. Keduanya berjanji sebelum pergi. Janji yang akhirnya mereka ingkari. Bukan kami tidak mau memaafkan. Akan tetapi, kami butuh waktu untuk itu. Lagipula, apa gunanya kami bertahan sementara keduanyaakan menikah dengan gadis itu? Bukan begitu, Mami?" lanjut Riya dengan wajah tenangnya.
Jia memegang tangan sang Kakak menahan rasa sesak yang sebentar lagi akan menyeruak ke udara. Jia bertahan karena genggaman tangan Riya yang semakin erat di tanggannya.
"Maafkan kami, Abi, mami, Ummi. Nenek dan Oma. Serta Kakek dan Opa. Inilah keputusan kami. Setelah ini, kami tetap menjadi sepupunya walau kami sempat menjadi istrinya. Tak apa. Kami ikhlas. Ayo, Ummi. Kita pulang!" ucap Riya dengan segera menyeret Jia yang sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri karena terlalu lemah dengan perpisahan keduanya.
Riya terus menarik keduanya hingga berada di halaman rumah. Di mana kakek dan nenek mereka sedang menatap keduanya dengan tatapan nanarnya. Keduanya hanya menyalimi dengan takzim. Setelah itu, keduanya segera masuk ke mobil Abi mereka yang sudah terparkir di sana.
Riya dan Jia saling berpelukan bersama. Pecah sudah ketahanan keduanya. Kedua saudara kembar itu meraung bersama melupakan rasa sakit yang begitu mendera keduanya saat ini.
__ADS_1
Hancur, rapuh dan sangat terluka. Inilah yang keduanya lakukan saat ini. Sementara di dalam rumah, Ummi Alzana dan Abi Prince segera berpamitan dan memilih pergi tanpa melihat keadaan menantu mereka yang tidak keluar sedikitpun dari kamar si kembar Riya dan Jia tadi.
Keduanya pergi tanpa berpamitan pada kakak sepupu mereka. Terutama Abi Prince. Ia begitu kecewa dengan putra sulung Kakak sepupunya itu. Apalagi Ummi Alzana, ia pun begitu kecewa pada keponakan tersayangnya itu.
Keduanya melangkah menuju moil mereka dan melewati kedua orang yang kini mematung melihat kepergian mereka berdua. Keduanya menaiki mobil dan melihat putri mereka kini menatap keduanya dengan mata sembab dan wajah datarnya.
Ke empat orang itu segera berlalu dan meninggalkan pekarangan rumah Nenek Ira dan akan kembali ke Aceh sore itu juga. Si kembar tiga, keduanya mereka titipkan pada keluarga Kakek Yoga di sana.
Mobil itu melaju dengan cepat dan meninggalkan rumah itu. Kini tinggallah Nenek Ira dan juga Oma Annisa yang saling berdiaman karena masih terkejut dengan keputusan si kembar Riya dan Jia cucu mereka.
"Jika itu sudah menjadi keputusannya, kita bisa apa? Jangan hanya karena masalah ini hubungan kita terputus, Kak." lirih Oma Annisa pada Nenek Ira yang kini hanya bisa menganggukkan kepalanya melihat ke lantai dua di mana Mami Tania dan Abi Kendra tidak turun-turun sedari kepergian Jia dan Riya.
Zayn sedang berusaha di sadarkan oleh mami Tania. Ia berusaha membawa jiwa Zayn yang kini entah melayang kemana. Tatapan mata yang lurus melihat ke langit-langit rumah dan juga air mata yang terus mengalir tanpa henti membuat mami Tania tersedu melihat pada putra sulungnya itu.
Begitu pun dengan Abi Kendra. Ia sangat panik melihat putra keduanya tidak bergerak atau merespon apapun yang ia katakan baru saja.
__ADS_1
Keputusan yang baru saja menantu mereka katakan mengguncang jiwa kedua putranya saat ini. Ia yakin, jika kejadian yang sama akan terulang lagi pada kedua putranya.
Abi Kendra menegakkan tubuh Zayden dan memeluknya dengan erat. Zayden tidak bereaksi sama sekali. Hanya napas tenang dan teratur menandakan keduanya seperti dalam keadaan tidur tetapi, dengan mata terbuka.
Abi Kendra terus menggaungkan kata maaf di telinga Zayden yang membuat air mata putranya itu semakin mengalir deras. Lemah, ya, Zayn dan Zayden lemah sama seperti abinya. Mereka lemah akan cinta. Cinta yang memang mereka inginkan harus pergi karena kesalahan mereka saat ini.
"Riya,"
"Jia," lirih keduanya di telinga Abi dan maminya. Mami Tania begitu sakit melihat keadaan putranya yang berakhir sama seperti suaminya dulu saat ia tinggalkan. Mami Tania memekik kencang karena tidak tahan dengan luka hatinya melihat putranya kembali merasakan apa yang dulu Abi Kendra rasakan.
Mendengar teriakan Mami Tania dan Abi Kendra, membuat semua orang berlarian menuju ke lantai dua. Hanya Oma Annisa dan Opa Tama yang tidak kesana. Karena keduanya sudah tahu, apa yang terjadi pada cucu sulung mereka itu.
"Hiks, kesalahan ku berimbas pada cucuku. Maafkan aku, Bang Tama. Maafkan aku!" ucapnya yang saat ini di peluk erat oleh Opa Tama yang juga ikut menangis sama seperti dirinya.
Oma Annisa sadar, semua ini bermula darinya. Ternyata apa yang orang katakan benar. Jika dia yang memulai hal itu, maka penerusnya pun akan mengikutinya. Oma Annisa pernah pergi meninggalkan Opa Tama karena suatu hal. Dan dulu, mami Tania pun demikian. Sekarang, Zayn dan Zayden?
__ADS_1
Keduanya seperti itu karena ulahnya. Ulahnya di masa lalu yang berimbas ke masa depan. Oma Annisa pingsan seketika di dalam pelukan Opa Tama.
Opa Tama berteriak begitu kuat memanggil semua orang untuk menolongnya. Semua orang begitu terkejut melihat Oma mereka pingsan seperti itu. Terutama si kembar tiga. Putra dan putri Mami Tania yang kini berada di sana demi bisa menemani Opa dan Oma mereka.