Princess Pratama

Princess Pratama
Tenda Lontong Kacang


__ADS_3

Sofia berlalu dengan bersungut-sungut tidak jelas. Ia menaiki mobilnya dan menutup pintu mobilnya itu dengan kuat. Hingga terdengar seperti suara benda yang dibanting kuat.


Pasien dirumah sakit itu semakin menertawakannya. Ia melajukan mobil itu begitu kencang tanpa melihat kendaraan lain, ia menyalip mobil dan motor yang ada di depannya.


Yang dibalas dengan umpatan kasar oleh pengemudi motor dan mobil yang ia lewati. Tania yang sudah masuk kedalam Tenda Lontong Kacang milik Mbok Iyem, tertawa melihat mobil Sofia berlalu hingga begitu kecangnya.


Kendra mengelus kepalanya karena melihat Tania yang terus tertawa. Ia tersenyum melihat wajah ceria Tania yang sama seperti dulu ia pernah lihat.


Keduanya pun menikmati sarapan Lontong Kacang di tenda Mbok Iyem dengan senangnya. Keduanya saling menyuapi satu sama lainnya. Satu piring lontong dimakan berdua.


Sesekali Tania tertawa karena berhasil digoda oleh Kendra. Salah seorang pengunjung itu menatap lekat pada Kendra. Ia terus memperhatikan Kendra dengan seksama.


Setelah yakin, ia mendekati Kendra dan Tania yang sedang berbagi susu hangat dalam gelas yang sama.


"Maaf mengganggu. Apa benar ini Bang Kendra?"


Deg!


Deg!


Kendra sangat kenal dengan suara itu. Ia menatap pada Tania yang kini juga sedang menatapnya.


Keduanya menoleh bersamaan.

__ADS_1


Deg!


Deg!


Deg!


Kendra menatap datar pada orang itu. Sedang yang ditatap segera duduk dihadapan Kendra dan menyentuh lembut tangan Kendra yang kini terletak dimeja.


Tania melihat pergerakan wanita itu begitu cepat, hingga tidak sempat untuk menarik tangan Kendra. Guna menghindari tangan wanita sebaya Kendra itu menyentuh tangan suaminya.


Kendra yang sadar, menarik paksa tangannya yang sayangnya tidak dilepaskan sama sekali oleh wanita itu.


Tania bisa melihat jika mata wanita itu berkaca-kaca saat melihat suaminya. Tania melihat pada Kendra.


"Selesaikan urusanmu dengannya, Bang Kendra! Aku tunggu diluar!" ucap Tania segera bangkit karena ia sadar, wanita itu ingin berbicara penting dengan Kendra.


"Tetap disini, Hunny!"


Deg!


Wanita itu terkejut mendengar ucapan Kendra untuk wanita berhijab didepannya itu.


"Siapa dia, bang Kendra?" tanya wanita itu pada Kendra sembari melihat Tania yang kini tersenyum padanya.

__ADS_1


"Duduk! Atau kita tidak bicara sama sekali!" tegas Kendra pada Tania dengan tangan kurusnya mencekal pergelangan tangan Tania.


Sementara Tania menghela napasnya. "Abang. Ia ingin berbicara berdua saja denganmu. Aku tidak ingin mengganggu. Kalian bicaralah. Aku tidak keberatan kok." Ucap Tania begitu lembut pada Kendra yang bergeming dengan tangan masih memegang tangan Tania.


"Bang?" panggil wanita itu lagi.


"Bicara bersama? Atau tidak sama sekali, Hunny!"


Deg!


Deg!


Jantung wanita itu mencelos mendengar panggilan Kendra untuk Tania yang belum ia tahu siapa dan apa hubungannya dengan Kendra saat ini.


Tania menghela napasnya. Jika sudah seperti ini, maka Tania hanya bisa mengikuti kemauan Kendra.


Tania kembali duduk disamping Kendra yang kursinya semakin Kendra rapatkan ke tubuhnya. Yang membuat wanita itu semakin keheranan dan bingung melihat Tania.


Tania berusaha tersenyum padanya. "Bicaralah. Aku akan diam dan tidak akan ikut campur." Ucap Tania memecah keheningan antara Kendra dan juga wanita yang Tania belum tahu itu siapa.


Tania tetap sabar menunggu penjelasan Kendra. Ia tidka ingin terburu-buru menanyakananya yang berjung Kendra akan kesal kepadanya.


Kejadian dua tahun silam, membuat dirinya sadar akan satu hal. Tidak akan ada penyelesaian jika tidak saling berbagi masalah dan mendengarkan.

__ADS_1


Jika mengedepankan emosi, rasa egois serta cemburu buta, tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Malahan akan menambah masalah yang ada nantinya.


Untuk itu, Tania memilih diam dan menjadi pendengar untuk kedua pihak yang sedang berdiam diri dihadapannya ini.


__ADS_2