Princess Pratama

Princess Pratama
Terluka Parah


__ADS_3

Kalau kamu nggak suka ceritanya, get out!! 😤😤


*


Tiba di markas yang Aldo dan Kendra tempati selama mereka berada di Medan, dokter kepercayaan keluarga Wiryawan yang merupakan dokter turun temurun dari kakek Wiryawan sendiri saat ini sedang mengobati luka Kendra.


Uwak Lana dan juga Ummi Mutia yang kini terluka begitu parah. Begitu pun dengan Ziana yang kini kepalanya dibalut dengan perban.


Sementara semua saudara Ziana saat ini berada di ruangan lain. Mereka sedang berusaha di tenangkan saat ini karena begitu terkejut dan sangat shock.


Kendra mengalami luka yang lumayan parah di bagian luka yang dulu sudah sembuh kini bertambah lagi akibat paman nya itu.


Luka di kepalanya harus mendapat lima belas jahitan lagi sama seperti yang dulu. Kendra saat ini pingsan dan tidak sadarkan diri.


Aldo masuk keruangan itu untuk melihat Kendra dan juga yang lainnya. Ia segera mendial nama papi Ali untuk berbicara padanya.


"Halo Tuan!"


"Hem,"


"Maaf jika saya mengganggu. Lihatlah kondisi mereka semua. Tidak kah kalian ingin pulang untuk melihatnya? Jangan salahkan Kendra dalam hal ini. Tapi salahkan kedua orang tuanya yang gila harta itu! Lihat sekarang suami kamu Tania!"


Deg!


Tania yang saat ini sedang duduk di kursinya tersentak mendengar seruan Aldo padanya.


Gading yang mengerti segera menyambungkan sambungn ponsel sang papi ke layar proyektor dihadapan Tania dan yang lainnya saat ini.

__ADS_1


Salah satunya Mami Kinara yang kini baru saja tiba di Singapura dan langsung menuju pada perusahaan keluarga mereka.


Tania menatap nanar pada Kendra yang kini terluka parah dengan darah terus mengucur di kepalanya yang tidak berhenti. Para perawat kewalahan membersihkan darah di kepalanya itu.


"Inikah yang kamu inginkan Tania?! Jika iya, selamat! Kamu berhasil menghacurkan karena sumpah orang tua kamu! Abang tidka menyangka, jika doa orang tua kamu secepat ini Kendra rasakan! Apa salah Kendra sama kamu?! Huh?! Asal kamu tahu Tania. Kendra melakukan ini karena kamu! Untuk kamu dan juga masa depan kalian berdua! Tapi apa yang kamu lakukan?!


Kamu dan orang tua mu tega mendoakan keburukan untuknya. Sementara bukan dirinya yang melakukan kesalahan itu! Sungguh, Abang tidak mengenal kamu lagi saat ini Tania! Kamu berbeda dengan Tania yang dulu ketika aku melihatmu di pesantren!


Kendra rela mengorbankan dirinya demi bisa melindungimu dan keluargamu! Tetapi kamu malah mendoakan keburukan untuknya!


Selamat! Selamat Sritania! Kamu sudah berhasil menghan kehidupannya! Dan mungkin sebentar lagi.. Ia akan gila seperti doa kalian untuknya!!"


Deg!


"Sungguh Abang kecewa sama kamu Tania! Kamu egois! Lihat di bangkar sana! Kamu lihat Ziana?! Kenapa? Kenapa kalian begitu tega menghukumnya yang tidak bersalah?


"Hunny.. Tania.. Lari Hunny.. Sssttt.. Mereka sedang mencarimu saat ini. Lari Hunny.. Abang akan menyusulmu untuk mencegah mereka. Akhht.. Sudah dokter! Saya harus segera ke Singapura! Istri saya dalam bahaya saat ini!" tukas Kendra sembari berdiri sementara jarum jahit masih menmpel di kepalanya saat ini yang terluka parah.


Tania dan orang-orang di seberang sana tertegun melihat itu. Terlebih mami Annisa. Ia yang sangat merasa bersalah.


Bukan hanya Kendra, tetapi juga Abang kandung serta keponakannya.


"Hiks.. Maaf.." lirihnya tanpa suara yang segera di peluk erat oleh papi Tama.


Tania masih menatap ke layar proyektor itu. Dimana seluruh ruangan itu saat ini dipenuhi dengan perawat dan dokter yang sedang berusaha menahan Kendra ingin pergi ke Singapura.


"Al.. Pesankan aku pesawat saat ini juga. Sssttt.. Tania dalam bahaya. Tolong aku Al.. Pesankan pesawat sekarang juga. Akkhhtt.. Udah dokter! Tolong cabut jarumnya! Saya harus pergi!" teriak Kendra meronta-ronta tidak ingin di obati lagi lukanya.

__ADS_1


Tania memejamkan kedua matanya saat melihat Kendra meronta-ronta meminta dilepaskan. Tania bisa mendengar dengan jelas ucapan Kendra yang ingin menyuruhnya pergi dan juga dirinya yang akan ke Singapura untuk menyusulnya dengan kepala terluka parah.


Aldo melihat layar ponselnya yang menunjukkan semua orang yang kini sedang melihatnya dengan wajah datarnya.


"Selamatkan dirimu dan keluarga mu dari buronan Paman Kevan, Tania. Mereka sedang memburumu saat ini. Pergilah! Bersembunyilah untuk sementara waktu jika kamu ingin melihat Kendra tetap hidup!"


Tut!


Sambungan ponsel itu terputus yang membuat layar itu menghitam seketika. Tania tertegun lagi dengan ucapan Aldo tadi.


Apa maksudnya? Paman Kevan siapa? Apa urusannya dengan ku jika perusahaan mereka bangkrut?


Batin Tania yang kini melihat pada mami Kinara dan Gading yang menunduk. Tania terhenyak di tempatnya duduknya. Ia tertawa sumbang dan terkekeh-kekeh sesaat setelah memahami siapa pelaku hancurnya perusahaan Kendra itu.


"Kamu...!" katanya pada gading yang kini takut melihat kakak sepupunya itu.


Gading menunduk, mami Kinara segera memegang bahu putra nya itu. "Mami yang suruh. Biarkan mereka merasakan apa yang seharusnya. Kamu tidka tahu saja jika uwak mu sengaja menghidupi ular di dalam rumahnya!


Dia sibuk membahas perusahaannya tanpa tahu jika ada ular yang sat itu sednag berusaha membobol pertahanan perusahan kita!


Kamu tidak usah takut. Kita tidak bisa di sentuh oleh orang-orang mertuamu itu! Mereka tidak akan bisa!" tegas mami Kinara yang diangguki oleh papi Ali.


Sementara Tania hanya menatap nanar pada ponselnya yang kini menunjukkan jika Kendra sedang meronta dan terjatuh berulang kali karena ia ingin menyusulnya ke Singapura tetapi dokter melarangnya.


...****************...


Mampir yok kesini.

__ADS_1



__ADS_2