Princess Pratama

Princess Pratama
Season 3 ( kejujuran Dzaki part 2 )


__ADS_3

"Apa katamu! Di lecehkan?!" seru Mami Tania dengan wajah yang begitu terkejut. Abi Kendra memegangi tubuh ewanit paruh baya yang hampir pingsan itu.


"Hunny! Sadar! Bukan saatnya untuk pingsan! Dengarkan dulu apa kata putra kita!" Suara tegas Abi Kendra menyadarkan mami Tania dari mata terpejamnya.


Mami Tania tersentak kala Dzaki memeluknya. "Maaf, bukan maksud abang ingin menyembunyikannya dari kalian. Hanya saja, abang takut mami akan seperti sekarang ini. Apalagi mami Ziana. Beliau pasti syok berat saat tahu putrinya pernah di lecehkan saat di titipkan sama kita. Kejadian itu begitu cepat Mami. Saat ini Riana kembali merasakan trauma itu, padahal sudah menahun. Tadi malam saja, Riana sempat menolak saat abang sentuh untuk pertama kalinya. Ia trauma, Mami. Akan tetapi, abang sengaja menyentuhnya untuk menghapus jejak dari pemuda yang pernah menyentuh separuh tubuhnya."


"Riana di lecehkan bagian atas hingga pusat saja. Sementara pusat tubuhnya belum terbuka saat abang memukuli pemuda itu di bagian kepalanya dengan kayu hingga ia jatuh pingsan," lirih Dzaki masih memeluk Maminya itu.


Mami Tania bergeming mendengar cerita Dzaki. Pikirannya mundur pada waktu delapan tahun silam. Saat itu Riana dan Kiana datang ke rumahnya bersama Papi El untuk berlibur selama dua minggu. Keduanya akan di jemput kembali saat sekolah kembali di buka.


Ke empat anak itu di temani dirinya pernah pergi ke pasar malam di malam minggu pertama keduanya menginap di kota Medan. Pada saat pulang, riana terlihat dengan wajah pucat dan matanya sembab. Ketika mami Tania bertanya pada Dzaki yang saat itu memegangi lengan Riana mengatakan jika keduanya baru saja masuk ke dalam rumah hantu yang membuat Riana ketakutan hingga menangis. Mmai Tania percaya saja. Toh, mereka saat itu dalam kawasan pasar malam bukan?

__ADS_1


Mami Tania tertegun mengingat saat itu. "Ja-jadi.. Wa-waktu itu, k-kamu dan R-riana ..." ucapan Mmai Tania diangguki oleh Dzaki dengan kembali membenamkan wajahnya di pangkuan mami Tania yang kini menangis dalam diam.


"Maaf, Mi. Abang terpaksa berbohong karena Riana yang memintanya. Ia tidak ingin melihat kalian khawatir padanya. Maka dari itu, abang pun mengikuti maunya. Tetapi, tadi malam dan dua minggu yang lalu, trauma itu kambuh lagi yang membuat dirinya kembali dihantui rasa takut di tinggalkan setelah dirinya ternoda. Riana takut, jika dirinya akan di tinggalkan setelah dirinya di nikmati. Abang tidak pernah menyangka, jika kejadian delapan tahun lalu itu begitu membekas padanya."


"Mami.. Abang mohon. Sembuhkan Riana dengan ilmu yang mami miliki. Ilmu pengobatan yang mami berikan pada Abi saat dulu Abi sakit. Abang mohon Mi, demi keutuhan rumah tangga kami berdua," lirih Dzaki mengatakan kejujuran yang begitu berat untuk ia akui sejak delapan tahun yang lalu. Mengenai Riana yang sengaja menyembunyikan hal itu, memang benar adanya.


Riana meminta Dzaki agar tidak mengatakan hal buruk itu pada semua keluarga besar mereka. Riana takut, keluarga akan syok dan menuduhnya yang tidak-tidak. Saat ini saja Mami Tania begitu syok saat tahu keadaan Riana. Bagaimana kalau semua keluarga termasuk papi dan maminya tahu? Akankah keduanya tidak sakit dan jatuh pingsan sebab mengetahui keadaan dirinya?


Riana begitu syok dan terpukul kala melihat postingan Dzaki berdua dengan gadis yang lain yang mengatakan jika mereka akan segera menikah setelah lulus kuliah dan Dzaki sudah bekerja di perusahaan milik Abi Kendra.


Hal ini tadi malam Dzaki tahu dari mulut Riana. Wanita yang tidak lagi gadis itu mengatakan kesakitannya selama tiga tahun ini saat melihat Dzaki bersama wanita lain. Beruntungnya Papi El dan Mami Ziana mengatakan padanya, jika dirinya akan menikah dnegan Dzaki. Bukan pemuda lain.

__ADS_1


Awalnya Riana senang. Akan tetapi, kala Riana melihat Dzaki yang ingin meminta hak padanya, membuat rasa trauma itu kambuh lagi. Mami Tani tertegun dan tercenung memikirkan keponakan sekaligus menantunya itu.


"Mami... Bantu abang. Hanya mami yang bisa melakukannya. Aang mohon.." pinta Dzaki dengan sangat pada Mami Tania yang kini masih melamun memikirkan keponakannya itu.Dzaki menatap sendu pada sang mani.


Sedangkan Dzaka menghela napas panjang. "Mami, Abi. Sebaiknya kita segera mengobati Riana sebelum terjadi hal buruk padanya. Dzaki! Kita ke kamar kamu. Riana kambuh lagi!"


Deg!


Deg!


Dzaki terlonjak mendnegarnya. Ia segera bangkit dan keluar menuju ke kamar miliknya di lantai atas. Di ikuti Dzaka, Abi Kendra. Mami Tania masih mematung di tempatnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2