Princess Pratama

Princess Pratama
Menunggu kelahiran si kembar Tiga


__ADS_3

Hari-hari yang keduanya lewati kini begitu bahagia. Setelah acara resepsi pernikahan enam bulan lalu, Tania dan Kendra saat ini sedang menunggu kelahiran anak kembar tiga mereka.


Tania dan kedua anak kembarnya sedang berjalan-jalan di jalan komplek perumahan mereka. Ditemani oleh Kendra, Aldo dan juga istrinya Fatma.


Jika Kendra sedang sibuk dengan Aldo mengurus masalah bisnisnya, maka lain cerita dengan kedua wanita berbeda usia itu. Keduanya sesekali tertawa kadangpun terkikik geli saat menceritakan suami mereka.


Fatma menceritakan kisahnya tentang melahirkan Aldi satu setengah tahun yang lalu.


"Kamu tahu, Nia? Bang Aldo sampai pipiis di celana saking paniknya lihat kakak waktu itu yang kesakitan saat melahirkan putra kami. Ia yang panik, tidak tahu harus berbuat apa, saat melihat ai ketuban pecah sebelum waktunya. Kami yang saat itu dalam tekanan krisis ekonomi, membuat bang Aldo hampir kalap ingin menjual organ tubuhnya demi bisa membiayai persalinan kakak.


Kalau bukan karena seseorang, mungkin saat ini kakak dan Aldi tidak pernah selamat," lirih Fatma berubah sendu kala mengingat kejadian satu setengah tahun yang lalu itu.


Tania tersenyum. Ia menepuk bahu Fatma dan memeluknya dari samping. Saat ini, keduanya sedangg duduk bersama di kursi panjang yang tersedia di pinggir jalan itu.


"Itu masa lalu, Kak. Janganlah bersedih. Dengan adanya masa lalu, kita bisa lebih belajar menghadapai masa depan. Masa lalu bukan untuk ditangisi. Tetapi, untuk di jadikan pelajaran untuk kita ke depannya. Gunanya masa llau itu, untuk kita bisa introspeksi diri. Dengan adanya masa lalu, kita akan lebih berhati-hati lagi di masa akan datang. Bukankah jika kita mengalami luka, maka luka itulah yang membuat kita lebih tahu dan tangguh dalam menghadapi semuanya? Benar, tak ada hidup tanpa luka. Sedang nabi kita pu, terluka. Hanya dengan mengingat ummatnya saja, ia sudah menitikkan air matanya.


Maka dari itu, jangan mengeluh kepada masa lalu. Sedih boleh tetapi, kita tidak boleh berlarut. Masih ada hari esok untuk kita selagi kita masih bisa bernapas. Ya?" Ujar Tania menjelaskan begitu bijak membuat Fatma tersenyum dan mengangguk.


"Pantas saja bang aldo jatuh hati padamu. Ternyata., inilah wujud cinta pertama seorang Aldo Braspatih ( ada yang ingat nama belakang bang Aldo? Othor lupa euuy! 🤣). Wanita cantik berbudi luhur itu ialah kamu Tania. Bang Aldo mencintaimu dalam diam selama ini!"


Deg!


Deg!


Tania terkejut mendengarnya. "Bang Aldo? Suka padaku? Eh, ma-maksudnya cinta? Sejak kapan? Kenapa baru sekarang aku tahu? Tapi, itu nggak mungkin, deh! Kelihatannya enggak tuh!" kilah Tania dengan amta menatap ke samping mereka di mana Kendra dna Aldo sedang tertawa bersama.


Fatma terkekeh kecil. "Itu dulu, Sayangku! Bukan sekarang! Sekarang mah, dia punya Kakak kali!" Fatma tergelak saat melihat Tania mendelik padanya.


Aldo dan Kendra melirik mereka, kemudian terkekeh bersama. Mereka berpikir, entah apa yang istri mereka bicarakan hingga Tania kesal pada Fatma.

__ADS_1


Kendra tersenyum melihat wajah malas Tania pada Fatma. Wajah yang selama hamil sering ia tunjukkan pada dirinya dna juga si kembar.


"Sepertinya, keturunanku kali ini akan sama seperti tingkah Tania saat ini?" gumam Kendra pelan.


Aldo terkekeh mendengar gumaman sahabat serta bosnya itu. Keduanya kembali sibuk pada berkas mereka.


