Princess Pratama

Princess Pratama
Tania, istri sah ku


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Huh?! Kau menamparku?? Sialan!! Dasar ja laang!! Mu rahan!!!"


Plak!


Plak!


Plaaakkk!


Bruukk..


"Astaghfirullah Hunny! Udah!"


Deg!


Aldo terkejut mendengar suara lelaki di depannya. Matanya membola melihat Kendra.


"Ken!!!"


Deg!


"Al?!" seru Kendra pula.


Keduanya mematung melihat satu sama lain. Sementara Tania, langsung saja berjalan mendekati wanita yang bernama Siska itu.


Wanita yang sudah berani mengatai dirinya dengan sangat hina. Bahkan menghina maminya.


Plakkk!!


"Arrrgghhtt.. Sialaan kau..!!"


"Kau yang sialan!!"


Plakk..


"Arrgghhtt.." pekik Siska lagi saat merasakan kini pipinya begitu perih.


Aldo dan Kendra yang terkekut segera menoleh pada keduanya yang kini saling berhadapan.


"Hunnyy.."


"Stop! Berhenti kalian berdua disana!"


Deg!


"Ini urusanku!" tegasnya yang membuat kedua lelaki itu mematung dan terpaku seketika.


Wanita itu menangis merasakan perih di pipinya.


"Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan cara seperti ini. Tetapi ucapan kamu baru saja sangat mengganggu ku!. Kamu tahu apa tentang ku? Kita aja baru kenal? Dan seenaknya kamu menuduhku seperti itu? Jika kamu menghinaku, tidak masalah! Aku sudah terbiasa mendengar mulut pedas wanita sepertimu yang selalu ngomong sesuka hati tanpa melihat dan mencari dulu siapa wanita itu.

__ADS_1


Tetapi kamu menghina mami ku!"


Deg!


Wanita itu terkejut.


"Mamiku. Surgaku! Orang yang sudah susah payah melahirkan, menyusui hingga membesarkan ku. Kamu punya hak apa untuk menghinanya? Sedang dirinya saja tidak pernah mengganggu mu! Punya hak apa kamu merendahkannya, sedang kamu tidak tahu seberapa mulia nya mami ku!


Wanita sepertimu hanya bisa menghina dan merendahkan orang lain saja. Masih untung aku menamparmu!?Jika papiku yang mendengarnya, jerusi besilah tempatmu karena telah berani menghina ratu nya!


Kamu wanita terhormat. Pakaian mu berkelas. Tapi sayang, mulutmu itu sangat kotor! Sebaiknya sekolah kan dulu mulutmu itu agar bersih dan tidak menghina orang lagi!


Sepuluh tamparan itu tidak sebanding dengan penghinaan yang kamu katakan untukku. Aku datang kesini bersama suamiku! Kamu lihat pemuda tampan di belakangku memakai baju putih, celana jeans berwarna biru serta sepatu ket berwarna putih itu??


DIA SUAMIKU! SUAMI SAH KU! DAN KAKAK PEMILIK RUMAH SUSUN ITU TAHU KAMI BERDUA KARENA KAMI MEMILIKI BUKTINYA!


Sekarang saya tanya. Atas dasar apa kamu menuduh saya seperti itu? Saya salah jika berbicara dengan kakak kelas saya sendiri?


Kami baru bertemu setelah sekian lama. Dimana letak kesalahannya?! Apakah kamu melihat saya tidur dengannya, hingga kamu menuduhku seperti itu?


Kamu boleh cemburu. Tidak masalah! Tapi jangan menghina orang seperti itu! Gara-gara mulutmu, aku di cemooh sama orang!


Seharusnya aku melempar mu keluar pondok ini dan aku hajar sampai mati! Tapi tidak. Karena aku melihat kamu seorang wanita yang sama sepertiku!


Lain kali jaga ucapan mu. Beruntungnya itu aku! Jika papiku, kamu langsung di lempar ke jerusi besi!" tukas Tania dengan suara lembut dan rendahnya.


Tetapi begitu menusuk untuk gadis itu. Tania segera bangkit dan berdiri. Wanita itu tidak senang padanya malah menyeringai tajam.


Dugh..


"Allahu Akbar!"


"Hunny!!"


"Tania!!"


