Princess Pratama

Princess Pratama
Season 3 ( Hukuman )


__ADS_3

Zayn dan Zayden begitu lega setelah mendengar ucapan istri mereka. Kini, keduanya yakin, jika Jia dan Riya masihlah istri mereka. Terbukti, uang yang keduanya kirimkan tiap bulan, keduanya pakai untuk kehidupan sehari-hari.


Karena keduanya terkurung dan ponsel keduanya di sita oleh dua lelaki sialan itu, maka keduanya kebingungan harus melakukan apa. Karena pergerakan keduanya terbatas, Belum lagi, keduanya hidup dalam ancaman selama empat tahun ini selama di Kairo.


Bagimana caranya, Jia dan Riya ingin menghubungi kelurga jika keduanya selalu di ingatkan pada bocah kecil yang kini sudah besar itu? Apa yang bisa keduanya lakukan selain hanya bisa diam dan bersabar menunggu keajaiban?


Keduanya begitu ketakutan saat nyawa si kembar yang menjadi taruhannya. Maka dari itu keduanya memilih diam dan tidak menghubungi suami mereka. Biarlah mereka di tuduh atau apapun itu. Yang jelas, bagi keduanya permata hati mereka berdua. Mereka masih ingin hidup bersama suami dan juga anak mereka suatu saat nanti saat dua lelaki yang menahan mereka itu tertangkap.


Keduanya sangat berharap jika suami merekalah yang menghukum kedua laki-laki sialan itu. Mengalah dan bersabar, itulah yang kedua lakukan demi bisa melindungi si kembar agar bisa bertemu dengan kedua ayahnya.

__ADS_1


Zayn dan Zayden merangkul istri dan menggendong anak mereka. Satu lagi istri keduanya yang menggendong sembari berjalan menuju ke ruang tamu. Di mana kedua pemuda itu sedang di hukum oleh Oma Annisa dengan tangannya sendiri saat ini.


Kedua pemuda itu berteriak kesakitan kala tangan Oma Annisa menekan titik saraf yang membuat tubuh keduanya bergetar dan kelojotan. Suara teriakan terus bergaung di dalam ruangan itu.


Zayn dan Zayden membawa istri dan anaknya ke dapur. Sambil berjalan, kedua pemuda dan istri mereka menutup mata kedua bocah yang penurut tetapi, sangat ingin tahu itu.


Zayn menghidangkan buah dan minum untuk istri serta anak mereka. Zayn mengambil kotak P3K yang tersedia di dapur. Keduanya membuka niqob sang istri dan mengobati luka lebam dan juga memar di pipi keduanya.


"Sudah, kalian berenam di sini saja. Kami berdua harus ke depan, ya?" ucap Zayn yang diangguki oleh mereka berenam.

__ADS_1


Zayden berlalu lebih dulu di ikuti oleh Zayn di belakangnya. Suara rintihan dan raungan keduanya sudah tidak ada lagi saat ini. Yang terdengar hanya suara semua keluarga sedang berbicara saat ini.


"Apa keputusan istrimu, Nak?" tanya Abi Prince pada keduanya yang kini menatap sinis pada kedua pemuda yang saat ini terkapar tidak berdaya itu.


"Seperti yang Abi duga. Keduanya masih sah istri kami. Keduanya terpaksa menururti sialan tengik ini demi melindungi si kembar. Jika bukan nyawa si kembar yang menjadi taruhannya, maka mereka berdua sudah sedari dulu kita kesini dan menghukum baji ngan tengik ini!" Ucap Zayn menatap tajam pada kedua orang yang terkapar itu.


"Abang benar. Keduanya menekan istri kita untuk tidak menghubungi kita sebagai suami mereka. Keduanya juga melakukan kontak fisk hingga membuat Jia dan Riya terluka di bagian wajah hingga meninggalkan bekas yang begitu terlihat. Beruntung keduanya menggunakan niqob, maka keduanya bisa aman dari siapa pun." Timpal Zayden yang membuat Oma Annisa semakin geram.


Beliau semakin menekan titik yang merupakan terjangkitnya rasa sakit di tubuh keduanya dengan kuat hingga keduanya pingsan setelah berteriak keras.

__ADS_1


"Itu belum seberapa dengan semua yang kalian lakukan pada menantuku! Kalian pikir, kami bodoh. Heh? Datang tanpa membawa persiapan begitu?! Cih! Kalian lupa jika sedang berhadapan dengan siapa saat ini! Saya, ratu King Pratama! Tidak pernah datang dengan kosong dan hanya membawa tubuh saja untuk melawan musuh! Sebelum itu, saya terlebih dahulu mencari tahu seperti apa kalian selama di sini! Mimpi saja kalian berdua bisa melawan kami! Kami bersatu padu! Tidak terpisahkan! Masih beruntung kalian bisa bernapas. Jika Abangku yang di sini, tubuh kalian berdua sudah di cincang dan di berikan pada buaya peliharaannya di Lapas!" Ketus Oma Annisa begitu geram pada kedua orang itu yang sudah tidak sadar lagi.


__ADS_2