
Kendra memegangi pipi Tania yang kini masih tertutup hijab.
"Hunny.."
Deg!
Tania mendongak melihat Kendra yang kini memanggilnya. Ia tersenyum
"Untuk pertama kalinya di dalam hidupku bersatu dengan gadis yang selalu aku inginkan sedari dulu. Aku bertahan selama ini di dalam rumah sakit karena ingin menunggu mu. Dan ya. Kamu datang. Dan saat ini pun kamu telah sah menjadi makmum ku.
Hunny.. Diri ini tidak lah sempurna. Jika suatu saat kamu menemukan kekurangan, tolong jangan marah padaku. Aku cacat mental Hunny.. Aku tidak sempurna seperti pemuda lainnya. Tapi aku akan berusaha menjadi imam untukmu selagi kamu bersama ku dan kewarasan ku terjaga. Kalau suatu saat kamu mendapati diri ini sudah mendua.. Tolong maafkan aku. Semua itu bukanlah keinginan ku untuk menduakan mu Hunny.."
Deg, deg, deg..
Jantung Tania bertalu-talu mendengar ucapan Kendra. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Yang kayak kamu ingin banget ya memadu diriku dengan wanita lain?"
__ADS_1
Kendra menggeleng, "bukan mau ku Hunny.. Ini keputusan abi dan ummi.. Hiks.. Aku tidak bisa berbuat apapun."
Mata Tania berkaca-kaca. "Tapi kenapa? Kenapa harus mendua sih bang? Kenapa nggak aku aja? Nggak cukupkah diri ini untukmu?!" seru Tania dengan suara naik satu oktaf.
Nafasnya memburu dengan air mata yang sudah beruraian. Kendra segera memeluknya. Tania meronta.
"Lepas! Jika kamu menikahiku hanya untuk menyakitiku! Katakan pada abi dan ummi mu. Bahwa kalian bertiga berhasil menghancurkan semua mimpiku dalam waktu semalam! Aku kecewa sama kamu bang Kendra! Sangat kecewa!" Ucap Tania menyentak lengan Kendra hingga membuat pemuda tampan tetapi kurus itu jatuh terhuyung ke sisi ranjangnya.
Ia tersedu.
Padahal hati dan pikirannya saat ini seperti tercabik saat melihat penolakan Tania.
Padahal ia sedang berusaha jujur agar Tania tidak kaget nantinya. Hal ini sudah di pikirkan masak-masak olehnya.
"Hunny.."
__ADS_1
"Tidurlah bang Kendra! Aku ingin sendiri!" jawab Tania dengan suara bergetar.
Kendra menggeleng. Ia duduk dihadapan Tania dengan bersimpuh kepalanya ia rebahkan di pangkuan Tania.
Untuk pertama kalinya Kendra merasa lemah dihadapan kelemahannya sendiri. "Jangan begini hunny.. Aku terluka dan sakit melihat penolakan mu seperti ini. Niat ku baik ingin jujur padamu. Sebelum kamu tahu sendiri dan membuatmu sakit nantinya. Percaya lah hunny.. Aku diciptakan untukmu dan kamu pun dicipatkan untukku. Tetapi kita berdua harus melalui ini. Kamu kekuatan sekaligus kelemahan ku Hunny. Tolong dengarkan dulu apa yang akan aku katakan hunny.. Please.." pintanya dengan air mata yang sudah beruraian.
Tania menoleh padanya setelah melawan egonya sendiri. "Kamu tahu Bang Kendra. Rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku untukmu. Aku akan mendengarkan apa yang akan kamu katakan. Tapi ingat bang Kendra. Jika kamu berani berbohong, maka aku akan pergi dari hidupmu untuk selamanya!"
Deg!
"Nggak! Aku tidak akan berbohong tentang apapun padamu. Aku akan jujur tentang rencana Abi dan Ummi. Tapi ku harap, kamu tidak kecewa Hunny. Aku pun tidak sanggup dengan rencana ini. Tetapi ini harus aku lakukan! Demi masa depan kita Hunny.. Ku mohon.. Percayalah padaku!" pintanya lagi pada Tania yang kini menatapnya dengan raut wajah datar.
"Mendengar kamu mendua saja sudah sangat sakit untukku. Bagaimana jika mata dan kepala ini melihat bagaimana jika aku dimadu olehmu dengan gadis yang tidak aku kenal? Kenapa harus di madu bang Kendra! Tidak adakah cara lainnya?" tanya Tania yang membuat Kendra menggeleng dengan wajah basah air mata.
Tania mengepalkan kedua tangannya untuk meluapkan rasa amarah dihatinya.
__ADS_1