
Papi Tama hanya bisa menghela nafasnya saat melihat Tingkah Ziana yang tidak menyukai ibu mertuanya itu.
Ia jadi berpikir, bagaimana kalau Tania bertemu dengan Ummi Mutia. Sedang kedua orang tua Kendra tidak menyukainya?
Jangankan menyukainya, baru mendengarnya saja mereka berdua sudah tidak setuju. Padahal keduanya belum kenal dengan putri sulungnya.
"Sebenarnya apa sih yang kalian tidak suka dari kakak sepupuku?? Huh?!" tanya Ziana begitu ketus kepada kedua mertuanya yang kini menatapnya dengan tajam.
Ziana berdecak. "Tidak usah menunjukkan muka masam kalian kepadaku! Kalian ingin mengusai diriku untuk mengendalikan diriku untuk menjadi boneka begitu?"
Deg!
"Seperti yang kalian inginkan? Iya?"
Deg!
"Tania!" seru mami Maura pada Ziana yang kini menatap tajam padanya.
"Kenapa? Mami tidak suka jika kakak bicara seperti itu? Kenapa mami membela mereka!" tunjuk Ziana pada kedua mertuanya yang kini menatapnya dengan datar. "Apa salah jika kakak berbicara seperti itu??"
"Diam Zia! Jangan memancing huru hara di dalam ruangan rumah sakit ini! Masalah itu cukup dirumah kita saja. Jangan dibawa kesini!" tegas mami Maura yang membuat Ziana mencebik lucu.
"Bela saja terus besan tua kesayangan mami itu! Orang yang kalian bela tetapi malah melukai menantu kalian sendiri!" ketusnya lagi masih tidak mau kalah dengan mami Maura yang kini semakin meradang melihat putri sulungnya yang kini berani melawan ucapannya.
Ziana yang sedikit takut menutupi rasa takutnya dengan berdiri di sisi bangkar Kendra. Dimana Aldo saat ini juga berdiri disana.
Tangan kanan Ziana memegang tangan kiri Aldo dan tangan Kiri Ziana memegang tangan Kendra yang kini menggenggam tangannya.
Papi Tama tersenyum melihat itu.
Sungguh cerdik kamu, Nak. Kamu mendapatkan dukungan dari dua pemuda tampan ini ternyata.. Beruntungnya dirimu, Nak.
Sementara kakak mu??
__ADS_1
Batin beliau menatap sendu pada Kendra yang kini menatap sayu padanya.
Maafkan aku, Pi. Tapi Ziana saat ini istriku. Dia yang paling membutuhkan dukungan kami berdua saat ini..
Batin Kendra merasa bersalah pada papi Tama karena melihat wajah sendunya. Seakan ia tahu apa arti tatapan mata itu pada kedua tangan Ziana yang kini memegang kedua tangan nya dan juga Aldo.
"Ck. Dasar tidak tahu diri! Sudah untung kami menerima kamu. Jika tidak?"
"Jika tidak kenapa?"
Dduuaarr!!
Kedua orang yang bergumam bersamaan itu tersentak mendengar ucapan Ziana pada mereka berdua.
"Zia..." tegur Uwak Maura lagi dengan gigi menggelutuk yang membuat kedua orang tua Kendra menatap sinis dan mencibirnya.
"Tidak usah mencibirku Ummi Mutia! Jika anda bukan ibu mertua saya, sudah sedari dulu saya mendepak anda!"
Ziana menatap maminya dengan malas. "Apa sih mami? Kok jadi mami sih yang sewot?? Sedangkan besan mami itu biasa aja kan? Kakak ingatkan ya mami. Orang yang mami bela itu belum tentu bisa menolong mami suatu saat nanti! Tetapi orang yang selalu mami cibir dan mami marahi, suatu saat nanti orang itulah yang akan menolong mami!"
Deg!
Deg!
Uwak Maura ingin berbicara lagi pada Ziana, tetapi tidak jadi lantaran Uwak Lana memegang tangan nya.
"Sudahlah sayang. Tidak perlu tegang urat untuk berbicara dengan putri kita. Kamu yang seperti tidak kenal saja dengan tingkahnya!" Lerai Uwak Lana yang membuat Uwak Maura marah padanya.
"Tapi anak kamu itu sudah keterlaluan bang, kalau ngomong sama orang tua! Dikira orang, aku yang tidak bisa mendidik anakku hingga berbicara seperti itu kepada orang tua!" ucapnya setengah berseru pada Uwak Lana yang kini terkekeh pdanya.
"Apa sih?" kesal Uwak Maura lagi padanya.
Uwak Lana terkekeh. "Kamu itu! Jangan memancing ikan di dalam air keruh sayang. Kamu tidak tahu saja bahwa di seberang sana ada ikan besar yang sedang menertawakan mu saat ini karena kamu gagal menangkap ikannya!" Sindir Uwak Lana.
__ADS_1
Yang membuat kedua orang tua Kendra terkatup seketika bibirnya.
Uwak Lana terkekeh lagi. "Kamu itu sedang dipancing oleh ikan besar itu. Sadarlah. Mereka memang senang memancing huru hara di dalam air keruh. Setelah berhasil, dia tertawa. Sedang kamu? Rugi!" sindir papi Lana pada kedua besannya yang kini sedang terkekeh sinis padanya tetapi berhenti saat mendengar sindiran telak darinya.
Sindiran telak itu membuat Uwak Maura jadi mengerti kemana arah ucapan suaminya itu. Ziana terkekeh mendengarnya.
"Papi benar sekali! Ikan itu tertawa keras saat ia sudah berhasil membuat ikan di dalam air keruh itu ribut karena satu umpan yang mereka lemparkan! Cih! Kakak mah tidak mempan dengan itu!" cibirnya pada Uwak Maura yang kini kembali menatap tajam padanya.
"Sudah, sudah. Papi harus segera pergi." Lerainya pada Ziana dan Uwak Maura yang kini saling lempar tatapan mata tajam. "Papi harus segera kembali kerumah. Aggam sedang menunggu papi saat ini. Lana!"
"Iya Bang?"
"Jaga keluarga mu jangan sampai berperang seperti ini lagi. Belum lagi keluar dari rumah sakit tetapi sudah memancing keributan di dalam ruangan ini. Abang tidak tanggung jawab jika sampai nantinya besan kamu.. Dan juga anak kamu berperang gara-gara harta!"
Deg!
"Abang pulang. Papi pulang Ken!" tekannya pada Kendra yang diangguki oleh pemuda itu sambil mengulurkan tangannya pada papi Tama untuk di salimi.
"Hati-hati, Pi." Ucap Kendra
"Hem," balasnya dengan suara datar dan dingin padanya.
Kendra menghela nafasnya. Ziana pun menyalimi papi Tama, Uwak Lana dan Uwak Maura pun demikian. Bagaimana pun beliau tetaplah yang paling tua di dalam keluarga mereka.
Walau beliau menikah dengan adik Uwak Lana, yaitu mami Annisa. Tetap saja tuturan mereka tetap papi Tama yang paling tua.
Karena memang beliau lah yang paling tua sebelum menikah dengan mami Annisa.
...****************...
Mampir lagi Yok!
__ADS_1