
Wanita paruh baya itu belum terlalu tua itu terus memperhatikan Zayden yang kini sibuk menggoda istrinya dengan sengaja terus menahan tengkuknya.
Riya meronta dan sesekali memukuli zayden yang tertawa di buatnya. Riya menepuk kuat lengan suaminya saat suaminya itu berhasil mencuri kecupan dari balik niqobnya. Riya menoleh ke arah tempat pembuatan Es kelapa. Wanita itu terus saja melihat pada Zayden dan Riya.
Riya jadi malu sendiri karena ulah Zayden baru saja. Waita tua yang sudah menyiapkan es itu segera mengantarkan esnya kepada kedua orang muda yang sednag saling bercanda itu.
Ia meletakkan minuman itu di depan keduanya. Zayden tersenyum padanya. "Terima kasih, Bu." Ucap zayden yang diangguki oleh wanita itu.
Riya pun ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Keduanya sibuk dengan minuman yang menyegarakan dahaga itu. Akan tetapi, wanita yang belum terlalu ta itu terus melihat pada zayden dan menatap lekat padanya.
Zayden yang merasa di tatap lekat oleh wanita itu segera buka suara. "Maaf, Ibu. Ada yang ingin Ibu tanyakan pada saya?" tanya Zayden dengan suara lembutnya yang membuat wanita itu tersentak.
"Ah, iya, maafkan ibu, Nak. Ibu hanya sednag mengingatmu. Bukankah dulu kalian juga pernah datang kesini?" jawabnya sembari bertanya pada Zayden yang kini kebingungan melihatnya.
"Kesini? Maksud ibu, saya dan istri saya pernah kesini?" tanya Zayden yang diangguki oleh wanita itu.
__ADS_1
"Ya, benar! Beberapa tahun yang lalu, kalian berdua pernah kesini. Kamulah yang menolong ibu waktu itu saat istrimu, eh, loh, pakai niqob? Bukannya istri kamu itu nggak pakai niqob?" tanya ibu itu yang semakin membuat Zayden kebingungan.
Dari kejauhan terlihat Jia dan Zayn sedang berjalan mendekati keduanya. Mereka pun imgin menikmati es kelapa muda yang tadi mereka rasakan masih kurang puas.
Keduanya memasuki warung es kelapa itu yang membuat ibu-ibu itu terhenyak meliaht Zayn.
"Loh? Kamu ada dua? Kok, bisa? Bukannya dulu satu? Ibu masih ingat tentang ini! Ibu belum ikun!" serunya panik yang membuat zay dan Jia saling pandang karena kebingungan.
Keduanya bertanya pada Zayden dan Riya yang kini juga menatap mereka.
"Entah! Kami pun tak tahu. Ibu ini mengatakan jika kita pernah kesini. Padahal kita 'kan baru kali ini kesini? Itupun Abi yang mengatakannya tempatnya di sini?' jawab zayn yang diangguki oleh zayn sambil tersenyum.
"Ibu, mungkin ibu salah orang. Kmai ini berdua kembar. Nama saya Zayn, yang di samping saya ini Jia, istri saya. Yang mirip dengan saya itu, saudara kembar saya, dan itu juga istrinya mereka berdua pun kembar!" Ucap zayn yang membuat wanita paruh baya itu terhenyak seketika.
"Ho? Kembar?" tanyanya masih belum percaya.
__ADS_1
"Iya, kami berdua kembar. Istri saya dna istri adik saya itu pun kembar, Bu. Em, apakah Ibu mengenal Abi kami? Abi Kendra?" tanya Zayn yang di tatap lekat oleh wanita itu pada zayn.
"Hooh, Ibu kenal yang namanya Kendra. Istrinya bernama Tania. Temannya bernama Aldo, dan wanita yang dulu pernah berkelahi dengan tania bernama Siska. Ibu masih ingat saat itu Kendra memberikan uang yang lumayan banyak sama Ibu. Warung ibu bisa bagus seperti ini berkat bantuan darinya. Ibu ingin berterima kasih padanya. Selama bertahun-tahun ibu selalu menunggunya. Tetapi, Kendra dan tania tak kunjung datang kesini lagi," lirih wanita itu sedikit sendu.
Zayn dan zayden saling pandang. "Kalau begitu, kehadiran kami di sini bisa membantu Ibu untuk mengucapkan terima kasih pada mereka, mau?" tanya Zayn yang diangguki antusias oleh ibu itu.
Beliau tersenyum semringah. "Ibu mau, Nak. Sudah puluhan tahun mreka tidak pernah kesini lagi. Eh, tapi, kalian berdua itu siapanya Kendra? Apa kalain anaknya? Kalian berdua begitu mirip dengannya. Bak pinang di belah dua. Nggak ada cela, bahkan sangat mirip. Makanya tadi Ibu kira kalian itu Kendra. Tapi, ketika melihat kalian ada dua, ibu sangat terkejut!" balas ibu itu berkata jujur dengan perasaannya yang begitu terkejut saat melihat keduanya yang miri Abi kendra.
"Ibu benar. Kmai berdua putra Abi Kendra dan mami Tania. Kami tinggal di Singapura selama ini. Mami dan Abi di Medan. Terkadang pun keduanya sering ke tempat kami. Kmai berlima bersaudara, Ibu. Kami yang paling tua. Adik kami dua laki-laki dan satu perempuan, kembar tiga!" jelas zayn dengan bangganya menjelaskan keluarganya.
Ibu itu tersenyum haru. "Masyaallah, ternyata, Tania dan Kendra udah memiliki anak sebesar ini. Berarti sudah dua puluh enam tahun keduanya tidak kesini. Ibu selalu berdoa agar suatu saat Ibu bisa bertemu dengan mereka berdua. Dan, ya, Allah mengabulkan. Walau bukan dengan Kendra dan Tania, bertemu dengan kalain pun sudah cukup untuk Ibu. Kalian berdua cukup sebagai perantara untuk Ibu mengucapkan terima kasih Ibu padanya." ujarnya begitu snang.
Zayn dan Zayden tersenyum bersama. "Tak perlu saa kami, Ibu. Langsung saja pada orangnya! Noh, udah nongol, tuh, orangnya!" tunjuk Zayn pada zayden yang kini menunjukkan ponsel miliknya di mana Mami Tania dan Abi Kendra kini tersenyum pada Ibu-ibu itu.
Nanti othor lanjut lagi kalau nggak ketiduran! 😁🙏
__ADS_1