
Kendra berpamitan pada semua orang ingin membawa Ziana istirahat dirumah mami Kinara. Semuanya terkejut melihat wajah pucat Tania. Zee yang tahu segera menuntun adik sepupunya itu untuk dibawa ke rumah mami Kinara.
Alkira dan Gading mengikuti kedua saudara sepupunya itu. Tiba di depan pintu rumah mami Kinara, Tania sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri.
Ia hampir merosot ke bawah jika tidak, Kendra yang menangkap tubuhnya dengan cepat.
Zee berteriak melihat tubuh lemah Tania. Yang membuat atensi semua keluarga menoleh pada mereka. Terutama Uwak Lana, Abi Kevin dan Uwak Maura.
Jangan tanyakan kemana papi Tama dan mami Annisa. Keduanya sedang bercocok tanam untuk menambah adek lagi untuk Aggam.
Sebagian dari mereka merasa khawatir karena Tania yang begitu lemas itu. Tetapi Uwak Lana meyakinkan jikalau Tania tidak akan apa-apa. Ia hanya kelelahan karena perjalanan jauh.
Zee dengan cepat memeriksakan Tania. Hanya ia dan Alkira yang bisa menemani. Sedang Kendra menunggu diluar kamar. Ia berdiri sambil berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Tania dirumah mami Kinara.
Papi Ali mengusap pundak Kendra untuk memberikan ketenangan padanya.
"Duduk dulu, Nak. Yakin aja sama kakak kamu. Dia seorang dokter," ucap papi Ali yang diangguki pasrah oleh Kendra.
Suami Tania itu duduk dengan tidak tenangnya. Ia sesekali melihat pintu yang tertutup itu.
__ADS_1
"Abang heran sama Tania, Pi." Katanya buka suara pada papi Ali yang kini mendengarkannya.
"Herannya?" tanya Papi Ali
"Abang curiga kalau Tania saat ini sedang hamil?"
Deg!
Zee yang baru saja membuka pintu terkejut dengan ucapan Kendra yang memang benar adanya. Ia menelan ludahnya getir dengan keringit dingin menetes didahinya.
"Hamil?" taya Papi Ali yang diangguki oleh Kendra. "Darimana kamu tahu? Bukankah saat Tania hamil dulu, kamunya nggak tahu?"
Kendra mengangguk lagi. "Iya, benar abang nggak tahu, Pi. Tapi gejala yang selama sebulan ini abang alami pastilah karena Ziana hamil."
"Begini, Pi. Saat Tania hamil si kembar dulunya, abang yang merasakan gejalanya. Mulai dari muntah, ingin bau tubuh Tania, ingin makan masakan Tania dan juga tentang i-itu.." Kendra malu menjelaskannya.
Pipi suami Tania itu bersemu merah karena malu pada papi Ali. Sedang papi Ali yang tahu, malah terkekeh.
"Kalau benar Tania hamil, berarti gejala itu benar adanya bukan?" Kendra mengangguk masih dengan pipi merona. "Papi dulu pun, begitu. Saat hamil si kembar tiga. Papi yang mengalami hal itu. Kamu tahu Bang, papi saat di Filipina dulu sangat benci dengan aroma ikan asin yang dijemur. Belum lagi saat matahari terbit, mata papi itu lengket bagai lem! Tiap kali melihat cahaya matahari, papi pusing! Ingin makan, hanya masakan mami kamu saja. Ck. Coba kamu bayangkan. Dimana papi harus dapat makanan yang dimasak langsung sama mami kamu? Belum lagi, saat pagi. Papi selalu menginginkan mami kami untuk disentuh." Cerita papi Ali teringat masa ngidam dirinya dulu.
__ADS_1
Kendra menunduk malu. Karena inilah yang terjadi padanya saat ini.
"Tak usah malu bang. Itu hal lumrah terjadi. Kamu suaminya. Ayah dari janin yang Tania kandung. Ingatkan saja, tentang kebahagian saat melihat mereka lahir kelak. Untuk lebih jelasnya, tanyakan pada kakakmu yang kini sudah keluar!" tunjuk papi Ali pada Zee yang kini kikuk sendiri saat papi Ali menatap lekat pada keponakan istrinya itu.
Zee berjalan mendekati Kendra dan papi Ali. "Tania tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan. Ehm, maaf Ken. Kalau bisa, kamu jangan sentuh Tania dulu, ya? Maafkan kakak, Ken. Semua ini demi Tania. Tania udah bilang sama kakak. Nggak usah malu!" kata Zee pada Kendra yang kini semakin malu saat mendengar ucapan Zee padanya.
Kendra mengusap tengkuknya yang terasa merinding. "Ehehehe.. Maaf, kak. Nggak akan diulangi lagi. Jadi, apakah Tania saat ini beneran hamil?"
Deg!
Pertanyaan Kendra membuat tubuh Zee menegang seketika. Begitupun dengan wanita berniqob berdiri di depan pintu dapur sana. Ia menunduk dengan sendu saat mendnegar ucapan Kendra pada kakak sepupunya itu tentang kehailan. Hal yang begitu sensitif untuknya didalam rumah tangganya saat ini.
Ia kembali menuju ke dapur dan tidak jadi mengantarkan makanan untuk semua orang. Tiba di dapur, Gading segera memeluknya. Ia memeluk tubuh kekar yang sedari bayi tidur bersamanya itu.
"Sstt.. Sabar. Kita pasti bisa seperti kakak. Jangan khawatir. Nggak ada yang nggak mungkin tentang itu! Percaya sama Allah, ya?" ucapnya lembut pada wajah sang istri yang kini menatap sendu padanya.
Gading tersenyum. Ia mengecup seluruh wajah sang istri. Terakhir, ia labuhkan kecupan hangat di putik ranum milik sang istri yang semakin menjadi candu untuknya itu. (Spoiler untuk Alkira dan Gading ye?)
Papi ali melengos ke arah lain saat melihat putrinya sednag bermesraan di depan pintu dapur sana. Sedangkan Kendra masih menunggu jawaban Zee tentang pertanyaannya.
__ADS_1
"Bagaimana Kak? Apakah Tania saat ini sedang hamil?"
Mati aku! Tania!!