
Tiga hari sudah berlalu. Hari yang Abi Kendra tentukan pun sudah tiba. Hari in, kedua pangeran tampannya itu akan berangkat ke Aceh. Diantar langsung oleh mami Tania dna juga Abi Kendra kepada Onti mereka.
Sejak tadi malam, keduanya sudah berubah wujud menjadi pangeran buruk rupa. Oma Annisa dan Opa Tama yang saat itu ingin menemui cucu sulungnya itu shock bukan main saat melihat perubahan pada tubuh dan juga wajah tampan cucunya itu.
"Aaaa, ya, Allah! Kenapa wajah tampan cucuku jadi seperti pangeran buluk?!" tanya Oma Annisa saat melihat wajah tampan yang kini sudah berubah menjadi kecoklatan karena warna kulit yang sudah berbeda.
"Kenapa seperti ini, Kak? Kamu apakan si sulung, Ken?" tanya Opa Tama yang juga ikut shock melihat keadaan cucu sulungnya itu.
Mami Tania hanya tersenyum meringis melihat wajah shock kedua orangtuanya itu. Ia melirik Kendra yang kini terkikik geli karena rencananya berhasil.
Berhasil dalam membuat semua orang jantungan sekaligus melihat putra tampan mereka berdua berubah menjadi buluk seperti itu.
"Ehehehe.. maaf Mami, Papi, kami berdua terpaksa membuat si sulung menjadi seperti itu. Semuanya demi kebaikan mereka. Kami tidak ingin kecolongan lagi," jawab mami Tania yang membuat kedua orangtuanya itu menatap lekat padanya menunggu jawaban.
Mami Tania yang paham pun segera menceritakan kejadian tiga hari yang lalu tentang jebakan kakak kelas di kampusya itu. Oma Annisa dan Opa Tama segera memeluk erat kedua cucu sulungnya itu.
"Kok, bisa begitu? Pi! Urus mereka! Enak saja ingin mengusik ketenangan cucuku!" gerutunya sembari menyeka warna coklat yang tidak akan hilang dari tubuh keduanya saat ini.
Oma Annisa berdecak. "Ini gimana hilanginnya? Kenapa jadi lengket begini? Nia!" serunya pada mami Tania yang kembali meringis melihat wajah sang mami yang kini terus berusaha menyeka warna coklat sawo matang di kulit keduanya menggunakan hijab panjangnya.
Abi Kendra terkekeh melihat itu. "Warnanya tidak akan hilang mami. Itu warna asli! Bukan palsu!"
"Hah? Kok, bisa?! Bukannya kulit si sulung putih bersih seperti kulitmu, ya?" tanyanya pada Abi Kendra yang kini kembali terkekeh.
__ADS_1
Si kembar sulung diam saja mendengar ucapan kedua orangtuanya itu. Mereka duduk di tengah-tengah. Di apit Oma Annisa dan Opa Tama.
Keduanya sesekali meringis saat kain kasar itu mencoba untuk menyeka warna coklat di kulit keduanya. Mami Tania kasihan melihatnya, Tetapi jika ia larang, dirinya yang akan menjadi sasaran empuk sang ratu king Pratama itu.
"Ssssttt. Udah, Om. Kulit abang perih," lirih Zayn sedikit pelan takut Omanya itu mengamuk dam marah padanya.
Si kembar sangat tahu karakter Omanya itu seperti itu. Dibandingkan dengan mami mereka, Oma Annisa lebih garang dan galak. Keduanya tidak mau mencari masalah dengan nenek ratunya itu.
Oma Annisa terkejut mendengar suara lirih Zyan yang begitu jelas terdengar oleh telinga tuanya itu.
"Hah? Eh, i-iya! Oma nggak akan usap lagi! Ck! Kalian ini! Kenapa harus seperti ini, sih? Ini bagaimana caranya kalian menghitamkan kulit si sulung sampai berubah seperti ini?! Bukan hanya lengan, wajah dan juga kaki! Astaghfirullah! Kenapa dada kalian juga?! Punggung? Berbalik! Berbalik!" serunya panik saat melihat dada si sulung kini sudah berubah warnanya. Tidak lagi seputih susu sama seperti kulit Kendra.
Si kembar yang patuh, segera berbalik dan membuka baju mereka. Lagi, Oma Annisa memekik sambil mengomeli mami Tania dan Abi kendra yang kini meringis mendengar suara lengkingan wanita paruh baya itu.
