Princess Pratama

Princess Pratama
Cctv berjalan


__ADS_3

Sementara di tempat lain, seseorang menggebrak meja dengan kuatnya.


"Bodoh! Bagaimana kalian bisa kehilangan jejak mereka, huh?! Apa yang kalian lakukan sampai kehilangan jejak tuan muda?! Jika sampai Nyonya sialan itu tahu, maka keluarga ku dalam bahaya! Bodoh kalian!" teriaknya lagi sambil menggebrak meja di hadapannya berulang kali saking kesalnya.


Salah satu dari mereka angkat bicara. "Jangan cuma mengatai bodoh tuan! Anda yang ditugaskan untuk meyelidiki keluarga Pratama saja tidak becus? Lalu apa artinya kamu itu? Bodoh atau begoo? Huh?!"


"Sialan!! Kau..!!"


"Diam kalian semua!! Saat ini bukan waktunya untuk bertengkar dan ribut! Kita bertengkar disini, sedang mereka bersenang-senang disana?! Kalian sadar tidak? Jika ini memang kerjaan dari tentara itu?! Heh? Pikir pakai otak! Jangan pakai Otot! Nggak ada gunanya tegang urat saat ini! Lebih baik cari solusi. Kemana lagi kita harus mencari tuan muda dan juga kita harus terus menyelidiki keluarga Pratama itu!


Entah apa yang ditakutkan oleh Nyonya Mutia dan Tuan Kevin, hingga mereka menyuruh kita untuk mencari tahu tentang keluarga itu. Padahal mereka berdua tahu, jika salah satu dari keluarga itu dulu pernah menjatuhkan perusahannya hingga gulung tikar. Dan dia pun tidak berani melawan Singa betina di dalam keluarga Pratama itu." ujarnya yang membuat semua rekannya itu terdiam seketika.


Benar katanya. Untuk saat ini, yang lebih penting ialah mencari bukti dan menemukan Kendra dulu.


"Sangat sulit menembus keluarga itu tuan. Kami kesulitan mengaksesnya. Mereka seperti di lindungi oleh sesuatu yang sangat besar dan tidak bisa tersaingi."


"Kamu benar. Entah siapa di dalam keluarga itu yang bisa menutup semua akses tentang keluarga Pratama, yang jelas mereka sangat di lindungi. Hingga data-data yang kita perlukan tidak keluar sedikit pun!" Balasnya yang membuat semuanya mengangguk setuju.


Sementara di Medan sana berulang kali menghela nafas dan berdecak sebal. "Sungguh hebat kau kakak ipar! Kau sangat tahu jika mereka pasti ingin membobol data kita."

__ADS_1


"Benar Bang. Tapi.. Kakak ipar tahu darimana tentang hal ini ya?" tanya sang istri padanya.


"Kamu seperti tidak tahu saja sepak terjang kakak ipar kecilmu itu. Wanita itu sangat cerdas dan juga sangat cerdik! Jika bukan karenanya, mungkin perusahaan papa kamu yang ada di Singapura saat ini sudah gulung tikar. Tapi tidak 'kan? Dan itu karena siapa??"


"Kakak ipar!"


"Ya, benar. Kakak iparmu. Annisa Pratama. Yang dikenal dengan Princess Pratama. Seseorang yang sangat ditakuti dan juga di segani di Singapura sana. Dan sekarang? Keponakan kecil kamu itu yang menjadi alasan kenapa mereka nekad ingin membobol data-data kita! Untung saja kakak ipar cepat tanggap. Walau ia sedang pergi, tetapi keamanan tentang keluarganya selalu terjaga. Abang salut padanya."


"Tentu dong! Kakak iparku! Annisa Pratama!"


Keduanya tertawa bersama. Sedangkan di Aceh sana, tangan seorang wanita yang masih awet muda itu bergerak lincah di tombol keybordnya.


Sang suami selalu sedia menyuapi sarapan pagi ke mulutnya.


Sedari alaram di ponsel keduanya berbunyi tadi subuh, Mami Annisa tidak lepas dari laptopnya.


"Gawat banget ya? Sampai nggak bisa berhenti untuk sarapan dulu? Sampai-sampai harus Abang yang nyuapi kamu makan?" katanya sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulut mami Annisa yang kini terus bergerak lincah dengan mata menajam melihat layar di laptopnya.


"Nyawa kita Bang taruhannya! Sedikit saja terlambat, maka Mutia berhasil membobiol data kita! Ck! Ingin bermain dengan ku rupa nya ya?? Baik.. Akan aku jabanin! Jangan salahkan aku, jika perusahannya akan hancur jika sampai dia mengusik putri sulungku!" tegasnya dengan mata menyipit tajam melihat pada layar laptop itu.

__ADS_1


Papi Tama menghela nafasnya. "Entah apa yang Mutia inginkan, makanya ia ingin mengusik kita. Padahal Lana sudah mengatakan jika Kendra akan menikahi Ziana. Tapi ini? Ini sampai sempat-sempatnya mengirim cctv berjalan untuk mengikuti keduanya. Untung saja Lana cepat bergerak. Jika tidak, keduanya sudah pasti dipisahkan saat ini."


"Abang benar! Sepulang Tania dari acara bulan madunya, aku akan mengajarkannya tentang semua ini. Untuk perbekalannya menuju Singapura satu bulan lagi. Perusahann kita disana butuh seorang pemimpin. Tania sudah cukup umur untuk bisa memimpim perusahaan disana."


"Tapi sayang. Bagaimana dengan Kendra? Apakah ia mengizinkan Tania untuk ke Singapura? Sementara dirinya di sini bersama kita?"


Mami Annisa tersenyum pada Papi Tama. "Abang tenang saja, Tania pasti mengantongi izin nya. Hanya saja yang aku khawatirkan jika akan ada bahaya yang mengintai Tania. Ya.. Walau Tania pemegang sabuk hitam, tetap saja. Diluar negeri sana itu tempatnya para musuh. Kita harus memberinya bekal yang cukup bang. Setelah ini, kita berdua harus bergerak cepat.


Waktu kita nggak banyak. Aku rasa tidak sampai sebulan Tania harus ke Singapura. Lihat pergerakan grafik ini," tunjuk mami Annisa pada papi Tama.


"Bukannya itu grafik saham kita ya?" tanya nya dengan mata menatap lurus dilayar laptop itu.


"Ya, itu grafik saham kita. Abang lihat di segala sudut grafik kita. Ada yang aneh nggak?"


Papi Tama menatapnya dengan jeli. "Kenapa grafik dari segala penjuru menuju pada kita?"


"Ini dia yang aku katakan tadi. Ada yang sengaja mengacaukannya. Mereka bergerak cepat menuju kita. Tetapi mereka cukup berhenti di titik merah itu saja. Karena aku sudah menahan mereka disana. Aku tahu siapa mereka semua. Mereka semua orang suruhan perusahaan Abang tiri Kendra. Mereka ingin menyerang kita secara bersamaan.


Untuk apa?

__ADS_1


Agar saham kita lumpuh total. Dan mereka bisa mengakuisi semua perusahaan kita yang ada di Singapura sana."


Papi Tama tertegun melihat grafik yang saat ini itu sedang naik turun dan maju mundur.


__ADS_2