
Tepat pukul 9 malam pesawat yang membawa Papi Tama dan mami Annisa lepas landas, dimana Kendra bisa melihatnya.
Ia menatap dengan nanar pesawat yang membawa pergi istrinya itu. Kendra menghela nafas panjang.
Ia berbalik dan melewati Uwak Lana yang juga terpaku melihat pesawat yang mengangkut keluarganya itu kini mengudara di langit Medan.
Tadi, sebelum Tania dan mami Annisa berangkat. Papi Tama mengajukan diri juga ingin pulang ke Aceh. Apalagi alasannya kalau bukan tidak bisa jauh dari mami Annisa.
Wanita dewasa masih sangat muda itu begitu memikat para bujangan diluar sana. Papi Tama takut jika istri muda nya itu akan kepincut dengan salah satu pemuda yang ada di Aceh sana.
Mami Annisa tergelak keras saat mendengar ucapan Papi Tama tadi padanya. Hingga ia pun mengizinkan suaminya untuk ikut bersamanya.
Semua gerak-gerik keduanya terlihat jelas oleh Kendra dan juga Uwak Lana. Keduanya menatap ketiga orang yang sedang menaiki pesawat itu dengan tatapan nanarnya.
Tak ada yang berbicara apapun saat ini. Keduanya memilih diam seribu bahasa. Keduanya larut dalam dalam pikiran masing-masing.
Sepanjang perjalanan kedua orang itu tetap diam. Kendra menatap lurus ke depan dengan pikiran melayang.
Apa yang harus aku lakukan agar bisa meluluhkan Tania?
Jika bukan karena permohonan Uwak Lana, maka aku tidak akan pernah menikahi Ziana. Karena Ziana sendiri pun tidak ingin menikah dengan ku dan menyakiti perasaan kakak sepupunya.
Ummi..
Tega sekali Ummi mengikatku dengan pernikahan terpaksa ini. Kenapa harus dengan mengancam baru bisa memiliki?
Aku tidak pernah mau dipaksa seperti ini. Tetapi hari ini dan seterusnya, terpaksa aku menerima paksaan dari Ummi atas nama perusahaan padahal sebenarnya tidak!
Ummi Jahat padaku!
Karena Ummi, cintaku pergi meninggalkan ku. Sekarang? Apa yang harus aku lakukan agar bisa kembali pada Tania?
Pernikahan ini hanya menguntungi Ummi saja. Tetapi merugikan aku! Tania, Ziana dan Uwak Lana.
Semoga Ummi tidak menyesal membuat keputusan ini. Ummi salah jika bermain-main dengan Mami Annisa.
__ADS_1
Mami tidak tahu saja seperti apa sepak terjangnya di dunia bisnis. Andai Ummi tahu, Ummi pasti tidak akan melakukan hal ini padanya.
Terutama putri sulungnya yang sangat aku cintai sedari aku kecil.
Ummi..
Ummi salah kali ini. Ummi tidak bisa menentangku untuk tidak melepaskan Tania. Tania hidupku. Sampai kapan pun!
JIka sampai Ummi sengaja memaksakan kami berdua berpisah dan aku tahu itu karena ulah Ummi.. Maka jangan salahkan diri ini benar-benar mati dan terpuruk seperti yang selalu Ummi katakan pada semua orang!
Ummi ingat itu!
Ketikan tangan Hendra terhenti di keyboard ponselnya. Ia menatap lagi ke depan sana dimana semua yang dilewati saat ini hanya terlihat gelap gulita. Satu-satu terlihat cahaya lampu ketika melewati rumah orang.
Karena mereka sedang melewati jalan tol saat ini.
Uwak Lana melihatnya sekilas, kemudian melihat ke depan lagi.
"Apa yang kamu pikirkan Ken?"
Jangan bertindak macam-macam Ken! Semua itu Ummi lakukan untuk kebahagian mu! Putuskan hubunganmu dengan Tania, sebelum Ummi sendiri yang melakukannya! Kamu ingat janji mu 'kan Ken? Ummi harap kamu tidak lupa!
Kami memegang janji mu! Lepaskan Tania! Atau.. Keluar dari keluarga Wiryawan!!
Ddduuaaarr!!
Kendra tersentak membaca pesan itu. Sampai Uwak Lana pun terkejut melihat gerakan tubuhnya yang spontan terjingkat kaget.
"Kenapa? Ada apa??" tanya Uwak Lana yang kini sedang menempelkan kartu di jalan keluar dari jalan tol.
Kendra menunduk dengan bahu bergetar. Ia menangis. Uwak Lana panik dibuatnya.
"Hei, hei Ken? Kamu kenapa? Kok nangis?? Ada apa? Bilang sama Uwak." Katanya sembari memegang bahu Kendra yang kini terus berguncang hebat hingga suara isakan lirihnya terdengar di telinga Uwak lana.
"Ken? Ada apa? Apa Ummi mu mengancam mu lagi?" tanya Nya sambil mengambil ponsel di tangan Kendra dan membaca setiap pesan itu.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Ddduuaaarrr!!
"Astaghfirullah ya Allah Mutia!!" serunya begitu kesal. Dengan segera ia mendial nomor Ummi Mutia. Baru sekali bunyi Tut, sambungan itu sudah terhubung.
"Dengarkan Ummi, Ken! Ummi tidak pernah merestui hubungan mu dengan Tania! Dia bukan gadis yang baik! Tania keras kepala! Sama seperti mami nya! Berbeda denagn Ziana! Dia masioh kecil dan polos. Masih bisa kita ajarkan! Lepaskan Tania sebelum Ummi sendiri yang mengahbisinya!!"
Ddduuuaaarrr!!!
"Berhenti mengancam dan membuatnya tertekan Mutia!!"
Deg!
"B-bang La-lana? Ka-kamu kah i-itu?? Ba-bagaimana bisa?" pekiknya karena begitu terkejut.
"Berhenti menekannya Mutia! Kamu dan suami mu sudah terlalu jauh melangkah hingga kamu ingin melenyapkan keponakan ku sendiri! Ibu macam apa kamu? Huh?! Bisa-bisanya kamu menekan putramu seperti ini! Kami ingin dia gila beneran begitu?!"
"B-bukan Be-begitu Ba-bang!"
"Lantas apa!!!" pekik Lana hingga suara ponsel Kendra berdenging seketika saking kerasnya teriakan Uwak Lana.
Ummi Mutia di seberang sana bersama suaminya terkesiap dan gemetaran mendengar suara teriakan Uwak Lana.
"Berhenti untuk menekannya! Aku tetap akan menikahkannya dengan putriku tanpa mengorbankan keponakan ku! Ingat Mutia, Kevin! Satu helai rambut Tania rontok karena ulah kalian bedua, jangan salahkan saya jika kalian berdua yang akan menanggung akibatnya! Semua bukti saat ini jelas ada di tangan saya! Paham?!"
Deg!
Kedua orang disana tersentak mendengar sentakan dari Uwak Lana.
Tut!
Uwak Lana mematikan ponselnya seketika karena sangat kesal kepada kedua orang itu. Ia kembali melajukan mobilnya dengan wajah datar dan tangan mencengkran kuat di stir mobilnya.
__ADS_1