"Dari mana Kakak tahu kalau Bnag Aldo mencintaiku dalam diam?" tanya Tania dengan lidah sedikit kelu saat mencintai.


Fatma terkekeh geli melihat wajah Tania seperti geli dan ngeri bersamaan. "Bang Aldo sendiri yang mengatakannya sama Kakak. Perlu kamu tahu, Tania. Kami menikah karena kami di jebak. Bukan karena saling mencintai. Cinta itu tumbuh saat kami sudah saling bersama. Jika waktu itu bukan karena Bang Aldo, maka aku pastilah sudah ternoda dan mati dengan tubuh penuh tusukan," lirih Fatma. Tetapi, bibir itu tersenyum sambil mata itu melihat lurus ke depan.


Tania menatap lekat pada wajah Fatma yang begitu tenang dan tidak ada penyesalan sedikitpun di sana terlihat.


Tania tersenyum saat Fatma meliriknya karena ia merasa jika Tania menatapnya dengan lekat.


"Kenapa? Ada yang aneh, ya dengan ucapan kakak?" tanya Fatma yang di jawab dengan gelengan oleh Tania.


Tania tersenyum dan ingin menjawab ucapan Fatma. Tetapi, ia merasakan sakit yang tiada tara di perut bagian bawahnya.


"Ken! Tania akan melahirkan!"


Dduuaar!


Plak.


Berkas yang ada ditangan Kendra terjatuh seketika karena terkejut. Wajahnya memucat. Aldo terkejut melihatnya. Tak lama, ia pun terkikik geli melihat wajah ketakutan dan juga panik Kendra.


"Ken! Tania akan melahirkan! Bukan meregang nyawa!"


Deg!

__ADS_1


Kendra semakin pucat saja wajahnya. Aldo tergelak kuat saat melihat wajah sahabatnya itu. Sedangkan Fatma sedang berusaha membuat Tania tenang di sela-sela rasa sakit yang tiada tara kini menghantam tubuhnya.


Rasanya rontok semua tulang belulangnya saat rasa sakit itu menghantam perut bagian bawahnya. Tania semakin kuat memegang kursi yang ia duduki.


Fatma kesal bukan main saat melihat Aldo yang masih menertawai Kendra. Ia menghampiri suaminya itu dengan wajah berangnya.


Plak!


Plak!


"Awuhh! Kok di timpuk sih, Yang?" tanya Aldo sangat terkejut pada sang pemukul yang ternyata istrinya sendiri.


"Kamu! Urus ketiga bocah itu!" tunjuk Fatma pada si kembar dan putra mereka. "Dan kamu, Ken! Sadar! Ayo, bangun! Bawa Tania ke rumah sakit!" pekik Fatma dengan sengit menatap berang suami Tania yang kini terkesiap melihat wajah garang Fatma padanya.


Dengan kaki gemetar, Kendra berusaha menenangkan dirinya untuk tetap fokus. Dirasa tenang, kendra melangkahkan kakinya sedikit pelan menuju Tania yang kini sednag menahan rasa sakitnya dengan mata terpejam.


Sedangkan fatma berkacak pinggang di hadapan Aldo yang kini meringis melihat wajah berang sitrinya itu.


"Bangun Bang Aldo! Kejar ketiga anak itu!" pekiknya lagi masih dengan sengit juga.


Aldo mengangguk cepat dan berlari mengejar si kembar yang kini sudah melaju dan berlari mengejar tukang es krim.


Putra kecil Aldo, berulangkali jatuh. Bukannya menangis, ia malah tertawa saat melihat wajah panik si kembar yang kembar identik itu.


Melihat Aldo sudah pergi, Fatma pun segera mendekati Tania dan Kendra yang kini tidak tahu harus berbuat apa di saat Tania kesakitan seperti itu.


Fatma mendengkus sekaligus menghela napas panjang melihat suami Tania yang berdiri mematung dengan bibir pucatnya. Fatma segera membangunkan Tania dan ia papah bersama Kendra yang terkejut saat mendengar sentakan istri Aldo itu.


Ia membawa Tania untuk mencari taksi di pinggir jalan komplek. Tania yang semakin sakit, sudah tidak kuasa untuk berjalan. Mana perut sakit, perutnya pun sangatlah besar seperti baskom. Membuatnya sedikit kesulitan saat berjalan.

__ADS_1


Satu lagi, nyusul. Agak lama ini. Othor lagi masak daging Qurban! 🤣🤣🙏


__ADS_2