Opa Tama sangat shock melihat tubuh kedua cucu kembarnya sudah berubah saat ini. Hingga tangan itu tanpa sengaja ingin membuka celana pendek yang si sulung kenakan.
"Astaghfirullah Tania!!! Kendra!!! Ini kenapa jadi pisang ambonnya hitam juga?! Aklian sengaj menghitamkanya?!" pekiknya yang membuat ketiga adik si kembar tertawa terbahak di lantai dua melihat abang sulungnya itu di periksa oleh sang Oma hingga ke pisang ambon keduanya.
Keduanya menunduk malu pada adiknya yang kini menertawakan mereka berdua. Mami Tania dan Abi Kendra hanya bisa terkikik geli.
Mengingat kejadian itu, sepanjang perjalanan menuju ke Aceh menggunakan mobil mereka, semuanya tertawa. Bahkan si sulung pun ikut tertawa. Ada-ada saja ulah nenek ratunya itu. Bisa-bisanya pisang mereka pun ikut di periksa.
Wajah tuanya begitu shock saat melihat warna pisang yang sudah berserabut itu berubah warna. Padahal kan waran pisang memang lain dari yang lain? Mana ada yang putih mengikuti warna kulit yang punya? Ehh??
__ADS_1
Lagi, susana di dalam mobil itu riuh dengan gelak tawa si kembar tiga. Si kembar sulung hanya bisa menunduk malu. Untunglah pisang itu hanya Oma mereka saja yang melihatnya. Jika tidak, pastilah rasa malu itu sudah tidak ketulungan saat ini.
Perjalanan darat yang mereka bertujuh lakukan dengan senang dan gembira. Butuh waktu hingga delapan belas jam mereka lewati dengan aman. Tak ada rintangan.
Saat tiba di Aceh, Onti Alzana sudah menunggu kedatangan mereka dengan senang hati. Ia sangat rindu dengan keponakan kecilnya itu. Berkat si kembar, dirinya dan Om Prince kembali bersatu.
Dan karena keduanya juga, Onti Alzana cepat memiliki keturunan. Onti Alzana sudah menganggap keduanya sebagai anaknya sendiri. Mobil Pajero sport berwarna putih itu memasuki pekarangan rumah almarhum Eyang Yoga dan Eyang Alina yang masih terawat karena Onti Alzana tinggal dan menetap di sana.
Mami Tania turun lebih dulu. Ia menatap sekitar rumah yang terlihat sedikit ada perubahan. Halaman yang dulunya hanya teras saja, kini sudah berubah menjadi taman anak-anak. Banyak tanaman dan juga sebuah pondok kecil di sudut kiri rumah tua itu.
Mami Tania menitikkan air matanya saat terakhir kali ia datang ke sana untuk berlibur sebelum Oma Alisa berpulang lebih dulu. Abi Kendra mengusap lelehan bening yang keluar di matanya. Keduanya berpelukan erat saat mengenang masa lalu itu.
Walau Abi Kendra tidak mengenali kedua nenek mami Tania. Tetapi, ia turut merasakan kesediahan yang mendalam ketika mami Tania menceritakan Oma Alisa dan Opa Gilang meninggal karena kecelakaan. Seminggu setelah berpulang keduanya, kedua orangtua Oma Alisa pun ikut menyusul mereka karena tidak tahan dengan kepergian kedua anak yang sangat mereka sayangi.
Mami Tania dna Abi kendra tersenyum saat Om Prince keluar bersama Onti Alzana.
"Assalamu'alikum, Kakak! Abang!" serunya kegirangan sembari memeluk mami Tania yang segera menangkap adik bungsunya itu sebelum Aggam ada.
"Wa'alaikum salam, sehat? Mana anak-anakmu?" tanya mami Tania yang di jawab senyum saja oleh Onti Alzana.
"Si sulung mana? Mana kedua putraku itu? Aku sudah tidak sabar ingin menemui mereka!" ucapnya begitu senang.
Mami Tania terkekeh. "Ada. Zayn! Zayden!"
__ADS_1
"Aaaaaaa, astaghfirullah! Kenapa dengan wajah kalian?! Astaghfirullah! Buluk sangat euyy! Kayak si bolang punya Om Prince!!" serunya sampai tidak sadarkan diri.
"Onti! Haishh.. Masalah kedua datang lagi!" keluh si kembar yang terdengar oleh kedua orangtuanya yang kini kembali tertawa mendengar ucapan keduanya.