
Ucapan Onti Alzana baru saja membuat mata Riya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka hanya karena ucapanya dulu pada saudarinya, membuatnya di hukum seperti itu.
"Kenapa Ummi menghukumku? Sementara Jia tidak? Tidakkah Ummi tahu, kalau Jia lah yang bersalah di sini?! Jia yang membuatku jauh dari Abi dan Ummi! Kalian berdua selalu menyayanginya! Abi! Abi selalu bilang, kalau Jia sangat mirip dengan Ummi. Baik dan lembut. Sedang aku? Aku tidak sama seperti Ummi! Aku kasar! Aku buruk! Di mana letak burukku? Bukankah aku juga putri kalian berdua? Apakah kalian pikir aku mau di bandingkan? Kalian selalu memuji Jia yang pintar! Tetapi tidak denganku!
Kalian selalu mengiyakan apa saja yang aku ucapkan. Tetapi, kalian selalu memujinya di hadapan semua orang! Seolah hanya Jia saja yang putri kalian! Kalian buta atau bagaimana? Huh? Kalian itu punya dua putri! Bukan Jia saja! Tapi, juga aku! Apa salahku sampai kalian menghukumku seperti ini?! Jia, Ummi nikahkan dengan Bang Zayn? Sedang aku? Kalian hukum atas kelakuan yang tidak pernah aku perbuat?
Kalian berdua kejam sebagai orangtua! Kalian tidak adil padaku! Kalian lebih sayang padanya dari pada aku! Aku selalu di ejek dan di cemooh oleh teman karena mereka bilang, aku ini anak tiri! Padahal aku anak kandung! Seharusnya, Jia yang dibuat seperti itu! Bukankah Jia itu anak tiri kalian? Anak yang kalian kutip saat kalian ke Jerman karena kehilangan adikku yang asli dulunya?
Kau! Bukan adikku! Kau oranglain! Kau bukan keturunan Haryawan! Kau orang lain yang di kutip Abi sama Ummi untuk diberikan nama dan tempat untuk berlindung! Aku benci padamu! Karena kau! Aku dibenci orangtuaku! Pergi!! Pergi kau dari rumahku!! Kau, bukanlah keturunan Haryawan! Kau bukan keturunan Abi dan ummiku! Dasar tidak tahu diri! Pergi kau! Ummi dan Abi sudah buta karena terlalu menyayangimu yang ternyata hanya seorang anak ha ram!!"
Ddduuaarr!!
Teriakan Riya baru saja menyentak ke empat paruh baya yang baru saja tiba itu terkejut dengan ucapannya. Amarah keduanya meletup-letup saat seorang anak kecil berani menghina kedua orangtuanya.
Dengan langkah cepat Oma Annisa berjalan terlebih dahulu.
Plak!
Plak!
"Aargghht.. Siaallaaann!!!"
Plak!
__ADS_1
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Bruukk.
"Aaaa, tidak! Riya!!" teriak Onti Alzana saat melihat putri sulungnya terluka dengan pelipisnya bocor karena menabrak ujung meja akibat tamparan kedua nenek yang saat ini seperti singa mengamuk itu.
"Itukah ajaranmu terhadap anakmu Alzana Puteri Pratama?"
Deg
Deg
"M-ma-mami!" tergagap kedua suami istri itu melihat pada kedua orangtua mereka.
Oma Annisa secepat kilat mendekati Onti Alzana dan melayangkan tangannya dua kali disana hingga Onti Alzana terhuyung ke samping. Jia dengan sigap memegang umminya itu.
Sementara Om Prince juga mendapatkan tamparan yang sama. Bahkan lebih banyak dari Onti Alzana. Lima kali tamparan dari umminya ia layangkan ke pipi putihnya hingga memerah.
__ADS_1
Kakek Ragata dan Opa Tama segera memegangi kedua istri mereka yang kembali ingin menghajar anaknya itu.
"Inikah hasil didikanmu, Prince? Huh? Ummi tidak menyangka, bahwa putri yang kau ambil dan kau bawa pulang dari Jerman dulu setelah kau operasi wajahnya sama dengan putrimu membuatmu di hina?!"
Ddduuaaarr!
Jia terkejut mendengarnya. Begitupun dengan Riya yang kini menatap lekat pada neneknya itu.
"Kau! Kau bukan keturunan Haryawan keluarga suamiku! Kau! Hanya seorang anak yang di kutip oleh putraku untuk di besarkan! Karena sampai saat ini, saudara kembar Jia tidak jua di temukan dalam keadaan hidup ataupun mati! Kau! Hanya orang lain yang di ubah wajahnya oleh putraku demi rasa bersalahnya dan juga rasa rindunya pada putrinya, cucuku! Keturunan Haryawan tidak pernah berkata kasar sepertimu! Memang benar dalam darahmu ada darah Haryawan. Tetapi, itu semua tidak mengakui jika kau keturunan Haryawan! Kau, hanya orang lain yang kebetulan sekali wajahmu itu begitu mirip dengan cucu kandungku!
Dan kau Prince! Sudah ummi katakan! Jangan membawa pulang benalu yang tidak tahu diri itu! Lihat sekarang? Apa yang ia balas padamu? sadar Prince! Dia menghancurkan hubunganmu dengan putri kandungmu!"
Dduar!
"Dia menghancurkan kehidupan orang lain karena ulahnya yang sengaja kau tutupi tetapi, kau salahkan Jia yang melakukannya! Di mana otak kau Prince?! Sadar kau! Dia itu bukan putrimu!! Tetapi, gadis liar yang kau bawa pulang dari Jerman dan kau buat dia menjadi putrimu!!! Siaalaan!!!" umpat Nenek Ira sambil meneriaki semua orang di dalam ruangan itu.
Kakek Ragata segera memeluknya dengan erat. Takut darah tinggi istrinya itu kumat.
"Sudah Hunny. Jangan katakan hal itu lagi. Terima saja yang sudah terjadi, ya? Riya kita belum tentu bisa kembali. Ikhlaskan Hunny!" ucap Kakek Raga menenangkan Nenek Ira yang kini terisak di pelukannya.
Pelukan hangat yang selalu bisa membuatnya tenang setelah almarhum Oma Alisa dan ayah Emil.
"Tapi, dia bukan cucu kandung kita, Bi! Cucu kandung kita menghilang entah kemana! Putramu! Anak kurang ajar itu! Sudah aku katakan, jangan bawa pulang orang lain dalam keluarga kita! Dia hanya bisa menghancurkan, bukan mendamaikan!" serunya lagi yang membuat semua orang di dalam ruangan itu sunyi senyap dan hening seketika.
__ADS_1
Apalagi Riya yang kini tergugu, shock sekaligus terkejut mendengar berita yang baru saja ia dengar.
Om Prince dan Onti Alzana hanya bisa memejamkan kedua mata mereka saat kisah masa lalu keduanya kini terbongkar sudah. Rahasia yang sengaja mereka simpan rapat-rapat agar tidak menguar akhirnya, terbuka juga.