Tania yang tersungkur dibantu Kendra berdiri dan melihat wanita itu dengan tatapan tajamnya.


Deg!


Deg!


Kaki wanita itu gemetaran saat melihat kilatan amarah di mata Kendra untuknya.


Tania yang sudah berdiri pun segera berbalik, "Di kasih hati minta jantung kamu ya! Tidak tahu diri!"


Dugh..


Dugh..

__ADS_1


Brraaakk.


Pyaaarr!


"Arrrgghhttt.."


"Siska!!!" teriak Aldo saat melihat Siska terlempar hingga keluar dan menimpa meja prasmanan yang berisi makanan dan juga es kelapa nya.


Tania menyeringai. "Itu hukuman yang pantas bagi orang yang sudah terlalu buruk! Wajah saja cantik, tetapi kelakuan tidak lebih dari seorang Iblis!! Ayo Bang, kita pulang!" ucap Tania pada Kendra yang kini masih terkejut sekaligus menganga melihat kelakuan Tania baru saja.


Kelakuan Tania yang belum pernah terlihat olehnya selama mereka menikah. Kendra mengikuti Tania yang sudah lebih dulu berjalan cepat.


Pemilik pondok itu mengejar Kendra dan ingin berbicara. Kendra mengiyakan. "Sebentar ya Kak. Saya bujuk istri saya dulu. Saya akan bertanggung jawab!" ucap Kendra yang diangguki oleh pemilik pondok itu.


Sementara Aldo sedang mengurus wanita yang sudah pingsan itu. Ia pun sebenarnya geram melihat mantan pacarnya itu.


Bisa-bisanya menuduh Tania seperti itu. Ia membawa Siska ke klinik terdekat, setelahnya ia harus kembali kesana dan bertanggung jawab dengan kerusuhan itu.


Satu jam kemudian.


Aldo, Kendra dan Tania sudah duduk di dalam pondok itu. Karena waktu sudah menjelang maghrib, tadi ketiganya sholat dulu di musholla yang tersedia di tepi pantai itu.


Setelah selesai, mereka bertiga kembali lagi. Jangan tanyakan seberapa dingin wajah Tania saat ini.


Aldo yang baru saja melihat kebringasan Tania pun menciut nyalinya ingin berbicara dengan nya. Hanya Kendra yang bisa.


"Hunny.. Kita minta maaf sama mereka ya? Bayar ganti ruginya. Nggak baik pergi begitu saja." Tania menoleh padanya dengan tatapan dinginnya. Kendra tersenyum, ia mengelus pipi Tania yang membuat wanita melengos ke arah lain.


Kendra tersenyum lagi. "Katakan saja kak, berapa kerugian yang harus kami bayar, saya transfer segera. Saya nggak bawa uang cash banyak saat ini. Hanya satu juta saja dalam dompet saya." katanya sambil menunjuk is dompet yang ia keluarkan.


Aldo tertegun melihat isi dompet Kendra yang sudah terisi dengan segala macam kartu. Salah satu kartu tanpa batas berwarna hitam ke emasan itu.


"Baiklah, jika seperti itu. Saya katakan saja berapa nomor saya Bang."


"Ya," jawab Kendra segera mengetik angka yang pemilik pondok itu sebutkan dan nominal kerugian yang harus ia ganti.


"Sudah, semoga cukup ya kak?"


Pemilik pondok itu tertegun. "Li-lima ju-juta? Kebanyakan ini bang!"


Kendra tersenyum, "tak apa. Saya ikhlas. Ambil saja. Itu rejeki untuk kalian!"


Pemilik pondok itu melihat Kendra dengan mata mengabur. "Terimakasih bang.. Terimakasih banyak! Semoga Abang dan istri segera diberikan momongan dan juga selalu bahagia.."


"Amiiinn.." Kendra mengaminkan.


Aldo menatapnya dengan banyak tanda tanya. "Sejak kapan Ken?" tanyanya


Kendra menoleh. "Apa nya nih?"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu menikahi Tania? Setahuku, selama ini kamu masih dirumah sakit dan dirawat 'kan?"


Kendra terkekeh, "baru sebulan ini. Dan baru kali ini sempat membawa Tania jalan-jalan. Tania.. Istri sah ku. Baik hukum maupun agama! Tak ada yang bisa menentang itu!"


__ADS_2